Konflik Rusia Vs Ukraina
Ucap Siap Gunakan Nuklir? Ini Ancaman Terbaru Putin soal Konflik Ukraina
Presiden Rusia Vladimir Putin kembali mengeluarkan ancaman terhadap konflik di Ukraina.
Penulis: anung aulia malik
Editor: Rekarinta Vintoko
TRIBUNWOW.COM - Sebuah ancaman terbaru dikeluarkan oleh Presiden Rusia Vladimir Putin.
Ancaman ini disampaikan oleh Putin saat berbicara di St Petersburg, Rusia, pada Rabu (27/4/2022).
Dalam ancaman yang disampaikan oleh Putin, diduga Putin merujuk penggunaan senjata nuklir.
Baca juga: Pengakuan Jurnalis Inggris Kabur dari Kejaran Drone Pembunuh Rusia saat Liputan di Ukraina
Baca juga: Dituduh Ukraina Perlakukan Buruk Tahanan Perang, Putin Ucapkan Ini saat Dikunjungi Sekjen PBB
Dikutip TribunWow.com dari bbc.com, ancaman ini diketahui disampaikan oleh Putin kepada pihak luar yang mencoba mengintervensi.
"Jika seseorang dari luar mencoba untuk mengintervensi di Ukraina dan menyebabkan ancaman strategis kepada Rusia, respons kami akan secepat kilat," kata Putin.
"Kami memiliki alat (untuk merespons) yang tidak bisa dibanggakan oleh siapapun. Dan kami tidak akan membual tentang itu, kami akan menggunakannya jika perlu," ucapnya.
Kata-kata Putin ini diduga merujuk kepada penggunaan senjata nuklir dan rudal balistik.
Sementara itu, Menteri Luar Negeri Rusia, Sergei Lavrov mengungkap adanya potensi penggunaan senjata nuklir di konflik Rusia-Ukraina.
Dikutip dari BBC Indonesia, Menlu Rusia itu tak menampik kemungkinan konflik yang memburuk.
Oleh karena itu, Sergei Lavrov berharap adanya prospek kesepakatan damai antara Rusia dan Ukraina.
Dia mengatakan Moskow ingin menghindari peningkatan risiko konflik semacam itu.
"Kami memegang posisi kunci, di mana kami mempertimbangkan berbagai hal. Risikonya sekarang cukup besar," kata Lavrov kepada Russian First Channel, Senin (26/4/2022).
"Saya tidak ingin dengan sengaja meningkatkan risiko itu. Banyak pihak akan menyukainya. Bahayanya serius, nyata, dan kita tidak boleh meremehkannya."
Lavrov juga menuduh Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky "berpura-pura" ingin bernegosiasi, menyebutnya "aktor yang baik".
"Jika Anda memperhatikan dan membaca dengan seksama apa yang dia katakan, Anda akan menemukan ribuan kontradiksi," kata Lavrov.
Pekan lalu, Lavrov mengatakan, Moskow berkomitmen untuk menghindari perang nuklir.
Pada Senin, Menteri Luar Negeri Ukraina Dmytro Kuleba menulis di akun Twitternya, bahwa komentar terakhir Lavrov mengindikasikan bahwa Rusia telah kehilangan "harapan terakhirnya untuk menakut-nakuti dunia, agar tidak mendukung Ukraina".
"Dengan membicarakan bahaya 'nyata' dari Perang Dunia III, berarti Moskow merasakan kekalahan di Ukraina," cuitnya.
Baca juga: Rusia Sebut Potensi Perang Nuklir Terus Meningkat: Ada Banyak yang Menginginkannya
Eskalasi konflik Rusia dan Ukraina dipicu oleh kiriman persenjataan dari negara-negara Barat, yang tergabung dalam aliansi NATO, ke Ukraina.
Dalam sebuah wawancara yang disiarkan pada Senin, Lavrov mengatakan: "Senjata-senjata ini akan menjadi target yang sah bagi militer Rusia yang bertindak dalam konteks operasi khusus."
Lavrov juga mengatakan kepada televisi pemerintah: "NATO, pada dasarnya, terlibat dalam perang dengan Rusia melalui proxy dan mempersenjatai proxy itu. Perang berarti perang."
Beberapa hari setelah invasi Rusia dimulai pada 24 Februari, Presiden Rusia Vladimir Putin memerintahkan pasukan nuklirnya untuk bersiaga.
Amerika Serikat dan aliansinya di NATO mengatakan mereka tidak ingin melakukan intervensi militer secara langsung di Ukraina, demi mencegah risiko Perang Dunia III.
CIA Peringatkan Putin akan Gunakan Nuklir
CIA memperingatkan bahwa Presiden Rusia Vladimir Putin dapat segera menggunakan senjata nuklir.
Hal ini dipicu kekalahan pasukan Rusia yang terdesak hingga ke timur Ukraina.
Namun, badan intelejen Amerika Serikat itu mengatakan Putin hanya akan menggunakan senjata nuklir taktis atau semacamnya dengan daya ledak rendah.
Dilansir TribunWow.com dari The Moscow Times, Jumat (15/4/2022), kabar ini disampaikan direktur CIA William Burns, saat berpidato di Universitas Teknologi Georgia, Atlanta.
"Mengingat potensi keputusasaan Presiden Putin dan kepemimpinan Rusia, mengingat kemunduran yang mereka hadapi sejauh ini, secara militer, tidak ada dari kita yang dapat menganggap enteng ancaman yang ditimbulkan oleh potensi penggunaan senjata nuklir taktis atau senjata nuklir berdaya rendah, " kata Burns, Kamis (14/3/2022).
Sebelumnya, Kremlin sempat menyatakan pasukan nuklir Rusia dalam posisi siaga tinggi tak lama setelah serangan dimulai pada 24 Februari.
Hanya saja, AS belum melihat banyak bukti praktis dari informasi yang akan menyebabkan kekhawatiran internasional itu.
Ia mengaku prihatin dan menekankan bahwa Presiden AS Joe Biden hingga saat ini masih menahan diri agar tak muncul ekskalasi perang lebih parah.
"Kami jelas sangat prihatin. Saya tahu Presiden Biden sangat prihatin untuk menghindari perang dunia ketiga, tentang menghindari ambang batas di mana konflik nuklir menjadi mungkin," ujar Burns.
Diketahui, Rusia memiliki banyak senjata nuklir taktis, yang kurang kuat daripada bom yang dijatuhkan Amerika Serikat di Hiroshima selama Perang Dunia II.
Burns yang pernah menjabat sebagai duta besar AS di Rusia, menilai Putin sebagai sosok yang penuh dendam, ambisi dan selalu merasa tidak aman.
"Setiap hari, Putin menunjukkan bahwa kekuatan yang menurun dapat setidaknya mengganggu seperti kekuatan yang meningkat," pungkas Burns.
Koper Berisi Tombol Pengendali Nuklir
Presiden Rusia Vladimir Putin terlihat menghadiri pemakaman di Moskow dikelilingi pengawal militernya, Jumat (8/4/2022).
Namun anehnya, seorang pengawal yang mengikuti Putin terlihat membawa koper berwarna hitam.
Disinyalir, koper tersebut merupakan tombol pengendali nuklir yang harus selalu di dekat Putin selama krisis Ukraina masih berlangsung.
Dikutip TribunWow.com dari The Sun, Minggu (10/4/2022), Putin datang ke Katedral Kristus Juru Selamat di Moskow, untuk memberikan penghormatan kepada ultra-nasionalis Vladimir Zhirinovsky.
Baca juga: Putin Disebut Tak Lagi Ingin Selesaikan Konflik Rusia-Ukraina secara Damai
Putin yang berpakaian hitam, membuat tanda salib di depan peti mati Zhirinovsky yang terbuka.
Zhirinovsky yang merupakan pemimpin politik dan sekutu Putin, diyakini telah menderita Covid-19 sebelum dirawat di rumah sakit.
Sementara itu, di belakang Putin, seorang perwira tinggi militer terlihat seperti membawa peralatan peluncuran untuk rudal strategis Kremlin.
Hal ini dianggap sebagai tanda mengerikan bahwa Putin dapat menggunakan senjata nuklir dalam invasi ke Ukraina.
Adapun potret dan video Putin itu muncul tujuh minggu setelah sang presiden menyiagakan senjata nuklirnya setelah mengecam sanksi dari aliansi NATO.
Pada saat Putin masuk, para pelayat diminta untuk mengosongkan ruangan.
Sebaliknya, ketika mantan Presiden Rusia Dmitry Medvedev juga memberikan penghormatan, banyak pelayat lainnya hadir dan diizinkan untuk memadati gereja.
Sebagai informasi, koper rahasia itu diperkirakan berisi peralatan peluncuran untuk rudal strategis Kremlin.
Tas yang memiliki kode kunci pribadi itu, biasanya di bawah pengawasan 24/7 dan sepenuhnya mengontrol persenjataan nuklir Moskow.
Pengendali nuklir ini dilaporkan diawasi oleh petugas keamanan bersenjata yang menemani Putin ke mana pun dia bepergian.
Tas kerja, yang disebut Cheget dalam bahasa Rusia, dikembangkan pada awal 1980-an dan ditunjukkan kepada dunia untuk pertama kalinya pada 2019, dengan kontennya dilihat dari dekat di TV.
Menurut media lokal, meskipun kasus ini sering terlihat di tangan seorang ajudan bersama Putin, sebenarnya ada tidak hanya satu tetapi tiga.
Masing-masing dapat diakses oleh tiga pejabat paling tinggi di Federasi Rusia.
Pengamat mengatakan aspek yang paling tidak biasa dari tas kerja adalah bahwa tombol peluncuran sebenarnya berwarna putih dan bukan merah seperti yang diperkirakan.
Tas ini diperlihatkan di televisi secara rinci untuk pertama kalinya oleh Zvezda, saluran TV yang dijalankan oleh Kementerian Pertahanan Rusia, pada tahun 2019.
Menggambarkan cara kerja bagian dalam tas nuklir, pembawa acara TV berkomentar bahwa ini adalah pertama kalinya perangkat semacam itu diizinkan untuk dibuka di televisi.
"Salah satu komponen tas kerja adalah kartu flash. Itu individual, dan itu adalah salah satu kunci yang dimasukkan (ke dalam sistem)," terang Presenter TV Alexei Yegorov.
Dia menambahkan bahwa mereka tidak diizinkan untuk mengungkapkan informasi sensitif lainnya yang terkait dengan fungsi koper. (TribunWow.com/Anung/Via)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/wow/foto/bank/originals/2merujuk-ke-senjata-nuklir-pada-rabu-2742022.jpg)