Konflik Rusia Vs Ukraina
480 Tentara Ukraina Tewas hingga 11 Drone Hancur, Rusia Ungkap Daftar Korban Konflik di Donbas
Pemerintah Rusia buka suara soal jumlah korban dari pihak Ukraina dalam konflik yang terjadi di Donbas.
Penulis: anung aulia malik
Editor: Rekarinta Vintoko
TRIBUNWOW.COM - Kementerian Pertahanan Rusia mengungkapkan data korban dalam konflik melawan pasukan Ukraina yang terjadi di Donbas.
Kemenhan Rusia menyatakan Ukraina menderita kekalahan yang signifikan terutama dalam sektor personil, senjata dan peralatan militer.
Dikutip TribunWow.com dari The Guardian, Ukraina disebut kehilangan dua jet tempur MiG-29, 1 helikopter Mi-8, serta 11 drone.
Baca juga: Rusia Buka-bukaan soal Pemicu Krisis Pangan Dunia, Milisi Ukraina Bakar Persediaan Gandum
Baca juga: Hubungi Pengacara, Tentara Rusia di Ukraina Protes Sudah Berbulan-bulan Tak Bertemu Istri
Rusia juga mengklaim telah menewaskan 480 prajurit Ukraina.
Selain itu, pasukan militer Rusia mengklaim telah berhasil menghancurkan pabrik baja di Kharkov menggunakan misil berakurasi tinggi.
Pabrik baja di Kharkov tersebut diketahui digunakan oleh pasukan militer Ukraina untuk memperbaiki dan merestorasi tank mereka.
Menteri Pertahanan Rusia Sergei Shoigu mengklaim telah membuat lebih banyak kemajuan untuk sepenuhnya merebut Donbass, pada hari Selasa (7/6/2022).
Rusia dikataka telah berhasil menguasai 15 wilayah permukiman baru-baru ini.
Termasuk Svyatogorsk, di mana pasukan Ukraina berhasil didesak mundur oleh Rusia.
Dilansir TribunWow.com dari RT, Selasa (7/6/2022), Svyatogorsk terletak di tepi kiri sungai Severny Donets diklaim oleh Republik Rakyat Donetsk (DPR) sebagai bagian dari wilayahnya.
Pekan lalu, Skete of All Saints, sebuah biara kayu bersejarah yang terletak di kota itu, dibakar dan rata dengan tanah.
Rusia menuduh pasukan Ukraina sengaja membakarnya untuk menutupi mundurnya mereka.
Namun, Pejabat Ukraina balas menyalahkan pasukan Rusia atas insiden tersebut.
Pada hari Senin, Kementerian Pertahanan Rusia mengklaim bahwa pasukan Ukraina telah meledakkan sebuah jembatan di daerah yang sama.
Serangan ini memutuskan hubungan jalan terpendek antara bagian utara utama pemukiman dan sisa wilayah DPR.
Sebagai informasi, Svyatogorsk memang terletak di perbatasan antara dua republik Donbass.
Menurut Shoigu, pasukan Rusia dan sekutu merebut 15 komunitas di dekat sungai saat mereka maju melawan pasukan Ukraina.
Dia mengklaim bahwa keberhasilan telah menghasilkan 'pembebasan' dari 97% wilayah yang diklaim oleh Republik Rakyat Lugansk (LPR).
Menteri kepercayaan Presiden Vladimir Putin ini mengklaim bahwa semua daerah pemukiman Severodonetsk sekarang berada di bawah kendali Rusia, dengan pertempuran terbatas di pinggiran industri kota.
Menurut Shoigu, tentara Ukraina terus menyerah, hingga jumlah tawanan perang telah mencapai 6.489 orang.
Severodonetsk adalah rumah administrasi wilayah Lugansk yang ditunjuk Kiev, yang diperebutkan oleh LPR yang diakui Rusia.
Kota itu menyaksikan pertempuran intensif dalam beberapa pekan terakhir ketika milisi LPR dan pasukan Rusia maju.
Pejabat di Kiev mengklaim pekan lalu bahwa pasukan Rusia telah diizinkan memasuki kota sebelum serangan balik besar-besaran yang dimaksudkan untuk melenyapkan mereka.
Sergey Gaidai, kepala administrasi sekutu Kiev, mengklaim bahwa pasukan Ukraina berhasil merebut kembali separuh kota pada satu titik, tetapi harus mundur kemudian.
Beberapa ahli percaya bahwa peristiwa yang terjadi di Severodonetsk mirip dengan yang terjadi di Mariupol, pelabuhan utama di wilayah yang sekarang dikendalikan oleh Republik Rakyat Donetsk (DPR).
Pembela kota berlindung di pabrik Azovstal selama berminggu-minggu setelah terputus dari pasukan utama Ukraina sebelum akhirnya menyerah.
Hal yang sama mungkin terjadi dengan garnisun Severodonetsk dan pabrik kimia Azot.
Pada kesempatan yang sama, Shoigu juga mengatakan rakyat Mariupol berangsur-angsur kembali ke kehidupan damai.
Pelabuhan telah mulai menerima kapal kargo lagi, sementara layanan publiknya memperbaiki utilitas kota seperti sistem distribusi air dan jaringan listrik.
"Kementerian Pertahanan dan monopoli kereta api Rusia RZhD telah menciptakan kondisi untuk melanjutkan transit penuh antara Rusia, Donbass, Ukraina dan Krimea," kata Shoigu.
Ia menambahkan rekonstruksi rel kereta api mencakup sekitar 1.200 km rel.
Baca juga: Putin Berang Ancam Serang Target Baru di Ukraina jika AS Kirim Pasokan Rudal Jarak Jauh
Baca juga: Pengakuan Tentara Rusia yang Menolak ke Medan Perang di Ukraina: Tak Ingin Membunuh dan Dibunuh
Ukraina sempat Desak Mundur Rusia
Sebelumnya, Ukraina mengklaim telah menguasai setengah dari Severodonetsk, di mana pertempuran sengit dengan Rusia berlangsung.
Militer Kyiv berhasil mendorong mundur upaya Rusia untuk merebut kota timur yang menjadi kunci pertempuran untuk wilayah Donbas.
Meski begitu, pihak Ukraina masih mengantisipasi adanya serangan balasan dari Rusia yang mungkin dilancarkan dalam waktu dekat.
Pernyataan ini disampaikan gubernur regional Luhansk Sergiy Gaidai yang menyatakan Ukraina mengalami kemajuan dalam dua hari terakhir.
Kabar ini dibagikannya melalui sebuah wawancara yang diposting di saluran media sosial resminya.
Puncaknya, pada Minggu (5/6/2022), pasukan Kyiv berhasil menguasai setengah wilayah yang diperebutkan.
Akan tetapi mereka memperkirakan akan adanya serangan balasan besar-besaran dari pasukan Rusia dalam beberapa hari mendatang.
"Angkatan bersenjata kami telah membersihkan setengah (wilayah) pusat industri dari pasukan Rusia," kata Gaidai dilansir TribunWow.com dari The Moscow Times, Minggu (5/6/2022).
"Setengah dari kota sebenarnya dikendalikan oleh pasukan kita."
Sebagai informasi, Severodonetsk adalah kota terbesar yang masih berada di tangan Ukraina di wilayah Luhansk, yang merupakan bagian dari Donbas.
Pasukan Rusia secara bertahap maju ke lokasi itu dalam beberapa pekan terakhir setelah mundur dari daerah lain, termasuk di sekitar ibu kota Kyiv.
Setelah didesak kembali oleh serangan Rusia di kota itu, pasukan Ukraina terus-menerus berusaha balas mendorong mundur.
Di sisi lain, Gaidai mengatakan bahwa pasukan Rusia telah ditugaskan untuk menguasai kota pada hari Jumat, begitu juga arteri transportasi utama yang menghubungkan dua kota terdekat lainnya, Lysychansk dan Bakhmut.
"Kami berharap dalam waktu dekat bahwa semua cadangan yang sekarang mereka miliki aksesnya, semua cadangan, semua personel yang mereka miliki, akan mereka tinggalkan untuk melakukan dua tugas ini," kata Gaidai.
"Dalam lima hari ke depan, akan ada peningkatan besar dalam jumlah penembakan dari artileri berat dari pihak Rusia."
Klaim ini dibuat setelah sehari sebelumnya, Gaidai mengabarkan bahwa pasukannya berhasil menguasai 70 persen wilayah Severodonetsk.
"Rusia menguasai sekitar 70 persen kota, tetapi telah dipaksa mundur selama dua hari terakhir," tulis gubernur regional Lugansk Sergiy Gaidai di Telegram.
"Kota ini terbagi dua. Mereka takut bergerak bebas di sekitar kota."
Gaidai juga mengatakan bahwa pasukan Ukraina telah menangkap delapan tahanan Rusia.
Dia mengatakan bahwa jenderal Rusia Aleksandr Dvornikov telah menetapkan target untuk mengambil kendali penuh atas Severodonetsk pada 10 Juni, atau mengendalikan jalan Lysychansk-Bakhmut yang akan membuka jalan ke Kramatorsk, ibu kota wilayah Donetsk.
"Semua pasukan, semua cadangan berkonsentrasi pada dua tugas ini," ujar Gaidai.
Pada hari Sabtu, tentara Rusia telah mengklaim beberapa unit militer Ukraina ditarik dari Severodonetsk.
Tetapi walikota Oleksandr Striuk mengatakan pasukan Ukraina berjuang untuk merebut kembali kota itu.
"Tentara kami telah berhasil mengerahkan kembali (pasukan), dan membangun garis pertahanan," katanya dalam wawancara yang disiarkan di Telegram, Sabtu.
"Kami saat ini melakukan segala yang diperlukan untuk membangun kembali kontrol total atas kota."(TribunWow.com/Anung/Via)