Terkini Nasional
Sebut Masalah Polri seperti Drama, Arteria Dahlan: Episode Sambo, Tragedi Kanjuruhan, Teddy Minahasa
Anggota Komisi III DPR, Arteria Dahlan, menilai kasus Teddy Minahasa menambah buruk harkat Polri yang sudah jatuh akibat kasus Ferdy Sambo.
Penulis: Noviana Primaresti
Editor: Tiffany Marantika Dewi
Kasus yang melibatkan Teddy Minahasa dinilai ironis oleh Arteria.
Apalagi mengingat jenderal bintang dua tersebut baru saja ditunjuk untuk menjadi seorang Kapolda di Jawa Timur.
"Ini ironi, seorang polisi, perwira tinggi bintang dua yang baru-baru saja dipromosikan oleh seorang Kapolri, ternyata melakukan penjualan barang bukti narkoba," beber Arteria.
"Bagian dari peredaran dan mungkin saja terindikasi kartel atau mafia narkoba."
Baca juga: Ferdy Sambo Bisa Lepas dari Pasal Pembunuhan Berencana? IPW Soroti Kejanggalan Berkas Jaksa Penuntut
Lihat tayangan selengkapnya dari menit ke- 05.10:
Teddy Minahasa Positif Narkoba dan Jual Sabu ke 'Mami'
Arteria Dahlan, anggota Komisi III DPRI RI, mengaku terkejut atas penangkapan Kapolda Jawa Timur Irjen Pol Teddy Minahasa.
Dilansir TribunWow.com, Arteria Dahlan bahkan menyebutkan jika hasil tes Teddy Minahasa ternyata positif menggunakan narkoba.
Namun, Arteria Dahlan juga mengatakan bahwa dirinya sudah mengetahui jaringan narkoba yang melibatkan Teddy Minahasa termasuk sosok 'Mami' yang menjadi bandar besar.
Baca juga: Kronologi Kapolda Jatim Irjen Teddy Minahasa Ditangkap terkait Kasus Narkoba, Kini Terancam PTDH
Sebagaimana diketahui, Kapolri Listyo Sigit Prabowo telah mengumumkan penangkapan Teddy Minahasa.
Jenderal bintang dua yang baru lima hari menjabat Kapolda Jatim menggantikan Irjen Nico Afianta tersebut diduga terlibat dalam jaringan besar narkoba Sumatera Barat.
Hal ini terungkap setelah penyidik menelusuri jaringan narkoba yang menjerat sejumlah anggota polisi termasuk mantan Kapolres Bukittinggi.
Menurut informasi, Teddy Minahasa mendapatkan 10 kg sabu dari Kapolres diduga merupakan hasil penyitaan barang bukti.
Namun kemudian, sebanyak 5 kg sabu dijualnya kembali pada sosok penadah bernama Linda yang dikenal dengan nama julukan Mami.
Transaksi tersebut dilakukan di sebuah Diskotek kota Jakarta yang hingga kini masih dirahasiakan lokasinya.