Konflik Rusia Vs Ukraina
Zelensky Peringatkan Warga Ukraina Tak Sembarangan Beri Informasi ke Rusia, Ini Alasannya
Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky memperingatkan warganya agar tidak sembarangan memberikan informasi kepada pasukan militer Rusia.
Penulis: anung aulia malik
Editor: Tiffany Marantika Dewi
TRIBUNWOW.COM - Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky memperingatkan warganya agar berhati-hati ketika dimintai informasi oleh pasukan militer Rusia.
Zelensky mengatakan, informasi yang diberikan oleh warga Ukraina ke Rusia nantinya dapat disalahgunakan untuk kepentingan Rusia.
Ia menyebut satu di antaranya adalah digunakan untuk memalsukan referendum.
Baca juga: Sadap Percakapan di Mariupol, Rusia Ungkap Alasan Tentara Ukraina di Azovstal Tak Kunjung Menyerah
Baca juga: Gagal Bujuk Bos Kantor Berita Ukraina, Rusia Rilis Koran Tiruan Berisi Propaganda
Dikutip TribunWow.com dari aljazeera.com, peringatan ini diberikan oleh Zelensky untuk penduduk di daerah selatan Ukraina yakni Kherson dan Zaporizhzhia.
"Sangat berhati-hati tentang informasi yang Anda berikan ke penjajah," ujar Zelensky.
"Jika mereka meminta Anda untuk mengisi sejumlah kuesioner, menyertakan detail paspor, maka Anda tahu bahwa ini tidak akan membantu Anda," ungkapnya.
"Ini sebenarnya untuk memalsukan apa yang disebut 'referendum' di tanah Anda," kata Zelensky.
Sebelumnya Zelensky secara tegas membantah klaim pemerintah Rusia terkait Kota Mariupol.
Zelensky menyatakan hingga Jumat (22/4/2022), Ukraina masih berhasil mempertahankan Kota Mariupol dari serangan Rusia.
Ia mengatakan, saat ini hanya ada ribuan tentara Ukraina yang masih bertahan di komplek pabrik baja Azovstal yang ada di Mariupol.
Dikutip TribunWow.com dari themoscowtimes.com, Zelensky menyebut, pertempuran antara Rusia dan Ukraina di Mariupol masih terus berlangsung.
"Di daerah selatan dan timur negara kita, penjajah (tentara Rusia) terus melakukan segala cara agar memiliki alasan untuk berbicara soal kemenangan," kata Zelensky.
Menurut keterangan Zelensky, para tentara Rusia hanya bisa mengulur-ulur waktu.
Zelensky meyakini akan tiba saatnya ketika tentara Ukraina mengusir pasukan Rusia dari Mariupol.
Presiden Rusia Vladimir Putin diketahui telah memerintahkan pasukannya untuk tidak menyerbu benteng terakhir Ukraina yang tersisa di kota Mariupol yang terkepung.
Hal ini diutarakan setelah menteri pertahanannya, Sergei Shoigu mengakui tentara Rusia masih memerangi ribuan tentara Ukraina di sana.
Putin menilai rencana untuk menyerbu pabrik baja Azovstal tidak praktis dan justru mengintruksikan pasukan Rusia untuk memblokade daerah itu agar tak seekor lalat bisa lewat.
Wakil Perdana Menteri Ukraina, Iryna Vereshchuk, telah meminta koridor kemanusiaan untuk memungkinkan warga sipil dan tentara yang terluka dievakuasi dari Azovstal.
Dalam pengepungan tersebut, Vanda Semyonovna Obiedkova, seorang korban Holocaust berusia 91 tahun dikabarkan tewas.
Dia meninggal saat berlindung di ruang bawah tanah yang membeku tanpa air, dalam gema suram tentang bagaimana dia bersembunyi di ruang bawah tanah dari Nazi ketika dia berusia 10 tahun.
Kementerian pertahanan Rusia mengklaim rudal dan artilerinya telah menghantam 1.001 sasaran militer di Ukraina semalam, termasuk 162 pangkalan tembak.
Sementara, wali kota Kharkiv, mengatakan kota terbesar kedua Ukraina itu berada di bawah pengeboman hebat.
Oleg Synegubov, kepala administrasi negara regional, mengatakan pasukan Rusia menembaki daerah Kharkiv dengan berbagai jenis senjata.
Dia menyebutkan ada sekitar 15 serangan dan lima warga sipil terluka.
Kini, Pasukan Rusia dilaporkan bergerak maju menuju Kramatorsk, sementara Putin kemungkinan ingin menunjukkan keberhasilan signifikan sebelum perayaan Hari Kemenangan pada 9 Mei.
Baca juga: Host TV di Rusia Cekikikan Bahas Apa yang Terjadi jika New York Dibom Nuklir
Respons Internasional
Perdana Menteri Spanyol, Pedro Sánchez, dan Perdana Menteri Denmark, Mette Frederiksen, diperkirakan akan bertemu dengan Presiden Ukraina, Volodymyr Zelenskiy, di Kyiv hari ini.
Sementara, Perdana Menteri Inggris, Boris Johnson, telah tiba di India dalam misi diplomatik.
Ia bertujuan meyakinkan rekannya, PM India Narendra Modi, untuk mendukung tindakan barat melawan Rusia.
Selain itu juga membangun berbagai kemitraan perdagangan dan pertahanan strategis lainnya.
Di China, Presiden Xi Jinping, mengatakan pemerintahnya mendukung pembicaraan untuk menyelesaikan perselisihan internasional tetapi menegaskan kembali penentangan China terhadap sanksi sepihak.
China telah berulang kali mengkritik sanksi barat, termasuk sanksi terhadap Rusia atas invasinya ke Ukraina.
Namun China tetap berhati-hati untuk tidak memberikan bantuan kepada Moskow yang dapat menyebabkan kerugian untuk Beijing.
Ancaman Siber
Negara-negara sekutu yang tergabung dalam aliansi intelejen 'Five Eyes', termasuk Inggris dan AS, telah memperingatkan bahwa Rusia siap untuk meluncurkan serangan siber terhadap saingan yang mendukung Ukraina.
Baru-baru ini, analisis Institute for Strategic Dialogue, menemukan postingan yang meragukan bukti dugaan kejahatan perang di Bucha telah dibagikan ratusan ribu kali di Facebook.
Sementara itu, pengadilan di Moskow telah mendenda Google 11 juta rubel (£ 105.000) atas tudingan penyebaran data yang tidak akurat tentang kerugian pasukan Rusia dan korban sipil di Ukraina.
Selain itu juga akibat adanya penyebaran video di YouTube yang diproduksi oleh kelompok-kelompok Ukraina seperti batalyon nasionalis Azov. (TribunWow.com/Anung/Via)