Konflik Rusia Vs Ukraina
Sebut Penolakan Barat Jadi Akar Perang Rusia dan Ukraina, Politisi Jerman: AS Menertawakan Kami
Seorang politisi veteran Jerman mengatakan penolakan Barat untuk mendengarkan kekhawatiran Moskow adalah salah satu penyebab utama konflik Ukraina.
Penulis: Noviana Primaresti
Editor: Rekarinta Vintoko
TRIBUNWOW.COM - Seorang politisi veteran Jerman mengatakan penolakan Barat untuk mendengarkan kekhawatiran Moskow adalah salah satu penyebab utama konflik saat ini di Ukraina.
Ia menuduh Barat mengabaikan kepentingan keamanan Rusia selama bertahun-tahun.
Bahkan, ia menuding Amerika Serikat (AS) dan kroninya mengambil keuntungan dalam perang tersebut.

Baca juga: Jubir Putin Anggap AS Musuh, Sebut Negara Barat Makin Terang-terangan Terlibat di Konflik Ukraina
Baca juga: Dipasok Barat, Ukraina Lancarkan Serangan Balasan, Rebut Kharkiv dan Pukul Mundur Tentara Rusia
Pernyataan ini diungkapkan oleh Oskar Lafontaine, yang dari 1995 hingga 1999 menjabat sebagai ketua Sosial Demokrat di Jerman.
Dilansir TribunWow.com dari RT, Minggu (22/5/2022), Lafontaine berpendapat bahwa AS tengah melakukan pengancaman pada lawan politiknya.
"Untuk waktu yang lama, kita telah berada dalam situasi di mana Rusia dan China telah dikepung secara militer oleh AS," kata Lafointaine dalam sebuah wawancara dengan surat kabar sayap kiri Junge Welt.
Mantan pemimpin SPD mengatakan Moskow telah menjelaskan kepada NATO selama 20 tahun bahwa Ukraina tidak boleh menjadi bagian dari aliansi militer itu.
Menurut Lafontaine, jika negara itu bergabung, berarti rudal AS akan dikerahkan di perbatasan Ukraina-Rusia.
"Kepentingan keamanan ini secara konsisten diabaikan,” kata politisi itu.
"Dan ini adalah salah satu alasan utama pecahnya perang Ukraina.”
Ia juga menolak argumen bahwa setiap negara bebas memutuskan aliansi mana yang akan bergabung.
"Semua orang tahu bahwa AS tidak akan pernah menerima aksesi Kuba ke aliansi militer dengan Rusia, atau penyebaran rudal Rusia di perbatasan AS dengan Meksiko atau Kanada," beber Lafontaine.
Menurutnya, perhatian utama Rusia di Ukraina bukanlah aksesi NATO semata, tetapi prospek rudal yang muncul di perbatasan dengan waktu peringatan minimal.
Lafontaine memecah krisis Ukraina menjadi tiga fase utama, pertama, ekspansi timur NATO yang tiada henti, meskipun ada peringatan dari AS bahwa strategi tersebut berisiko menimbulkan konflik dengan Rusia.
Yang kedua adalah keputusan Presiden Rusia Vladimir Putin untuk menginvasi Ukraina dan yang ketiga adalah bentrokan dengan Joe Biden.