Breaking News:

Konflik Rusia Vs Ukraina

TV Rusia Siarkan Proses Interogasi Tentara Relawan Inggris: Apakah Aku Aman?

TV milik pemerintah Rusia menyiarkan proses interogasi seorang relawan tentara Inggris yang berhasil ditangkap.

Penulis: anung aulia malik
Editor: Tiffany Marantika Dewi
EAST2WEST/Thesun.co.uk
TV Rusia menampilkan sosok relawan tentara asal Inggris bernama Andrew Hill yang menyerah setelah kalah dari tentara Rusia. 

TRIBUNWOW.COM - Tampak sangat ketakutan, seorang relawan tentara Inggris bernama Andrew Hill menjawab sejumlah pertanyaan ketika ditampilkan di sebuah stasiun televisi milik pemerintah Rusia yakni Rossiya 1 TV.

Seusai menyerah ke pasukan militer Rusia, Andrew dipertontonkan dalam kondisi penuh perban di Rossiya 1 TV.

Tampak lelah dan ketakutan, Rossiya menjawab pertanyaan soal keluarganya di Inggris hingga seputar konflik di Ukraina.

Baca juga: Ingin Selamatkan Warga Ukraina, Pria Asal Inggris Ditangkap Pasukan Rusia, Dicurigai Mata-mata

Baca juga: Inggris Khawatir Putin akan Deklarasikan Perang Dunia pada 9 Mei Mendatang, Ini Sebabnya

Dikutip TribunWow.com dari Thesun.co.uk, Andrew awalnya bertanya kapan dirinya bisa pulang ke Inggris.

Orang yang menanyai Andrew menjawab bahwa ia tidak bisa memberitahu kapan Andrew bisa pulang.

"Tetapi Anda dapat tenang Anda aman," jawab orang itu.

Rossiya 1 TV menjelaskan, Andrew menyerah kepada pasukan militer Rusia saat berada di Mykolaiv.

Andrew menyerah seusai kelompoknya yang terdiri dari tentara bayaran telah kalah, dan ia mengalami luka-luka.

Andrew lalu diminta untuk mengirimkan pesan kepada warga Inggris yang ingin pergi ikut berperang di Ukraina.

"Mereka benar-benar perlu untuk memikirkan itu. Ini tidak melibatkan kita," ujar Andrew.

Kemudian Andrew lanjut menjawab pertanyaan soal keluarganya.

"Saya memiliki empat anak, dan saya memiliki seorang kekasih yang saat ini saya kencani," ujar dia.

Andrew mengaku pergi ke Ukraina lewat Polandia sendirian.

Ia juga mengaku tidak dibayar untuk berperang di Ukraina.

"Apakah saya aman?" tanya Andrew di tengah-tengah proses interogasi.

Sang interogator kemudian memastikan bahwa Andrew aman dan tidak akan disakiti.

Andrew lalu mengaku mendapat pertolongan medis dari tentara Rusia terkait luka di tangannya.

Sebelumnya, sebuah peringatan bernada ancaman disampaikan oleh seorang pembawa acara TV atau anchor di Rusia bernama Vladimir Solovyov.

Solovyov mengucapakan kalimat bernada ancaman tersebut kepada Inggris.

Ancaman ini disampaikan seusai Inggris memprovokasi agar Ukraina melakukan serangan di wilayah milik Rusia.

Dikutip TribunWow.com dari Thesun.co.uk, Solovyov menjelaskan bagaimana Inggris dapat musnah apabila Rusia mengerahkan satu misil nuklir bernama Satan 2.

Misil ini diketahui mampu menjangkau jarak hingga 11 ribu mil dan memiliki 15 hulu ledak.

"Ternyata, satu Sarmat (Satan 2) berarti berkurang satu Inggris," ujar Solovyov.

Sebelumnya, pemerintah Rusia menuduh Inggris telah melakukan provokasi mengajak pasukan militer Ukraina agar berani masuk dan menyerang ke wilayah Rusia.

Berdasarkan pernyataan Kementerian Pertahanan Rusia, provokasi ini disampaikan oleh Menteri Pertahanan Inggris, James Heappey.

James disebut mendukung Ukraina menggunakan senjata buatang Inggris untuk mengincar target-target di dalam wilayah Rusia.

Dikutip TribunWow.com dari rt.com, Kemenhan Rusia memperingatkan apabila terjadi serangan di dalam wilayah Rusia maka Rusia akan melakukan serangan balik.

Pernyataan ini disampaikan oleh Kemenhan Rusia pada Selasa (26/4/2022).

"Seperti yang kami peringatkan, pasukan militer Rusia sedang berjaga-jaga sepanjang waktu untuk melakukan serangan balik dengan senjata jarak jauh berakurasi tinggi mengincar pengambil kebijakan di Kiev," ujar Kemenhan Rusia.

Sebelumnya James menyampaikan tidak ada yang salah jika Ukraina menggunakan senjata bantuan Inggris untuk menyerang target yang berada di dalam wilayah Rusia.

Sebelumnya, pemerintah Rusia menyebut pihaknya saat ini tidak hanya berperang melawan Ukraina.

Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov mengatakan, kini Rusia turut memerangi negara-negara Anggota NATO lewat Ukraina.

Lavrov menilai Ukraina telah menjadi negara 'boneka' yang dipersenjatai oleh NATO untuk berperang melawan Rusia.

Dikutip TribunWow.com dari bbc.com, pernyataan ini disampaikan oleh Lavrov pada Senin (25/4/2022).

"Pada dasarnya NATO sedang berperang melawan Rusia melalui proksi dan kini mempersenjatai proksi tersebut (Ukraina)," ujar Lavrov.

Lavrov juga menyindir bagaimana Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky adalah seorang aktor yang handal.

Ia menyebut sebenarnya Ukraina tidak memiliki niat untuk menyelesaikan konflik lewat jalur negosiasi.

"Jika Anda melihat dan membaca dengan penuh perhatian tentang apa yang dia (Zelensky) katakan, Anda akan menemukan ribuan kontradiksi," ujar Lavrov.

Sebagai informasi, NATO merupakan aliansi militer yang dibentuk oleh Pakta Atlantik Utara (juga disebut Pakta Washington) pada tanggal 4 April 1949.

Pada awal berdirinya, NATO memiliki 12 anggota, termasuk Amerika Serikat (AS), Kanada, Inggris, dan Prancis.

Anggota NATO setuju untuk saling membantu jika terjadi serangan bersenjata terhadap salah satu negara anggota.

Tujuan awal NATO adalah untuk melawan ancaman ekspansi Soviet di Eropa setelah Perang Dunia II.

Sementara itu Turki mengatakan ada kecurigaan bahwa pihak-pihak tertentu mencari keuntungan dari konflik Rusia dan Ukraina.

Baca juga: Rusia Sebut Potensi Perang Nuklir Terus Meningkat: Ada Banyak yang Menginginkannya

Tanpa peduli kondisi Ukraina, negara yang disebut termasuk dalam sekutu NATO itu hanya ingin pelemahan Rusia.

Untuk itu, negara yang tak disebutkan namanya itu berusaha untuk memperpanjang jalannya perang.

Hal ini diungkapkan Menteri Luar Negeri Turki Mevlut Cavusoglu saat tampil dalam sebuah acara TV, Rabu (20/4/2022).

Ia mengatakan Turki ingin merundingkan diakhirinya konflik di Ukraina, sementara beberapa anggota NATO lainnya justru ingin melihatnya berlarut-larut sebagai cara untuk merugikan Rusia.

Dalam kesempatan yang sama, Cavusoglu membahas keputusan Turki untuk tidak memberikan sanksi kepada Moskow.

Ia juga membahas mengapa pembicaraan di Istanbul antara Rusia dan Ukraina dianggap gagal.

"Ada negara-negara di dalam NATO yang menginginkan perang Ukraina berlanjut. Mereka melihat kelanjutan perang sebagai pelemahan Rusia. Mereka tidak terlalu peduli dengan situasi di Ukraina,” kata Cavusoglu dilansir TribunWow.com dari media Rusia RT, Rabu (20/4/2022).

Dalam artikel tersebut dicantumkan juga kecurigaan mengenai pihak yang dimaksud Turki.

Antara lain yakni Amerika Serikat yang selama ini dianggap vokal menentang Rusia.

Dikutip pula perkataan Presiden AS Joe Biden pada awal bulan ini yang menyebut bahwa konflik di Ukraina bisa berlanjut untuk waktu yang lama.

Sementara itu, Kanselir Jerman Olaf Scholz juga mengatakan pada Selasa (19/4/2022), bahwa Barat bersatu untuk tidak membiarkan Rusia menang dan bertekad terus mempersenjatai militer Ukraina sehingga dapat terus mempertahankan diri terhadap serangan Rusia.

Di sisi lain, Turki telah memutuskan untuk tidak bergabung dengan sanksi yang dijatuhkan terhadap Rusia.

Pasalnnya, Cavusoglu menilai sanksi tersebut hanya bersifat sepihak, tidak seperti sanksi mengikat yang diputuskan di PBB.

Ankara mengartikulasikan posisinya pada hari pertama konflik Ukraina, yaitu melanjutkan kontak diplomatik dengan kedua belah pihak, sebagai negara yang dipercaya kedua belah pihak.

Turki tidak berharap banyak setelah pembicaraan pertama Rusia-Ukraina di Antalya.

Namun, Cavusoglu mengaku memiliki harapan yang tinggi setelah pembicaraan lanjutan di Istanbul, .

Namun, Ukraina mundur dari kesepakatan yang dicapai di sana setelah gambar dugaan pembantaian di Bucha, yang ditudingkan Kiev dilakukan oleh pasukan Rusia.

Cavusogly juga menjelaskan permintaan Zelensky untuk mendapat jaminan keamanan dari NATO.

"Tidak ada yang setuju dengan permintaan Zelensky untuk jaminan Pasal 5 NATO," kata menteri itu, merujuk pada klausul pertahanan bersama aliansi tersebut.

"Tidak ada negara yang menerima proposal ini. AS, Inggris, dan Kanada juga tidak menerima ini. Tentu saja, Turki tidak menerima ini. Pada prinsipnya, tidak ada yang menentang jaminan ini, tetapi ketentuannya tidak jelas."

Baca juga: Rusia Berpotensi Tingkatkan Serangan Siber di Tengah Kekhawatiran atas Ancaman Bom Nuklir

Baca juga: Video Peluncuran Rudal Setan Andalan Putin, Disebut 1.000 Kali Lebih Kuat dari Bom Hiroshima

(TribunWow.com/Anung/Via)

Berita terkait Konflik Rusia Vs Ukraina

Sumber: TribunWow.com
Tags:
RusiamiliterInggrisUkraina
Rekomendasi untuk Anda
ANDA MUNGKIN MENYUKAI

BERITA TERKINI

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved