Konflik Rusia Vs Ukraina
Penduduk Wilayah Mayoritas Muslim di Rusia Protes Putin Ogah Dipaksa Perang ke Ukraina
Penduduk di Dagestan menolak mengikuti kebijakan Presiden Rusia Vladimir Putin yang memobilisasi pasukan cadangannya untuk berperang di Ukraina.
Penulis: anung aulia malik
Editor: Elfan Fajar Nugroho
TRIBUNWOW.COM - Kebijakan Presiden Rusia Vladimir Putin melakukan mobilisasi pasukan ke Ukraina menuai protes dari masyarakatnya sendiri.
Satu di antaranya adalah dari penduduk di Dagestan yang merupakan wilayah mayoritas muslim di Rusia.
Dikutip TribunWow dari bbc, beredar di media sosial video pria dan wanita penduduk Dagestan melakukan protes terhadap kebijakan mobilisasi pasukan Putin.
Baca juga: 5 Bulan Disiksa dan Hampir Dieksekusi Rusia, Warga Inggris yang Bela Ukraina Ungkap Peran Abramovich
Sebuah organisasi hak asasi manusia independen di Rusia, OVD-Info melaporkan ada 100 penduduk Dagestan yang ditahan saat melakukan aksi protes di Makhachkala.
OVD-Info melaporkan aparat menggunakan senjata kejut dan tongkat pemukul kepada demonstran.
Dalam sebuah video terekam seorang pria melawan saat ditahan oleh seorang anggota polisi.
Karena aksi perlawanannya tersebut, pria itu berakhir dikeroyok.
Di video lain terdengar suara teriakan seorang ibu yang menyatakan tidak terima jika anaknya dipaksa berperang ke Ukraina.
"Rusia diserang? Mereka tidak mendatangi kita. Kita lah yang menyerang Ukraina. Rusia telah menyerang Ukraina! Hentikan perang!" ujar ibu tersebut.
OVD-Info juga menemukan adanya upaya warga di desa Endirey memblokir jalan utama untuk menghalangi petugas yang hendak merekrut warga sipil.
Menurut info dari BBC, Dagestan adalah wilayah Rusia yang penduduknya berkorban paling banyak dalam konflik di Ukraina.
Per bulan September 2022, diperkirakan ada 301 tentara dari Dagestan yang tewas di Ukraina.
Baca juga: Apa yang Terjadi jika Vladimir Putin Nekat Mengebom Ukraina dengan Nuklir Rusia? Ini Kata Para Ahli

Ribuan Orang Ditangkap karena Menolak ke Ukraina
Penduduk Rusia berduyun-duyun turun ke jalan di beberapa kota untuk memprotes wajib militer.
Dilansir TribunWow.com, mereka menolak keputusan Presiden Rusia Vladimir Putin untuk memobilisasi sebagian warga sipil dan pasukan cadangan ke medan perang Ukraina.