Breaking News:

Konflik Rusia Vs Ukraina

Datangi Putin ke Moskow, PBB Turun Tangan Langsung Atasi Konflik Rusia dan Ukraina

Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa, Antonio Guterres, telah berada di Moskow, Selasa (26/4/2022).

Penulis: Noviana Primaresti
Editor: Tiffany Marantika Dewi
YouTube/Global News
António Guterres, Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa dalam konferensi PBB pada Senin (13/9/2021). Terbaru, Guterres dikabarkan telah tiba di Moskow, Rusia, untuk bertemu Presiden Rusia Vladimir Putin, Selasa (26/4/2022). 

TRIBUNWOW.COM - Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa, Antonio Guterres, telah berada di Moskow, Selasa (26/4/2022).

Ia dijadwalkan untuk bertemu dengan Presiden Rusia Vladimir Putin dan Menteri Luar Negeri Rusia, Sergei Lavrov.

Kedatangan Guterres ke Moskow tersebut membawa misi penting untuk membahas perundingan damai antara Rusia dan Ukraina.

Presiden Rusia Vladimir Putin hadir di Moskow, Rusia dalam acara perayaan aneksasi Crimea, Ukraina, 18 Maret, 2022.
Presiden Rusia Vladimir Putin hadir di Moskow, Rusia dalam acara perayaan aneksasi Crimea, Ukraina, 18 Maret, 2022. (YouTube BBC NEWS)

Baca juga: Moldova Adakan Rapat Darurat setelah Alami Rentetan Pengeboman, Bersiap Hadapi Invasi Rusia?

Baca juga: Rusia Sebut AS Justru Tak Ingin Konflik di Ukraina Berakhir, Ajak Negara-negara Barat Ikut Terlibat

Dilansir TribunWow.com dari TASS, Selasa (26/4/2022), sebelumnya Guterres telah mengirim pesan ke Moskow dan Kiev mengenai kedatangannya.

Ia berencana bertemu secara terpisah dengan Putin dan Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky.

Tindakan ini disebut sebagai bentuk campur tangan PBB lantaran melihat konflik yang kini justru makin memanas.

Guterres mengagendakan pertemuan dengan Putin terlebih dahulu sebelum mendatangi Kiev.

Ia dikabarkan sudah sampai di Moskow dan melakukan pembicaraan dengan Lavrov tentang perlunya gencatan senjata.

Kepala PBB akan bertemu dengan Vladimir Putin hari ini.

"Kami sangat ingin menemukan cara demi menciptakan kondisi untuk dialog yang efektif, menciptakan kondisi untuk gencatan senjata sesegera mungkin, menciptakan kondisi untuk solusi damai," kata Sekjen PBB.

"Saya tahu bahwa hari ini kita menghadapi situasi yang kompleks di Ukraina dan ada interpretasi yang berbeda tentang apa yang terjadi."

"Itu tidak membatasi kemungkinan dialog yang sangat serius tentang cara terbaik untuk meminimalkan penderitaan," tambahnya.

Dilansir TribunWow.com dari Aljazeera, Kamis (21/4/2022), pertemuan tersebut dilakukan di tengah krisis kemanusiaan yang terjadi di Ukraina.

Juru bicara PBB, Stephane Dujarric, melalui sebuah pernyataan menuturkan keputusan tersebut sebagai implementasi keprihatinan mendalam yang dirasakan Guterres atas kondisi di Ukraina.

"Sekretaris Jenderal mengatakan, pada saat bahaya dan konsekuensi besar ini, dia ingin membahas langkah-langkah mendesak untuk mewujudkan perdamaian di Ukraina dan masa depan multilateralisme berdasarkan Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa dan hukum internasional," kata Dujarric, Rabu (20/4/2022).

Ini dilakukan setelah sehari sebelumnya, Guterres menyerukan gencatan senjata empat hari selama Pekan Suci Kristen Ortodoks untuk memungkinkan evakuasi warga sipil dan pengiriman bantuan kemanusiaan ke daerah-daerah yang terkena dampak parah.

"Kebutuhan kemanusiaan sangat mendesak. Orang-orang tidak memiliki makanan, air, persediaan untuk merawat yang sakit atau terluka atau hanya untuk hidup sehari-hari," kata Guterres di New York.

Diketahui, invasi Rusia pada 24 Februari ke Ukraina telah menewaskan ribuan orang dan menyebabkan lebih dari 12 juta orang membutuhkan bantuan kemanusiaan.

Sementara, sekitar lima juta penduduk telah meninggalkan Ukraina.

Sejak memulai apa yang disebutnya operasi khusus untuk demiliterisasi Ukraina, Rusia telah membom kota-kota Ukrana.

Puing-puing berserakan dan ratusan mayat sipil telah ditemukan di kota-kota setelah pasukan Rusia mundur dari daerah dekat Kyiv.

Moskow, yang pekan ini meluncurkan serangan skala penuh di timur Ukraina, membantah menargetkan warga sipil.

Tanpa memberikan bukti, Rusia menuding bahwa bukti-bukti kekejaman di Ukraina hanyalah rekayasa.

Baca juga: Rusia Tuding PBB Tidak Netral dalam Konflik di Ukraina: Benar-benar Sangat Jelas

Baca juga: Rusia Tanggapi Penangguhannya di Dewan HAM PBB, Wakil Putin Sebut akan Gunakan Segala Cara

Kata PBB soal Potensi Perang Nuklir

Sejumlah pihak semakin khawatir Rusia akan menggunakan senjata nuklir dalam konflik melawan Ukraina yang kini telah memasuki babak baru.

Ukraina dan Rusia telah mengumumkan babak baru perang akan dilakukan di daerah Donbass.

Terkait penggunaan senjata nuklir, pemerintah Rusia telah menyatakan sampai saat ini masih mempertimbangkan untuk menggunakan senjata konvensional.

Dikutip TribunWow.com dari rt.com, Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) menyatakan tidak pernah terpikirkan akan terjadi perang nuklir di masa-masa sekarang ini.

Pernyataan ini disampaikan oleh Stephane Dujarric selaku juru bicara Sekjen PBB Antonio Guterres pada selasa (19/4/2022).

Seorang reporter menanyakan kepada Dujarric apakah PBB memilki persiapan tertentu apabila senjata nuklir dan kimia digunakan dalam konflik antara Rusia dan Ukraina.

Enggan menjawab soal itu, Dujarric menyatakan tidak pernah terpikirkan akan ada perang nuklir.

"Pikiran tentang konflik nuklir saja tidak terpikirkan. Tak perlu dikatakan lagi bahwa penggunaan segala jenis senjata kimia atau biologi akan menjadi kekejaman dan bertentangan dengan hukum internasional," paparnya.

Dikutip TribunWow.com dari Sky News, eks duta besar Inggris untuk Rusia mengutarakan kekhawatirannya bahwa bukan tidak mungkin Rusia akan menggunakan senjata nuklir.

Kekhawatiran ini telah dijawab oleh pemerintah Rusia.

Pada Selasa (19/4/2022), Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov ditanya apakah Rusia mempertimbangkan menggunakan senjata nuklir di Ukraina.

Jawaban yang diberikan oleh Lavrov cenderung abu-abu dan tidak tegas.

"Dalam tahap ini, kita mempertimbangkan opsi menggunakan senjata konvensional," ujar Lavrov.

Sky News mendeskripsikan jawaban dari Lavrov dapat diartikan sebagai ancaman.

Konflik antara Rusia dan Ukraina diprediksi akan menjadi awal pecahnya perang dunia ketiga.

Analisis ini disampaikan oleh Wang Wen selaku Dekan Eksekutif Institut Studi Keuangan Chongyang (RDCY), Wakil Dekan Sekolah Jalur Sutra, Universitas Renmin China.

Dikutip TribunWow.com, Wang Wen menulis prediksinya itu lewat portal berita pemerintah Rusia RT.com.

Wen menyoroti bagaimana Rusia saat ini tengah digempur habis-habisan oleh Amerika Serikat (AS) dan blok NATO.

Meskipun tak mengirimkan langsung pasukan militernya ke Ukraina, AS dan NATO melakukan segala cara untuk menyerang Ukraina mulai dari sanksi finansial, blokade informasi, bantuan intelijen, hingga navigasi satelit.

Dua bulan setelah konflik pecah, negara-negara barat telah memberikan sekira lima ribu sanksi terhadap Rusia.

Wen menyampaikan, apa yang dilakukan oleh AS dan negara-negara barat sudah jelas semakin memperparah tensi konflik yang terjadi.

Wen juga mengungkit pernyataan kontroversial yang disampaikan oleh Presiden AS Joe Biden untuk Presiden Rusia Vladimir Putin.

Menurut Wen apa yang disampaikan oleh Biden dilihat Rusia sebagai ancaman yang nyata.

Seiring berjalannya konflik antara Rusia dan Ukraina, potensi perang dunia ketiga terus naik.

Campur tangan Biden dalam konflik ini dinilai akan menjadi pertimbangan bagi Rusia untuk menggunakan senjata nuklir. (TribunWow.com/Via/Anung)

Berita terkait Konflik Rusia Vs Ukraina

Tags:
Vladimir PutinMoskowRusiaUkrainaAntonio Guterres
Rekomendasi untuk Anda
ANDA MUNGKIN MENYUKAI

BERITA TERKINI

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved