Breaking News:

Konflik Rusia Vs Ukraina

Sebut Putin Biang Kerok Kekalahan di Ukraina, Pensiunan Tentara Rusia: Kita Tidak Bisa Menang

Pensiunan perang Rusia menyebut Putin sebagai penyebab kekalahan tentaranya di Ukraina.

Penulis: Noviana Primaresti
Editor: Tiffany Marantika Dewi
Tangkapan Video The Guardian
Presiden Rusia Vladimir Putin mengumumkan akan memobilisasi sebagian penduduk Rusia untuk membantu tentara di medan perang Ukraina, Rabu (21/9/2022). Terbaru, Putin dituding menjadi biang kerok kekalahan Rusia di beberapa wilayah Ukraina, Senin (3/1/2022). 

TRIBUNWOW.COM - Presiden Rusia Vladimir Putin dituding bertanggung jawab atas kekalahan tentaranya di sejumlah wilayah Ukraina.

Dilansir TribunWow.com, para veteran tentara Rusia menyebut Vladimir Putin telah menciptakan kondisi yang membuat negaranya tak berdaya.

Para pensiunan itu pun menentang keras konflik di Ukraina dan merasa pesimis terhadap jalannya perang.

Baca juga: Zelensky Resmi Daftarkan Keanggotaan Ukraina ke NATO Buntut Pencaplokan 4 Wilayahnya oleh Rusia

Dikutip The Moscow Times, Senin (3/10/2022), setelah pensiun dari Angkatan Udara Rusia dengan pangkat letnan kolonel, Vitaly Votanovsky terlibat dalam aktivisme politik di kota Krasnodar, Rusia selatan.

Sekarang, dia adalah penentang keras invasi Ukraina dan telah berulang kali ditahan karena memotret kuburan para tentara yang tewas.

"Putin menghancurkan sumber daya mobilisasi militer negara dengan tangannya sendiri dan sekarang si id**t ini telah terlibat dalam perang dengan seluruh dunia," tuding Votanovsky.

"Dia menciptakan keadaan di mana kita tidak bisa menang."

Votanovsky adalah satu dari segelintir veteran militer yang secara terbuka mengkritik serangan Rusia terhadap Ukraina dan mobilisasi wajib militer Kremlin.

Ia dan pensiunan lainnya telah menjadi sasaran undang-undang sensor masa perang dan menerima kemarahan dari mantan rekan.

"Kami (para veteran), semua berbicara dan mendiskusikan apa yang sedang terjadi," kata Nikolai Prokudin (61), veteran invasi Soviet ke Afghanistan yang menentang perang di Ukraina.

"Ada orang-orang dengan pandangan yang identik dengan saya, yang lain kurang radikal. Tetapi kebanyakan orang tertipu oleh propaganda itu," imbuhnya.

Seorang pengunjuk rasa melakukan perlawanan saat ditangkap aparat kepolisian Rusia di Moscow, Rabu (21/9/2022). Pengunjuk rasa tersebut melakukan aksi demo menolak wajib militer yang ditetapkan Presiden Rusia Vladimir Putin untuk mengirim warga sipil ke medan perang Ukraina.
Seorang pengunjuk rasa melakukan perlawanan saat ditangkap aparat kepolisian Rusia di Moscow, Rabu (21/9/2022). Pengunjuk rasa tersebut melakukan aksi demo menolak wajib militer yang ditetapkan Presiden Rusia Vladimir Putin untuk mengirim warga sipil ke medan perang Ukraina. (AFP/ Alexander Nemenov)

Baca juga: Polisi Rusia Dituding Rudapaksa dan Ancam Lecehkan Ramai-ramai Pendemo Anti-Wajib Militer ke Ukraina

Prokudin ikut menulis petisi tahun lalu melawan eskalasi perang di Ukraina dengan teman sesama veteran, Sergei Gulyaev, yang menjabat sebagai perwira intelijen Soviet di Afghanistan.

Sementara petisi itu kemudian tidak ditandatangani oleh banyak veteran yang awalnya mendukung, Gulyaev tidak menghapus namanya.

"Saya tidak tahu apakah saya akan dimobilisasi," ucap Gulyaev.

"Tapi saya pasti tidak akan pergi berperang melawan Ukraina. Lebih baik dipenjara."

Halaman
1234
Tags:
Vladimir PutinRusiaUkrainaTentara
Berita Terkait
ANDA MUNGKIN MENYUKAI
AA

BERITA TERKINI

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved