Konflik Rusia Vs Ukraina
Di Medsos Tersebar Bukti Kejahatan Perang Rusia? Ini Langkah yang Diambil Politisi AS
Sejumlah anggota legislatif pemerintahan AS menyoroti isu beredarnya bukti kejahatan perang Rusia di Ukraina yang beredar di media sosial.
Penulis: anung aulia malik
Editor: Rekarinta Vintoko
TRIBUNWOW.COM - Kejahatan perang adalah isu yang sejak awal terjadinya konflik antara Rusia dan Ukraina selalu menjadi pembahasan di kedua belah pihak.
Pemerintah Rusia menuding Ukraina melakukan kejahatan perang sejak terjadinya konflik pada 24 Februari 2022 lalu, begitupula Ukraina menuduh para tentara Rusia melanggar hak asasi manusia saat melakukan invasi.
Isu kejahatan perang ini juga tak luput dari organisasi internasional, hingga negara-negara barat pendukung Ukraina.
Baca juga: Politisi AS Minta Biden Fokus Urus Utang: Ukraina Bukan Teman Kita, Rusia Bukan Musuh Kita
Baca juga: Dituduh Lakukan Kekerasan Seksual ke Anak di Ukraina, Rusia Balik Bongkar Taktik Pasukan Ukraina
Dikutip TribunWow.com dari Sky News, kini sejumlah politisi di AS mulai memperhatikan konten-konten di media sosial terkait konflik antara Rusia dan Ukraina.
Mulai dari YouTube, TikTok, Twitter, hingga Facebook telah mendapat permintaan untuk mengarsipkan konten yang dapat menjadi bukti Rusia melakukan kejahatan perang di Ukraina.
Permintaan ini disampaikan oleh empat anggota kongres AS.
Keempat anggota kongres AS mengirimkan permintaan langsung kepada CEO masing-masing sosmed tersebut.
"Kami menulis untuk mendorong Meta agar mengambil langkah untuk menyimpan dan mengarsipkan konten yang tersebar di platform yang berpotensi menjadi bukti."
"Sebagaimana pemerintah AS dan Hak Asasi Manusia Internasional memonitor investigasi kejahatan perang Rusia, kejahatan terhadap kemanusiaan, dan kejahatan lain di Ukraina."
Sementara itu, pada Jumat (13/5/2022) ini, Ukraina akan melaksanakan proses pengadilan terhadap seorang tentara Rusia atas kasus dugaan kejahatan perang.
Tentara Rusia bernama Sersan Vadim Shyshimarin (21) dituding telah melakukan kejahatan perang di Ukraina karena membunuh seorang warga sipil tak bersenjata.
Kasus ini adalah pertama kalinya kasus kejahatan perang diadili sejak terjadinya invasi Rusia pada 24 Februari 2022 lalu.
Dikutip TribunWow.com dari Sky News, apabila terbukti bersalah, maka Vadim dapat dijatuhi vonis hukuman penjara seumur hidup.
Dalam menghadapi proses pengadilan ini, Vadim didampingi oleh pengacara bernama Victor Ovsyanikov.
Ovsyanikov mengakui kasus yang kini ia tangani adalah kasus yang berat.
Namun ia menegaskan bahwa keputusan akhir akan dibuat di pengadilan di Kyiv/Kiev.
Kendati demikian Ovsyanikov mengaku, dirinya dan kliennya belum memutuskan bagaimana cara yang akan dilakukan untuk melakukan pembelaan.
Dikutip TribunWow.com dari Thesun.co.uk, korban Vadim disebut ditembaki saat sedang bersepeda pada bulan Februari lalu, tepatnya empat hari setelah konflik terjadi.
Informasi ini disampaikan oleh Jaksa Agung Ukraina, Iryna Venediktova.
Saat melakukan invasi, Vadim diketahui tergabung dalam sebuah pasukan tank.
Pada saat mengendarai tank tersebut, Vadim melakukan penembakan terhadap korban di bagian utara Desa Chupakhivka.
Venediktova tidak menjelaskan kapan persidangan Vadim akan dimulai.
Baca juga: Ini Pengakuan Pengacara di Ukraina yang Dampingi Tentara Rusia terkait Kasus Kejahatan Perang
Baca juga: Anaknya Cacat Permanen karena Serangan Rusia, Ibu di Ukraina Salahkan Diri Sendiri Gegara Ini
Saat ini tentara Rusia yang bersangkutan sedang ditahan.
Venediktova pernah menyampaikan ada sekira delapan ribu kasus kejahatan perang yang terjadi di seluruh Ukraina.
Seluruh kasus tersebut adalah pembunuhan warga sipil yang dilakukan oleh tentara Rusia.
Venediktova juga sempat mengidentifikasi 10 tentara Rusia yang diduga terlibat dalam pembantaian warga sipil di Bucha.
Sebelumnya, sebuah tudingan disampaikan oleh Menteri Pertahanan Inggris Ben Wallace kepada Rusia.
Wallace menuduh pasukan militer Rusia menggunakan alat kremasi berjalan untuk menutupi kejahatan perang Rusia selama melakukan invasi di Ukraina.
Ia menyebut sejak Februari lalu pihak Rusia menolak untuk menyampaikan kebenaran seputar konflik di Ukraina.
Dikutip TribunWow.com dari Thesun.co.uk, tudingan tersebut disampaikan oleh Wallace dalam pidato di London pada Senin (9/5/2022).
"Mempertimbangkan fakta adanya alat kremasi berjalan berkeliaran di sekitar medan perang bukan hanya untuk menutupi kejahatan perang Rusia, juga untuk jasad tentara mereka," kata Wallace.
Sebelumnya, informasi serupa sempat disampaikan mantan direktur jenderal Royal United Services Institute (RUSI), Michael Clarke.
Dilansir TribunWow.com dari Sky News, Rabu (9/3/2022), disebutkan dalam deretan konvoi tentara Rusia, terdapat kendaraan yang membawa krematorium bergerak.
Alat tersebut difungsikan untuk menghilangkan jejak para tentara Rusia yang gugur di Ukraina.
"Rusia membawa krematorium bersama mereka, krematorium bergerak. Jenazah akan dikremasi di tempat mereka jatuh," kata Clarke.
"Para tentara yang meninggal tidak akan dikembalikan ke rumah, tetapi ibu mereka akan bertanya-tanya di mana keberadaan mereka."
Pihak Ukraina mengatakan Rusia telah kehilangan 11.000 tentara, tetapi menurut yang dapat diverifikasi menyebutkan angka itu baru mendekati 10.000 orang.
Clarke mengatakan perang ini jauh lebih buruk dibandingkan dengan konflik di Afghanistan.
Saat mengirim pasukan untuk mengatasi konflik, Rusia kehilangan 15.000 tentara dalam waktu sekitar sembilan tahun.
"Hilangnya 15.000 pasukan di tahun 80-an mulai berdampak besar pada opini publik di Uni Soviet, jadi apa efek yang akna terjadi dari kehilangan 10.000 pasukan dalam 10 hari," tutur Clarke.
"Meskipun publik Rusia tidak akan banyak mendengar tentang ini, ibu-ibu tidak tahu apa yang terjadi pada putra mereka."
"Mereka tidak tahu apa yang terjadi pada anak-anak ini karena tidak ada yang dibawa kembali."
Rusia yang disebut salah mengkalkulasi strategi, terus kehilangan pasukannya.
Clarke pun memprediksi pihak Rusia akan kehabisan pasukan hingga segera mengirim tentara tambahan.
"Saat ini, mereka akan kehabisan pasukan yang tersedia, karena mereka menyediakan sekitar 190.000 pasukan untuk operasi ini," terang Clarke.
"Dan mereka semua sekarang ada di sana. Akan ada beberapa ribu yang ditahan, tapi tidak banyak."
"Jadi mereka lebih dari 90% berkomitmen untuk operasi ini."
Rusia diperkirakan akan mengirim lebih banyak pasukan dari timur jauh yang sepertinya akan tiba dalam empat atau lima hari.
"Masalah yang dihadapi Rusia adalah mencoba menduduki negara yang tidak menginginkannya di sana," kata Clarke.
Selain itu, Rusia akan kekurangan pasukan yang harus berjaga di wilayah yang akan diduduki.
Seperti yang terlihat ketika saat ini Rusia berhasil merebut kota Kherson, namun tak bisa memegang kontrol.
"Mereka memiliki tiga sumbu serangan utama: melalui Kiev, di selatan di Mariupol, untuk terhubung dengan utara, dan di barat menuju Odesa," ujar Clarke.
"Semua lini serangan itu sekarang kehabisan tenaga, karena mereka harus meninggalkan begitu banyak pasukan, dan mereka tidak benar-benar memegang kendali."
"Satu-satunya kota yang mereka miliki adalah Kherson di selatan, dan mereka juga tidak benar-benar mengendalikannya."
Baca juga: Pakar Militer Soroti Vladimir Putin yang Tak Sebut Ukraina saat Pidato Hari Kemenangan Rusia
Baca juga: Invasi Rusia ke Ukraina Hari ke-76, Serangan Putin Berlanjut setelah Parade Hari Kemenangan
Citra Satelit Ungkap Kuburan Massal di Mariupol
Sementara itu, citra satelit menunjukkan gambaran sejumlah situs yang tampaknya merupakan pemakaman massal di Mariupol, Ukraina.
Pejabat setempat menuding Rusia telah menyembunyikan bukti kejahatan perang dengan mengubur mayat warga sipil yang terbunuh.
Hal ini dilakukan setelah viralnya kondisi di Bucha dan sekitarnya yang membuat Rusia makin dikecam.
Dilansir TribunWow.com dari The Guardian, Kamis (21/4/2022), wali kota Mariupol, Vadym Boichenko, mengatakan truk Rusia telah mengumpulkan mayat dari jalan-jalan kota pelabuhan dan telah mengangkut mereka ke desa terdekat, Manhush.
Ia mengatakan pasukan Rusia diam-diam melemparkan jasad penduduk ke kuburan massal di sebuah lapangan.
"Para penyerang menyembunyikan bukti kejahatan mereka. Pemakaman ini terletak di dekat sebuah pompa bensin di sisi kiri jalan yang melingkar," ujar Boichenko.
"Rusia telah menggali parit besar, selebar 30 meter. Mereka membuang orang-orang ke situ."
Kemudian pada hari Kamis, perusahaan AS Maxar Technologies merilis gambar yang tampak seperti kuburan massal di daerah yang sama.
Maxar menerangkan situs itu telah diperluas dalam beberapa pekan terakhir untuk menampung lebih dari 200 kuburan baru.
Wali kota memperkirakan bahwa lebih dari 20.000 penduduk Mariupol telah tewas sejak pasukan Rusia mulai menyerang kota tersebut pada hari-hari awal invasi.
Sebagian besar mayat sekarang telah dipindahkan, dengan beberapa dibakar di krematorium bergerak.
Boichenko membantah klaim Putin bahwa kota itu telah diduduki oleh Rusia.
Dia mengatakan tentara Ukraina tetap bersembunyi di pabrik baja Azovstal di tepi kiri Mariupol, dengan antara 300 hingga 1.000 warga sipil, termasuk wanita dan anak-anak.
"Kami tidak tahu persis jumlah warga sipil karena kami belum bisa mengeluarkan mereka. Kami membutuhkan satu hari gencatan senjata agar ini terjadi,"tutur Boichenko.
Warga sipil di Mariupol dikabarkan hidup dalam kondisi putus asa di jaringan terowongan bawah tanah, dan dikelilingi oleh pasukan Rusia.
Boichenko mengatakan bahwa sekitar 100 ribu orang tetap berada di daerah yang diduduki Rusia di Mariupol.
100 ribu lainnya berhasil melarikan diri, sebagian besar dengan mobil pribadi, sementara 40 ribu telah dideportasi secara paksa ke Rusia.
Ia menyebut penduduk yang lainnya ditahan di kamp filtrasi Rusia di luar kota.
"Orang-orang disiksa di kamp-kamp ini. Bukan hanya laki-laki tapi juga perempuan yang dipilih. Ini adalah ghetto yang mengerikan. Mereka mencari orang-orang yang berhubungan dengan kotamadya. Rusia menggunakan metode fasis yang sama yang digunakan oleh Nazi. Ini adalah Rusia yang fasis," ungkap Boichenko.
Wali kota mengatakan 80 orang berhasil keluar pada hari Rabu dengan empat bus dan berhasil menyeberang ke wilayah yang dikuasai pemerintah Ukraina.
Namun, tidak ada evakuasi yang terjadi pada hari Kamis, karena Rusia menembaki titik pertemuan di mana penduduk berkumpul. (TribunWow.com/Anung/Via)