Breaking News:

Konflik Rusia Vs Ukraina

Polisi Rusia Dituding Rudapaksa dan Ancam Lecehkan Ramai-ramai Pendemo Anti-Wajib Militer ke Ukraina

Polisi Rusia dikabarkan menangkap para aktivis anti wajib militer dan melakukan penyiksaan.

Penulis: Noviana Primaresti
Editor: Lailatun Niqmah
AFP/ Alexander Nemenov
Seorang pengunjuk rasa melakukan perlawanan saat ditangkap aparat kepolisian Rusia di Moscow, Rabu (21/9/2022). Pengunjuk rasa tersebut melakukan aksi demo menolak wajib militer yang ditetapkan Presiden Rusia Vladimir Putin untuk mengirim warga sipil ke medan perang Ukraina. Terbaru, polisi Rusia dituding melakukan pelecehan hingga memberikan ancaman sadis pada para demonstran, Selasa (27/9/2022). 

TRIBUNWOW.COM - Demonstrasi besar-besaran di sejumlah wilayah setelah Presiden Rusia Vladimir Putin umumkan wajib militer untuk perang ke Ukraina.

Dilansir TribunWow.com, kini mulai beredar kabar bahwa pemerintah menggunakan kekerasan untuk menekan aktivis yang menolak.

Bahkan, pihak kepolisian Rusia diduga melakukan kekerasan seksual kepada sejumlah pendemo.

Baca juga: Geger Pria Rusia Tembak Petugas Wajib Militer Perang Ukraina, Buat Warga Berhamburan saat Teriak Ini

Dikutip dari The Moscow Times, Selasa (27/9/2022), seorang aktivis anti-mobilisasi dirawat di rumah sakit di Moskow setelah dia diduga dirudapaksa dan dilecehkan oleh polisi.

Outlet media independen Novaya Gaztea Europe melaporkan bahwa polisi menggerebek rumah Artyom Kamardin dan aktivis anti-perang lainnya, yang merekam pembacaan puisi kritis terhadap militer Rusia di Lapangan Mayakovsky pada hari Minggu.

Rusia telah membungkam kritik publik terhadap operasi militer khusus di Ukraina yang dapat dihukum dengan denda atau hukuman penjara.

Menurut laporan, petugas memukuli Kamardin dengan sangat parah dan memasukkan benda ke anus pemuda tersebut.

Pengacaranya, Leonid Solovyov, membenarkan pernyataan itu kepada surat kabar Kommersant, tetapi mengatakan Kamardin tidak perlu dirawat di rumah sakit.

Saluran Telegram dengan tautan ke layanan keamanan Rusia kemudian menerbitkan video Kamardin dan dua tahanan lainnya yang meminta maaf atas tindakan mereka sembari berlutut.

Kamardin didakwa dengan tuduhan telah menghasut dan melakukan ujaran kebencian.

Warga Dagestan yang mayoritas beragama Islam memprotes kebijakan Presiden Rusia Vladimir Putin yang akan memobilisasi pasukan cadangan ke Ukraina, 25 September 2022.
Warga Dagestan yang mayoritas beragama Islam memprotes kebijakan Presiden Rusia Vladimir Putin yang akan memobilisasi pasukan cadangan ke Ukraina, 25 September 2022. (YouTube Radio Free Europe/Radio Liberty)

Baca juga: Penduduk Wilayah Mayoritas Muslim di Rusia Protes Putin Ogah Dipaksa Perang ke Ukraina

Menurut Solovyov, kejahatan jenis ini dapat menyebabkan kliennya dihukum hingga enam tahun penjara.

Video yang disiarkan oleh outlet berita online independen Sota, Selasa pagi, menunjukkan sosok Kamardin yang berantakan sedang keluar dari kantor polisi Moskow ditemani oleh petugas medis.

Dia tidak mengomentari dugaan pelecehan tersebut.

Alexandra Popova, aktivis anti-perang lain yang ditahan bersama Kamardin, juga dipukuli.

Popova mengaku diancam akan dirudapaksa beramai-ramai oleh penegak hukum Rusia.

Insiden itu terjadi di tengah beberapa protes berkelanjutan terbesar sejak Rusia menginvasi Ukraina, dipicu oleh pengumuman Putin tentang mobilisasi parsial pekan lalu.

Pemantau independen mengatakan setidaknya 2.000 pengunjuk rasa telah ditahan sejak Rabu lalu.

Penerbangan dari Rusia ke tujuan yang tersedia telah terjual habis selama seminggu terakhir, sementara perbatasan darat Rusia dengan negara-negara tetangga mengalami lonjakan lalu lintas dalam seminggu terakhir.

Dalam insiden terpisah dari Kamardin dan Popova, Sota melaporkan Senin malam bahwa aktivis anti-perang Daria Ivanova dicekik, ditendang, ditinju, dijambak dan dipukuli oleh petugas di apartemennya di Moskow.

Ivanova kemudian didakwa dengan tuduhan mendiskreditkan Angkatan Bersenjata Rusia dan diperintahkan hadir untuk diinterogasi.

Baca juga: Rusia Klaim Menangkan Pemilu di Wilayah Jajahan, Sebut Penduduk Ingin Lepas dari Ukraina

Ribuan Orang Ditangkap karena Menolak ke Ukraina

Penduduk Rusia berduyun-duyun turun ke jalan di beberapa kota untuk memprotes wajib militer.

Dilansir TribunWow.com, mereka menolak keputusan Presiden Rusia Vladimir Putin untuk memobilisasi sebagian warga sipil dan pasukan cadangan ke medan perang Ukraina.

Dilaporkan bahwa sejumlah kericuhan terjadi di beberapa titik yang berujung bentrokan antara pendemo dan polisi.

Baca juga: Putin Kirim Warga Sipil Rusia ke Medan Perang hingga Ancam Pakai Nuklir, Begini Tanggapan Ukraina

Hingga saat ini, ribuan orang ditangkap dalam demonstrasi anti-mobilisasi di kota-kota seperti Moskow dan St Petersburg pada Rabu (21/9/2022).

Para pengunjuk rasa di Moskow tersebut meneriakkan "Tidak untuk perang!" dan “Hidup untuk anak-anak kita!".

Sementara itu, di St Petersburg, pengunjuk rasa meneriakkan penolakan terhadap diadakannya mobilisasi atau wajib militer.

"Semua orang takut. Saya untuk perdamaian dan saya tidak ingin harus menembak. Tetapi keluar sekarang sangat berbahaya, jika tidak, akan ada lebih banyak orang," kata seorang pengunjuk rasa, Vasily Fedorov, dikutip Al Jazeera, Rabu (21/9/2022).

"Saya datang untuk mengatakan bahwa saya menentang perang dan mobilisasi," seru mahasiswa bernama Oksana Sidorenko.

"Mengapa mereka memutuskan masa depan saya untuk saya? Saya khawatir atas keselamatan diri saya sendiri, dan saudara saya," tambahnya.

Terlepas dari hukum keras Rusia yang melarang kritik terhadap militer dan perang, protes tetap terjadi di seluruh negeri.

Lebih dari 1.300 orang Rusia ditangkap dalam demonstrasi anti-perang di 38 kota, menurut kelompok hak asasi manusia independen Rusia OVD-Info.

Ribuan orang memadati ruang publik di Rusia untuk melakukan protes atas wajib militer parsial yang diumumkan Presiden Rusia Vladimir Putin, Rabu (21/9/2022). Para pengunjuk rasa tampak berhadapan dengan petugas keamanan yang berusaha menekan massa.
Ribuan orang memadati ruang publik di Rusia untuk melakukan protes atas wajib militer parsial yang diumumkan Presiden Rusia Vladimir Putin, Rabu (21/9/2022). Para pengunjuk rasa tampak berhadapan dengan petugas keamanan yang berusaha menekan massa. (AFP)

Baca juga: Zelensky Sebut Rusia Panik, Tentara Putin Nekat Serang PLTN Ukraina hingga Percepat Referendum

Kantor berita Rusia Interfax mengutip kementerian dalam negeri yang mengatakan telah membatalkan upaya untuk mengorganisir pertemuan yang tidak sah.

Semua demonstrasi dihentikan dan mereka yang melakukan 'pelanggaran' ditangkap dan dibawa pergi oleh polisi sambil menunggu penyelidikan dan penuntutan.

Sebelumnya, gerakan anti-perang Pemuda Demokratik Vesna menyerukan untuk dilangsungkannya demonstrasi.

"Kami menyerukan kepada militer Rusia di unit dan di garis depan untuk menolak berpartisipasi dalam ‘operasi khusus’ atau menyerah sesegera mungkin," kata Vesna di situsnya, merujuk pada perang Rusia-Ukraina.

"Anda tidak harus mati untuk Putin. Kamu dibutuhkan di Rusia oleh mereka yang mencintaimu."

"Bagi pihak berwenang, anda hanyalah umpan meriam, di mana anda akan disia-siakan tanpa makna atau tujuan apa pun. ”

Situs web tersebut juga menyertakan bilik aduan untuk tentara di dalam militer yang tidak ingin berpartisipasi dalam perang.

Demonstrasi ini terjadi setelah pidato televisi Putin pada Rabu pagi, yang menyatakan mobilisasi untuk membela wilayah Rusia dan bahwa Barat ingin menghancurkan negara itu.

"Mereka (Rusia) kalah perang, dan mereka ingin melakukan sesuatu agar tidak kalah,” Oleg Ignatov, seorang analis Crisis Group yang berbasis di Moskow, mengatakan kepada Al Jazeera.

"Saya pikir masalah utamanya adalah mereka kekurangan personel di lapangan, mereka tidak memiliki cukup tentara untuk menyerang Ukraina, atau bahkan melindungi daerah yang diduduki. Mereka ingin menutup kesenjangan dengan Ukraina dan itulah mengapa mereka menyatakan mobilisasi."

Karena terdesaknya pasukan baru-baru ini, militer Rusia harus mencari tambahan tentara dari tempat lain.

Adapun menurut data Google Trends, beberapa jam sebelum pengumuman Putin, pertanyaan 'bagaimana meninggalkan Rusia' melonjak di mesin pencari, seperti halnya pertanyaan 'bagaimana mematahkan lengan sendiri'.

Bahkan, pada hari Rabu, semua penerbangan ke Istanbul dan hampir semua penerbangan ke Yerevan terjual habis.(TribunWow.com/Via)

Berita terkait Konflik Rusia Vs Ukraina

Tags:
RusiaUkrainaKonflik Rusia Vs UkrainaVladimir PutinVolodymyr Zelensky
Berita Terkait
ANDA MUNGKIN MENYUKAI
AA

BERITA TERKINI

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved