Konflik Rusia Vs Ukraina
Tak Percaya Rusia, Ukraina Tegas Menolak Gencatan Senjata jika Harus Korbankan Wilayah
Pemerintah Ukraina mengatakan tidak akan menyetujui kesepakatan gencatan senjata dengan Rusia yang melibatkan penyerahan wilayah.
Penulis: Noviana Primaresti
Editor: Lailatun Niqmah
"Suara-suara yang mengkhawatirkan telah muncul, mengatakan bahwa Ukraina harus menyerah pada tuntutan (Presiden Vladimir) Putin,” kata Duda, pemimpin asing pertama yang berpidato di parlemen Ukraina secara langsung sejak invasi Rusia.
"Hanya Ukraina yang berhak memutuskan masa depannya."
Komentarnya muncul saat Rusia terus berupaya mengepung pasukan Ukraina yang mempertahankan Severodonetsk di timur.
Dilansir BBC, Staf Umum Angkatan Bersenjata Ukraina mengatakan dalam pembaruan hariannya bahwa pasukan Rusia berusaha menerobos pertahanan Ukraina untuk mencapai perbatasan administratif wilayah Luhansk paling timur negara itu.
Gubernur regional Luhansk, Serhiy Haidai, mengatakan Rusia telah berusaha untuk masuk ke Severodonetsk dari empat arah yang berbeda.
Menulis di aplikasi perpesanan Telegram, dia mengatakan upaya itu tidak berhasil, tetapi penembakan di daerah pemukiman terus berlanjut.
Dia menambahkan bahwa jembatan yang menghubungkan kota ke Lysychansk di dekatnya telah hancur.
Baca juga: Misteri Keberadaan Jenderal Kanada di Mariupol, Diduga Terlibat Skandal hingga Jadi Tawanan Rusia
Baca juga: Rusia Temukan Bukti Pasukan Nasionalis Ukraina Jadikan Warga Sipil Tameng untuk Perang
Ancaman Bencana Kelaparan Akibat Konflik
Konflik yang terjadi antara Rusia dan Ukraina disebut tidak hanya akan merugikan kedua negara tersebut.
Presiden Serbia Aleksandar Vucic memperingatkan hampir 1/4 atau 25 persen populasi manusia di bumi terancam kelaparan akibat konflik antara Rusia dan Ukraina.
Pernyataan ini disampaikan oleh Vucic pada acara pameran pertanian internasional di Novi Sad pada Sabtu (21/5/2022).
Dikutip TribunWow.com dari rt.com, Vucic memperingatkan, jika sampai terjadi kelaparan maka akan ada masalah baru yang tercipta.
Menurut keterangan Vucic, ancaman kelaparan pada musim dingin mendatang akan menjadi yang terburuk sejak 70 tahun terakhir.
Turut hadir dalam acara tersebut, Presiden Hungaria, Viktor Orban.
Orban dalam acara itu mengungkit naiknya harga bahan dasar makanan akibat konflik Rusia dan Ukraina.