Breaking News:

Konflik Rusia Vs Ukraina

Ledek Macron, Pabrik Senjata di Rusia Tantang Prancis Kirim Lebih Banyak Artileri ke Ukraina

Sebuah sindiran disampaikan oleh pabrik senjata asal Rusia kepada Macron terkait artileri tipe Caesar yang dikirim oleh Prancis ke Ukraina.

Penulis: anung aulia malik
Editor: Rekarinta Vintoko
Kolase ARIS MESSINIS / AFP dan AFP/Ludovic Marin
Foto kiri: Presiden Prancis Emmanuel Macron. Foto kanan: senjata CAESAR yang dikirim oleh Prancis ke Ukraina. 

TRIBUNWOW.COM - Prancis diketahui merupakan satu dari beberapa negara yang belakangan ini kerap memberikan bantuan senjata dan perlengkapan militer kepada Ukraina untuk membantu melawan pasukan militer Rusia.

Satu dari beberapa senjata yang dikirim oleh Prancis ke Ukraina adalah artileri atau howtizer bernama CAESAR.

Dikutip TribunWow.com dari rt.com, Prancis diketahui telah mengirimkan beberapa CAESAR ke Ukraina.

Baca juga: Bergelimang Darah, Pengawal Putin yang Ditugasi Membawa Kode Nuklir Rusia Ditemukan Hampir Tewas

Ironsinya, aksi Prancis membantu Ukraina ini justru menuai ledekan dari pabrik senjata terkenal di Rusia bernama Uralvagonzavod, pada Kamis (23/6/2022).

Seorang politisi asal Prancis diketahui sempat berkomentar bahwa pada minggu ini ada dua CAESAR yang berhasil diambil alih oleh tentara Rusia.

Uralvagonzavod mengklaim telah mempelajari CAESAR yang diamankan oleh tentara Rusia dan menilai senjata kiriman Prancis tersebut tidak memiliki kualitas yang baik.

"Tolong sampaikan terima kasih kami kepada Presiden Macron atas hadiah senjata (CAESAR)," tulis Uralvagonzavod di akun Telegram miliknya.

Baca juga: Jika Putin Tewas, Rusia Diprediksi akan Tetap Jadi Ancaman dan Terus Bermusuhan dengan Ukraina

Meledek CAESAR tidak memiliki kualitas yang baik, Uralvagonzavod menyatakan akan mencari cara untuk memanfaatkan spare part dari senjata tersebut.

"Bawakan kami lebih banyak (CAESAR), kami akan membongkarnya," ledek Uralvagonzavod.

Sebelumnya, Macron mengaku alasannya kerap menelepon Presiden Rusia Vladimir Putin adalah demi Ukraina.

Pasalnya, ia mengklaim membawa pesan dari Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky terkait upaya perundingan damai.

Berkunjung ke Ukraina, Macron mengaku mengalami perasaan yang lebih parah dari kecewa atas perbuatan Putin.

Presiden Prancis Emmanuel Macron saat bertemu dengan Presiden Rusia Vladimir Putin di Versailles, Paris, Prancis, 29 Mei 2017.
Presiden Prancis Emmanuel Macron saat bertemu dengan Presiden Rusia Vladimir Putin di Versailles, Paris, Prancis, 29 Mei 2017. (AFP PHOTO / POOL / Francois Mori)

Dilansir TribunWow.com dari Ukrinform, Jumat (17/6/2022), hal ini diungkapkan Macron dalam jumpa pers setibanya di Kyiv.

Berdiri di samping Zelensky, Macron mengungkapkan alasannya kerap berkomunikasi dengan Putin.

Ia mengakui bahwa pembicaraannya dengan Putin belum membuahkan hasil yang diinginkan tetapi menganggap perlu untuk melanjutkan pembicaraan ini.

Macron yang telah mengunjungi Bucha, kota tempat terjadinya kejahatan perang, mengungkapkan hal yang dirasakannya.

"Mengingat jumlah jam yang saya habiskan untuk berbicara dengannya (Putin) dan wawasan saya saat ini, terutama setelah mengunjungi Irpin dan Bucha, jika kita berbicara tentang hasilnya, saya tidak hanya kecewa, itu kata yang tidak cukup kuat ketika anda melihat barbarisme ini dan apa yang menyebabkan semua ini," kata Macron kepada wartawan Ukraina pada hari Kamis (16/6/2022).

Dia mencatat bahwa dia telah berbicara dengan Putin atas inisiatifnya sendiri dan atas nama Prancis, tetapi telah memberi tahu rekan-rekan Uni Eropa tentang komunikasi tersebut setiap saat.

Macron juga mengklaim komunikasinya dengan Putin dijalin atas permintaan Zelensky yang menitipkan pesan tertentu.

"Terkadang saya melakukan itu atas permintaan Presiden Zelensky ketika dia ingin menyampaikan pesan atau proposal tertentu kepada Putin," terang Macron.

Menurut sang Presiden Prancis, dia tidak memiliki ilusi tentang niat pemimpin Rusia itu.

Ia pun membeberkan kunjungannya ke Rusia pada musim dingin silam untuk menemui Putin.

"Itulah mengapa saya bekerja sangat keras untuk mencegah perang ini meletus. Itu sebabnya saya pergi ke Moskow di musim dingin dan menghabiskan begitu banyak waktu dengan orang ini. Karena saya mengerti bahwa setiap tahap baru yang dia jalani, setiap langkah baru akan menciptakan sesuatu yang tidak dapat diubah untuk Ukraina dan Rusia," katanya.

Pada saat yang sama, Macron mencatat masih ada kesempatan meskipun pembicaraan dengan Putin saat ini tidak membuahkan hasil.

"(Pembicaraan) ini masih harus dilakukan karena dengan satu atau lain cara, cepat atau lambat Putin harus berbicara dengan Presiden Zelensky dan bernegosiasi," tutur Macron.

Seperti diberitakan, pada 16 Juni lalu, Presiden Prancis Emmanuel Macron, Kanselir Jerman Olaf Scholz, Perdana Menteri Italia Mario Draghi, dan Presiden Rumania Klaus Iohannis tiba di Ukraina dan mengadakan pembicaraan dengan Presiden Zelensky.

Adapun selama ini, Prancis dinilai berdiri dua kaki dalam konflik Rusia dan Ukraina.

Pasalnya, tak seperti negara Barat yang lain, selama ini Macron tak bersikap tegas dalam mendukung satu di antara dua negara tersebut.

Baca juga: Ungkap Kekejaman Pasukan Azov Ukraina, Sukarelawan Perancis Lihat Sendiri Penyiksaan Tentara Rusia

Baca juga: Perancis Peringati AS atas Pidato Kontroversial Joe Biden agar Putin Dilengserkan, Ini Kata Rusia

Ukraina Tanggapi Permintaan Prancis untuk Tak Permalukan Rusia

Demi tercapainya perdamaian, Presiden Prancis Emmanuel Macron menyarankan agar Ukraina dan seluruh negara di dunia tidak mempermalukan Rusia.

Macron mengatakan, apabila Rusia tidak dipermalukan maka ada kemungkinan perang di Ukraina bisa diselesaikan melalui jalur diplomatik.

Menjawab saran dari Macron, pemerintah Ukraina membalas dengan sindiran.

Dikutip TribunWow.com dari Sky News, diketahui Macron menyampaikan saran tersebut bertepatan dengan 100 hari berlangsungnya konflik antara Rusia dan Ukraina yang terjadi sejak Februari 2022 lalu.

"Kita harus jangan mempermalukan Rusia sehingga ketika tiba hari di mana perang berakhir kita bisa membangun jalan keluar lewat jalur diplomatik," ujar Macron.

Macron meyakini Prancis berperan untuk menjadi penengah dalam antara konflik Rusia dan Ukraina.

Saran dari Macron ini telah dijawab oleh Menteri Luar Negeri Dmytro Kuleba.

"Ajakan untuk menghindari mempermalukan Rusia hanya akan mempermalukan Prancis dan seluruh negara lain yang menyetujui ajakan tersebut," ujar Kuleba.

Kuleba meminta kepada seluruh negara agar fokus mengembalikan Rusia di posisinya semula.

Macron sendiri sudah beberapa kali berkomunikasi langsung dengan Presiden Rusia Vladimir Putin lewat sambungan telepon membahas negosiasi antara Rusia dan Ukraina.

Sebelumnya, setelah berbulan-bulan ketegangan antara Moskow dan Kyiv, Rusia melancarkan invasi ke Ukraina melalui darat, udara dan laut pada Kamis (24/2/2022).

Hal ini memicu kecaman global dan serangkaian reaksi dari seluruh dunia.

Barat dengan cepat menanggapi dengan sanksi yang belum pernah terjadi sebelumnya yang masih berlanjut.

NATO juga hendak menambah anggota dengan mendaftarnya Swedia dan Finlandia, meskipun ada peringatan dari Rusia terhadap langkah tersebut.

Sementara percabangan sistem keuangan dan perdagangan global sedang berlangsung.(TribunWow.com/Anung/Via)

Berita terkait lainnya

Sumber: TribunWow.com
Tags:
Konflik Rusia Vs UkrainaRusiaUkrainaVladimir PutinVolodymyr ZelenskyPrancisEmmanuel Macron
Berita Terkait
ANDA MUNGKIN MENYUKAI
AA

BERITA TERKINI

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved