Breaking News:

Konflik Rusia Vs Ukraina

Sindir Kelakuan Negara-negara Barat, Erdogan Ungkap Cara Bersikap di Depan Putin

Presiden Turki Erdogan menjelaskan bagaimana seharusnya kepala negara bersikap di hadapan Presiden Rusia Vladimir Putin.

AFP
Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan bertemu dengan Presiden Rusia Vladimir Putin di Istanbul, Oktober 2016. Terbaru, Erdogan menyindir cara negara-negara bersikap terhadap Putin. 

TRIBUNWOW.COM - Turki adalah satu dari beberapa negara yang bersikap netral selama konflik antara Rusia dan Ukraina berlangsung.

Tak hanya netral, Turki juga kerap menjadi pihak penengah antara Ukraina dan Rusia.

Dikutip TribunWow.com dari rt.com, dalam sebuah wawancara media di Turki, Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan menjelaskan bagaimana seorang pimpinan negara harusnya bersikap ketika bertemu dengan Presiden Rusia Vladimir Putin.

Baca juga: Rusia Akui Ingin Gulingkan Pemerintahan Zelensky, Menlu Putin Ungkap Tujuan Perang Ukraina

Erdogan menyindir bagaimana negara-negara barat bersikap kepada Putin.

"Sikap yang Anda perlihatkan kepadanya adalah sikap yang akan Anda dapat darinya," ujar Erdogan.

Erdogan lalu mencontohkan bagaimana Turki mampu menjadi penengah dalam negosaisi gandum antara Rusia dan Ukraina.

Kemudian mengungkit bahwa Turki pernah menjembatani negosiasi damai yang sempat dilakukan di awal konflik.

Sebelumnya diberitakan, Rusia dan Ukraina telah menandatangani kesepakatan penting dengan PBB dan Turki untuk melanjutkan pengiriman biji-bijian.

Dilansir TribunWow.com, perjanjian ini dibuat dalam upaya untuk meredakan krisis pangan global di mana jutaan orang menghadapi potensi kelaparan.

Seperti dilaporkan Al Jazeera, Jumat (22/7/2022), Menteri pertahanan Rusia Sergei Shoigu dan menteri infrastruktur Ukraina Oleksandr Kubrakov masing-masing menandatangani perjanjian itu secara terpisah.

Baca juga: Tak Bantah Muat Gandum Ukraina, Menlu Putin Buka Suara soal Kapal Kargo Rusia yang Ditahan Turki

Kesepakatan dengan pejabat PBB dan Turki itu berisi tentang pembukaan kembali rute pengiriman Laut Hitam yang diblokir.

Adapun penandatanganan itu dibuat terpisah karena para pejabat Kyiv mengatakan mereka tidak ingin mencantumkan nama mereka pada dokumen yang sama dengan Rusia akibat perang lima bulan yang telah menewaskan ribuan orang dan membuat jutaan orang Ukraina mengungsi.

Berikut rangkuman poin-poin penting dari perjanjian tersebut.

Apa Tujuan dari Kesepakatan itu?

Invasi Rusia ke Ukraina pada 24 Februari menyebabkan blokade de-facto di Laut Hitam, yang mengakibatkan ekspor Ukraina turun menjadi seperenam dari tingkat sebelum perang.

Halaman
123
Sumber: TribunWow.com
ANDA MUNGKIN MENYUKAI
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved