Konflik Rusia Vs Ukraina
Kesepakatan Ekspor Gandum Dinilai Bisa Berujung pada Gencatan Senjata, Rusia dan Ukraina Damai?
Kesepakatan ekspor gandum yang telah ditandatangani Rusia dan Ukraina disebut bisa menjadi awal gencatan senjata.
Penulis: Noviana Primaresti
Editor: Rekarinta Vintoko
TRIBUNWOW.COM - Kesepakatan antara Ukraina dan Rusia untuk membuka blokir ekspor gandum bisa berujung pada perdamaian.
Dilansir TribunWow.com, perjanjian ekonomi ini menawarkan jalan bagi gencatan senjata dalam konflik yang telah berlangsung lima bulan.
Hal ini diungkapkan mantan Kanselir Jerman Gerhard Schroeder, yang juga merupakan teman Presiden Rusia Vladimir Putin.
Baca juga: Mahkamah Agung Rusia Nyatakan Resimen Azov sebagai Organisasi Teroris, Ini Nasib Mereka yang Ditahan
"Kabar baiknya adalah bahwa Kremlin menginginkan solusi yang dinegosiasikan," kata Schroeder dilansir Al Jazeera, Rabu (3/8/2022).
Ia menambahkan bahwa dirinya telah bertemu dengan Putin di Moskow minggu lalu.
"Keberhasilan pertama adalah kesepakatan biji-bijian, mungkin itu bisa perlahan diperluas menjadi gencatan senjata," katanya.
Razoni, kapal pengangkut biji-bijian pertama yang meninggalkan pelabuhan Ukraina di masa perang dengan lebih dari 26.000 ton jagung, berlabuh dengan aman di lepas pantai Turki pada hari Selasa.
Sebuah tim inspeksi pejabat Turki, Ukraina, Rusia dan PBB, yang bekerja di bawah Joint Control Center (JCC), mulai memeriksa kapal pada hari Rabu.
Setelah pemeriksaan selesai, kapal akan berlayar menuju kota Tripoli di Lebanon.

Baca juga: Zelensky Sebut Gencatan Senjata dengan Rusia Tanpa Pengembalian Wilayah akan Perpanjang Konflik
Pelonggaran blokade Rusia telah meningkatkan harapan bahwa krisis pangan yang berkembang, di mana jutaan orang di dunia menghadapi kelaparan, dapat digagalkan.
Jika pengapalan pertama mencapai tujuan akhir tanpa hambatan, 16 kapal lainnya diperkirakan akan meninggalkan Ukraina untuk mengekspor gandum ke pasar dunia.
Langkah itu dimungkinkan awal bulan ini ketika menteri pertahanan Rusia Sergei Shoigu dan menteri infrastruktur Ukraina Oleksandr Kubrakov menandatangani perjanjian dengan pejabat PBB dan Turki tentang pembukaan kembali rute pengiriman Laut Hitam yang diblokir.
Sebelumnya, Kyiv dan Moskow saling menyalahkan atas krisis tersebut.
Di sisi lain, Schroeder juga mengatakan solusi untuk masalah seperti Krimea dapat ditemukan dari waktu ke waktu.
"Mungkin tidak lebih dari 99 tahun, seperti Hong Kong, tetapi di generasi berikutnya," ucap Schroeder.
Dia mengatakan alternatif keanggotaan NATO untuk Ukraina mungkin netralitas bersenjata, seperti Austria.
Menurutnya masa depan wilayah Donbas di Ukraina timur, tempat pertempuran sengit berlangsung, bagaimanapun, akan lebih rumit.
“Sebuah solusi berdasarkan model wilayah Swiss harus ditemukan,” kata Schroeder.
Sebagai informasi, Schroeder menjabat sebagai kanselir dari tahun 1998 hingga 2005.
Ia telah mengkritik perang di Ukraina tetapi menolak untuk mengutuk Putin, yang masih dia sebut sebagai teman dekat.
Menurutnya, menjauhkan diri dari Putin sekarang tidak akan membantu situasi.
Baca juga: Rusia Bantah Tuduhan Mulai Konflik di Ukraina, Pejabat Kremlin: Respons Paksa terhadap Kekejaman
Rusia dan Ukraina Sepakati Perjanjian Ekspor Gandum
Rusia dan Ukraina telah menandatangani kesepakatan penting dengan PBB dan Turki untuk melanjutkan pengiriman biji-bijian.
Dilansir TribunWow.com, perjanjian ini dibuat dalam upaya untuk meredakan krisis pangan global di mana jutaan orang menghadapi potensi kelaparan.
Seperti dilaporkan Al Jazeera, Jumat (22/7/2022), Menteri pertahanan Rusia Sergei Shoigu dan menteri infrastruktur Ukraina Oleksandr Kubrakov masing-masing menandatangani perjanjian itu secara terpisah.
Baca juga: Tak Bantah Muat Gandum Ukraina, Menlu Putin Buka Suara soal Kapal Kargo Rusia yang Ditahan Turki
Kesepakatan dengan pejabat PBB dan Turki itu berisi tentang pembukaan kembali rute pengiriman Laut Hitam yang diblokir.
Adapun penandatanganan itu dibuat terpisah, karena para pejabat Kyiv mengatakan mereka tidak ingin mencantumkan nama mereka pada dokumen yang sama dengan Rusia, akibat perang lima bulan yang telah menewaskan ribuan orang dan membuat jutaan orang Ukraina mengungsi.
Berikut rangkuman poin-poin penting dari perjanjian tersebut.
Apa Tujuan dari Kesepakatan itu?
Invasi Rusia ke Ukraina pada 24 Februari menyebabkan blokade de-facto di Laut Hitam, yang mengakibatkan ekspor Ukraina turun menjadi seperenam dari tingkat sebelum perang.
Sebagau informasi, baik Kyiv maupun Moskow adalah salah satu pengekspor biji-bijian terbesar di dunia, dan blokade tersebut telah menyebabkan harga biji-bijian meningkat secara dramatis.
Kesepakatan itu bertujuan untuk membantu mencegah kelaparan dengan mengirim lebih banyak gandum, minyak bunga matahari, pupuk dan produk lainnya ke pasar dunia, termasuk untuk kebutuhan kemanusiaan.
Program Pangan Dunia PBB mengatakan sekitar 47 juta orang sekarang berada dalam tahap 'kelaparan akut' akibat dampak perang.
Sementara para ahli telah lama memperingatkan krisis pangan global yang membayangi jika ekspor biji-bijian Ukraina tetap diblokir.
Ukraina juga perlu mengosongkan silonya menjelang panen yang akan datang, sementara lebih banyak pupuk yang diekspor akan menghindari hasil global yang lebih rendah untuk panen yang akan datang.
Rusia dan PBB juga menandatangani nota kesepahaman yang berkomitmen untuk memfasilitasi akses tanpa hambatan ke pasar global untuk pupuk Rusia dan produk lainnya.

Kapan Ekspor Biji-bijian akan Dilanjutkan?
Menurut Shoigu, ekspor biji-bijian dapat dimulai kembali dalam beberapa hari ke depan.
"Hari ini kami memiliki semua prasyarat dan semua solusi untuk memulai proses ini dalam beberapa hari ke depan," kata Shoigu setelah menandatangani kesepakatan.
Editor Diplomatik Al Jazeera James Bays, yang melaporkan dari markas besar PBB, mengatakan mungkin perlu beberapa minggu sebelum pengiriman pertama biji-bijian meninggalkan Ukraina.
"Akan ada tes implementasi dalam beberapa minggu mendatang,” kata Bays, mencatat simpanan jutaan ton biji-bijian Ukraina di negara itu.
"Ini akan memakan waktu untuk mengeluarkan semua biji-bijian itu, para ahli memperkirakan mungkin sekitar empat bulan," tambahnya.
Kesepakatan itu berlaku selama empat bulan atau 120 hari dan akan diperpanjang secara otomatis kecuali perang berakhir.(TribunWow.com/Via)