Konflik Rusia Vs Ukraina
Merasa seperti Hewan Buruan, Eks Tentara Inggris Sebut Perang Ukraina Paling Parah dibanding Irak
Berikut pengakuan seorang eks tentara Inggris yang pergi ke Ukraina demi menjadi tentara relawan melawan pasukan Rusia.
Penulis: anung aulia malik
Editor: Lailatun Niqmah
Ketika dia mencoba meyakinkan tentara Rusia untuk membiarkan dia melewati pos pemeriksaan mereka, mereka menahannya.
Selama beberapa hari pertama dia ditahan di ruang bawah tanah sebuah pabrik di desa terdekat, bersama dengan warga sipil lainnya, 40 orang di ruangan seluas 28 meter persegi.
"Kami dipukul dengan senapan, ditinju, dan ditendang. Mereka menutup mata saya dan mengikat tangan saya dengan lakban. Mereka menggunakan Taser dan terus meminta informasi tentang militer," kata Volodymyr dikutip TribunWow.com dari BBC, Jumat (29/4/2022).
"Salah satu tentara itu masih sangat muda, hampir seperti anak-anak. Dia menggunakan Taser di leher, wajah, lutut orang-orang. Sepertinya dia sedang bersenang-senang."
Setelah ditahan selama hampir seminggu di Ukraina, mereka diangkut ke Belarus.
"Mereka mengira kami tidak bisa melihat, tetapi saya melihat desa-desa yang kami lewati, Ivankiv, Chernobyl dan kemudian saya melihat kami melintasi perbatasan," ujar Volodymyr.
Di Belarus, mereka diberi dokumen identitas.
Identitas itu dikeluarkan oleh militer Federasi Rusia dan menggambarkan tempat kelahiran Volodymyr sebagai 'Republik Sosialis Soviet Ukraina'.
Begitulah Ukraina dikenal sebelum pecahnya Uni Soviet pada tahun 1991, sebelum menjadi negara merdeka.
Ini adalah tanda ambisi Rusia di wilayah tersebut.
Menurut Volodymyr, dari Belarusia, mereka dibawa ke sebuah penjara di Rusia.
"Penyiksaan terus berlanjut. Mereka mempermalukan kami, membuat kami berlutut dan memaksa kami dalam posisi yang tidak nyaman."
"Jika kami menatap mata mereka, kami dipukuli. Jika kami melakukan sesuatu secara perlahan kami dipukuli. Mereka memperlakukan kami seperti binatang," ujar Volodymyr.
Suatu malam Volodymyr menghitung ada 72 orang lainnya ditahan bersamanya.
"Kami mencoba untuk mendukung satu sama lain. Beberapa dari kami tidak percaya ini semua terjadi. Rasanya seperti kami telah diangkut ke abad 16 dari abad ke-21," katanya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/wow/foto/bank/originals/2demi-membantu-konflik-melawan-rusia.jpg)