Konflik Rusia Vs Ukraina
Untuk Pertama Kalinya Putin Batalkan Konferensi Pers Tahunan Rusia, Diduga Enggan Jawab soal Ukraina
Presiden Rusia Vladimir Putin membatalkan acara konferesi pers akbar tahunan tanpa alasan.
Penulis: Noviana Primaresti
Editor: Lailatun Niqmah
"Ini bukan pilihan kami, kami tidak menginginkan ini," kata Putin Desember lalu saat menjawab pertanyaan tentang potensi konflik dengan Kyiv.
Pada 24 Februari 2022, Putin mengirim pasukan ke Ukraina, dan pada 21 September 2022, dia mengumumkan mobilisasi untuk menopang pasukan Moskow di sana.
Ratusan ribu orang melarikan diri dari Rusia untuk menghindari wajib militer, sementara protes tumbuh di antara etnis minoritas di daerah terpencil dan miskin di Siberia, tempat angkatan bersenjata Rusia telah lama merekrut secara tidak proporsional.
Hal ini telah mengucilkan Rusia di arena internasional, karena Putin mengejar suara-suara kritis lokal yang tidak setuju atas invasi atau mobilisasi itu sendiri.
Kritik di antara orang Rusia telah tumbuh ketika Moskow mengalami kemunduran militer dalam perang, termasuk hilangnya kota besar Kherson di selatan, yang telah dianeksasi secara ilegal oleh Rusia.
Ribuan orang Rusia telah terbunuh sejak invasi pada bulan Februari, masalah yang sebagian besar diabaikan di televisi pemerintah. Perekonomian negara juga terpukul keras karena sanksi global terhadap berbagai oligarki, bank, dan institusi lainnya melonjak.
Baca juga: Spanyol Curiga Rusia Pelaku Insiden Bom Surat, Kedutaan Ukraina Juga Dapat Kiriman Berisi Mata Hewan
AS Soroti Tekad Kyiv untuk Tetap Melawan
Laju pertempuran yang melambat di Ukraina diprediksi akan terus berlanjut selama beberapa bulan ke depan.
Namun, Amerika Serikat menilai keinginan Ukraina untuk melawan Rusia sama sekali tak berkurang.
Meskipun hingga saat ini, Rusia masih terus melakukan serangan yang mengakibatkan putusnya jaringan listrik Ukraina.
Baca juga: Swiss Bekukan Rp 122 Triliun Aset Rusia Buntut Invasinya ke Ukraina, Disinyalir Masih akan Bertambah
Seperti dilaporkan Al Jazeera, Minggu (4/12/2022) Avril Haines, direktur intelijen nasional dalam pemerintahan Presiden AS Joe Biden, menduga Presiden Rusia Vladimir Putin pasti akan terkejut mengetahui militernya tidak mencapai keberhasilan lebih banyak dalam perangnya di Ukraina.
Apalagi mengingat bahwa Rusia sebelumnya merasa yakin bisa menguasai Ukraina dalam beberapa minggu setelah serangan ke Kyiv pada akhir Februari.
"Kami melihat semacam pengurangan tempo konflik dan kami berharap itu mungkin yang akan kami lihat dalam beberapa bulan mendatang," kata Haines dalam Forum Pertahanan Nasional Reagan tahunan di California.
Menurutnya, militer Ukraina dan Rusia akan berusaha untuk memperbaiki dan melengkapi pasokan untuk mempersiapkan serangan balasan setelah musim dingin, tetapi ada pertanyaan apakah Kremlin dapat mencapai tujuannya.
"Kami sebenarnya memiliki cukup banyak skeptisisme, apakah Rusia benar-benar siap untuk melakukan itu atau tidak. Saya berpikir lebih optimis untuk Ukraina dalam jangka waktu itu," katanya.

Baca juga: Serang Pembangkit Listrik, Rusia Disebut NATO Pakai Musim Dingin untuk Buat Warga Ukraina Menderita