Breaking News:

Konflik Rusia Vs Ukraina

Heran AS Ngotot Bantu Ukraina, Eks PM Jepang Yakin Mustahil Rusia Kalah Perang

Mantan PM Jepang merasa mustahil Rusia kalah perang melawan Ukraina. Eks PM Jepang tersebut juga menyindir pemerintahan Jepang yang kini bantu Ukraina

Penulis: anung aulia malik
Editor: Lailatun Niqmah
Anton Novoderezhkin / SPUTNIK/AFP
Presiden Rusia Vladimir Putin saat acara parade hari kemenangan di Saint Petersburg, 9 Mei 2022. 

Survei ini dilakukan di AS dengan responden 1.659 orang dewasa dari 11-15 Januari.

Dalam survei ini mayoritas responden sebesar 35 persen merasa isu inflasi lebih penting untuk dijadikan prioritas.

Kemudian disusul oleh isu imigrasi sebesar 10 persen, kekerasan senjata api sebesar 8 persen, baru isu konflik Ukraina sebesar 3 persen.

Sebelumnya diberitakan, Ukraina saat ini disebut dilarang berdamai dengan Rusia karena terlanjur dibantu oleh Amerika Serikat (AS) dan negara-negara barat lainnya.

Tudingan ini disampaikan oleh Direktur Badan Intelijen Luar Negeri Rusia, Sergey Naryshkin.

Dikutip TribunWow dari rt, Naryshkin menuding AS dan negara-negara barat melarang Ukraina mengambil jalur damai.

Baca juga: Saksikan Eksekusi Mati Prajurit Desersi, Komandan Tentara Bayaran Rusia Kabur dari Ukraina

Presiden Amerika Serikat (AS) Joe Biden mendemonstrasikan peragaan penggunaan senjata, 12 April 2022.
Presiden Amerika Serikat (AS) Joe Biden mendemonstrasikan peragaan penggunaan senjata, 12 April 2022. (YouTube The Independent)

Naryshkin mencontohkan bagaimana perundingan damai antara Rusia dan Ukraina di Istanbul pada Maret 2022 lalu sebenarnya berlangsung lancar karena kedua belah pihak sempat saling setuju namun tetap saja gagal.

Menurut keterangan Naryshkin, AS dan negara-negara barat terlanjur mengirimkan bantuan uang dan senjata kepada Ukraina sehingga meminta Ukraina untuk terus berperang melawan Rusia.

Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky bahkan sempat menandatangani sebuah dekrit yang melarang para pejabat pemerintahannya melakukan negosiasi dengan Rusia.

Langkah terbaru Zelensky adalah mempromosikan sebuah konferensi tingkat tinggi (KTT) yang akan diselenggarakan oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) alias UN di New York pada 24 Februari 2023.

Dalam KTT tersebut diketahui perundingan konflik di Ukraina akan dibahas tanpa kehadiran Rusia.

Pembahasan akan berfokus pada 10 poin rencana damai yang sempat dibahas oleh pemerintah Ukraina.

Isi dari 10 poin tersebut di antaranya adalah meminta Rusia untuk mundur dari teritorial yang telah mereka kuasai, meminta Rusia untuk membayar kerusakan akibat konflik hingga membawa konflik Ukraina ke pengadilan kejahatan perang.

10 poin perdamaian itu telah ditolak oleh Rusia.

Pemerintah Rusia menegaskan terbuka untuk bernegosiasi selama Ukraina mau mengakui status Donets, Lugansk, Kherson, dan Zaporozhye sebagai bagian dari Rusia.

Baca juga: Sebelum Rusia Menyerang, Bos CIA Diam-diam Pergi ke Ukraina Peringatkan Zelensky Terancam Dibunuh

Sumber: TribunWow.com
Halaman 2/4
Tags:
RusiaUkrainaVolodymyr ZelenskyVladimir PutinAmerika SerikatJepang
Rekomendasi untuk Anda
ANDA MUNGKIN MENYUKAI

BERITA TERKINI

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved