Konflik Rusia Vs Ukraina
3.500 Tentara Rusia dan Keluarganya Hubungi Ukraina, Buat Skema Kelabui Putin agar Bebas dari Perang
Pihak Ukraina menciptakan sistem untuk berhubungan secara rahasia dengan tentara Rusia yang ingin menyerah.
Penulis: Noviana Primaresti
Editor: Elfan Fajar Nugroho
TRIBUNWOW.COM - Proyek "I Want To Live" yang diinisiasi pihak Ukraina untuk memfasilitasi aduan dari pihak Rusia telah dimulai pada bulan September 2022.
Dilansir TribunWow.com, dengan menelepon hotline atau memasukkan detail melalui aplikasi perpesanan, tentara Rusia dapat mengatur cara terbaik untuk menyerah kepada pasukan Ukraina.
Pejabat di Kyiv mengatakan mereka memiliki lebih dari 3.500 kontak dari personel tentara Rusia, serta keluarga mereka.
Baca juga: Rusia Minta Bantuan India untuk Atasi Sanksi Barat yang Kian Mencekik Buntut Perang Ukraina
"Kami terutama ingin menyasar sebagian orang yang dimobilisasi paksa yang tidak hanya tidak bisa melawan tetapi juga dilempar sebagai umpan meriam," kata Vitalii Matviyenko, kepala skema "I Want To Live" ini sebelumnya.
"Proyek ini dibuat agar nyawa mereka terjamin jika mereka menyerah secara sukarela."
Seperti dilaporkan BBC, Rabu (29/11/2022), ada peningkatan panggilan dari pihak Rusia secara signifikan sejak Presiden Rusia Vladimir Putin memobilisasi ratusan ribu orang Rusia, dan sejak kota Kherson dibebaskan.
Hal ini dituturkan wanita dengan nama samaran Svitlana, yang menangani panggilan dari tentara Rusia setiap hari di sebuah kantor kecil.
Diterangkan bahwa melalui proyek "I Want To Live", tentara Rusia dapat menghubungi pihaknya melalui telepon atau di sebagian besar aplikasi perpesanan, seperti Telegram dan WhatsApp.
Dia menjelaskan malam hari paling sibuk, ketika pasukan memiliki lebih banyak waktu luang dan dapat menyelinap pergi dan menelepon.
"Pertama-tama, kami mendengar suara, terutama laki-laki," ungkap Svitlana.
"Sering kali sebagian terdengar putus asa, sebagian frustrasi, karena mereka tidak sepenuhnya memahami cara kerja hotline ini, atau apakah skema itu hanya jebakan.
"Ada juga yang merasa ingin tahu karena mereka menelepon bukan dengan niatan untuk menyerah tetapi untuk mencari tahu bagaimana caranya menyerah jika diperlukan. (Panggilan) ini berbeda setiap saat."

Baca juga: Ukraina Klaim Ada 400 Kasus Kejahatan Perang di Kherson, Zelensky Sebut Ulah Tentara Rusia
Svitlana tidak diizinkan memberi tahu berapa banyak orang Rusia yang telah dia bantu, atau tepatnya bagaimana proses detailnya terjadi.
Ia hanya menyebutkan bahwa tentara yang ingin menyerah hanya disuruh membagikan lokasinya sebelum diberikan instruksi lebih lanjut.
Beberapa tentara Rusia juga menghubungi hanya untuk memprovokasi, meskipun menurutnya tidak semua dari mereka percaya klaim tak berdasar Kremlin bahwa Ukraina dikuasai oleh Nazi.
"Kita tidak bisa menghakimi seluruh negara," ujar Svitlana.
"Mayoritas dari mereka mengkhawatirkan hidup mereka."
Svitlana juga mengingat telepon dari seorang pria yang tinggal di Krimea dan telah dimobilisasi untuk berperang melawan keluarganya sendiri, dan negaranya.
Di dinding kantor Svitlana, ada foto sejumlah tawanan perang Ukraina.
Mereka semua dianggap masih hidup, dan hotline ini merupakan inti dari upaya Kyiv untuk membawa mereka pulang.
Begitu mereka menyerah, tawanan perang (PoW) Rusia dapat digunakan sebagai pertukaran di masa mendatang.
Menurut Institute for the Study of War, Kremlin juga melakukan lebih banyak pertukaran tawanan perang saat berusaha menenangkan gelombang kritik dari internal Rusia.
Diperkirakan ada ribuan POW di kedua sisi, tetapi jumlah pastinya tidak jelas.
Baca juga: Ledakan Terjadi di Kedutaan Ukraina di Spanyol, Bom Rakitan Diselipkan dalam Surat, Rusia Terlibat?
Tentara Rusia Ngaku Diperlakukan seperti Hewan
Tentara Rusia yang baru-baru ini dimobilisasi mengecam kondisi tidak manusiawi yang diterima.
Dilansir TribunWow.com, mereka mengaku kekurangan senjata dan mendapat perlakuan buruk oleh petugas Rusia yang berjaga di pos-pos di Ukraina.
Kabar ini beredar setelah sebuah video kesaksian diterbitkan oleh situs berita independen The Insider pada Rabu (5/110/2022) lalu.
Baca juga: AS Bongkar Cara Kotor Tentara Bayaran Rusia Cari Uang di Afrika untuk Biayai Konflik Ukraina
Dalam rekaman tersebut rekrutan baru tentara wajib militer terpaksa harus tidur di lantai.
Mereka dipersenjatai dengan senapan usang dan diperintahkan untuk membawa persediaan mereka sendiri.
Sekitar 500 tentara berkumpul di wilayah Belgorod Rusia barat dekat perbatasan Ukraina tanpa pelatihan dan tanpa pengetahuan tentang di mana mereka dikerahkan.
"Tidak ada yang membutuhkan kita," kata suara orang yang berada di balik kamera seperti dikutip The Moscow Times, Jumat (7/10/2022).
"Kami telah hidup dalam kondisi seperti hewan selama seminggu," keluhnya.

Baca juga: Sebut Putin Biang Kerok Kekalahan di Ukraina, Pensiunan Tentara Rusia: Kita Tidak Bisa Menang
Ia menambahkan bahwa para tentara tidak menerima dukungan materi atau kompensasi finansial sejak dikirim wajib militer.
"Kami telah menghabiskan jumlah uang yang tidak masuk akal hanya untuk memberi makan diri kami sendiri, belum lagi untuk amunisi," ucap pria tersebut.
The Insider melaporkan sebelumnya bahwa istri tentara terpaksa menghabiskan sebanyak $ 2.500 untuk membiayai suami mereka.
Sebuah situs web yang dibuat untuk menjawab pertanyaan tentang mobilisasi menyatakan bahwa mewajibkan tentara untuk membeli peralatan mereka sendiri dinyatakan ilegal.
Situs web yang sama meminta tentara untuk membawa kacamata night vision dan drone mereka sendiri ke medan perang.
Yury Shvytkin, wakil ketua Komite Pertahanan Duma Negara, mengatakan pada hari Kamis, bahwa dia telah meminta kantor kejaksaan militer dan Komite Investigasi untuk menyelidiki insiden tersebut.
Di sisi lain, analis militer Barat telah memperkirakan bahwa ketergesaan Rusia untuk mengerahkan rekrutan baru ke garis depan justru bisa menimbulkan kerugian besar.
Tindakan tersebut bisa mengakibatkan tingkat kematian yang tinggi, pasukan yang tidak dapat diandalkan, dan moral yang rendah.
Bahkan, beberapa rekrutan dilaporkan telah meninggal sebelum ditempatkan.(TribunWow.com/Via)