Konflik Rusia Vs Ukraina
Tak akan Kabur dari Mariupol, Kapten Resimen Azov Siap Perangi Rusia Pakai Bayonet
Sejumlah pasukan militer Ukraina diketahui masih ada yang tetap bertahan di Mariupol.
Penulis: anung aulia malik
Editor: Rekarinta Vintoko
TRIBUNWOW.COM - Pasukan militer Rusia sempat meminta agar para tentara Ukraina yang ada di Mariupol segera menyerah dan meninggalkan daerah tersebut.
Namun tidak semua menurut dan mematuhi tawaran Rusia.
Satu di antara mereka adalah resimen pertahanan nasional Azov.
Baca juga: Tentara Ukraina Ungkap Perlakuan Baik Rusia, Akui Tak Menyangka dan sempat Takut akan Disiksa
Baca juga: Putin Beri Penghargaan pada Pasukan Rusia yang Dituding Ukraina Lakukan Kekejaman di Bucha
Dikutip TribunWow.com dari Thesun.co.uk, Kapten resimen Azov bernama Sviatoslav Palamar beserta pasukannya sampai saat ini masih berada di pabrik baja Azovstal yang berlokasi di Mariupol.
Selain pasukan Azov yang dipimpin oleh Palamar, pasukan lain yang ada di sana adalah Brigade Marinir Ukraina ke-36.
Hanya kedua pasukan itu yang menolak menyerah kepada pasukan militer Rusia.
"Kami tidak punya cara untuk mengevakuasi mereka yang terluka atau mengembalikan jasad prajurit yang tewas ke keluarga mereka," ujar Palamar.
Palamar menyampaikan, saat ini dirinya dan pasukannya sangat dekat dengan pasukan militer Rusia.
"Tidak ada perintah untuk meninggalkan kota, jadi kami terus berperang," kata dia.
Palamar mengatakan, ia dan pasukannya akan berjuang mempertahankan Mariupol.
"Jika kita kehabisan amunisi, kita akan menggunakan bayonet dan melakukan pertarungan tangan kosong," ujar dia.
Palamar turut menyampaikan rasa terima kasihnya kepada Inggris yang telah mengirimkan sejumlah senjata.
Namun menurut Palamar Ukraina masih membutuhkan bantuan senjata pertahanan udara untuk melindungi Ukraina dari serangan udara pasukan Rusia.
"Kita memiliki sistem misil anti pesawat tempur portabel, tetapi pesawat yang terbang di ketinggian 77 kilometer tidak bisa dijangkau menggunakan sistem tersebut," kata Palamar.
Markas Bawah Tanah Tentara Azov
Sebelumnya diberitakna, sebuah video viral beredar memperlihatkan pasukan Rusia menemukan persembunyian tentara Azov di Ukraina.
Tentara Rusia yang tampaknya berasal dari divisi prajurit Chechnya itu menyisir ruang bawah tanah.
Mereka pun menemukan sejumlah peralatan militer dan logistik milik tentara nasionalis Ukraina tersebut.
Dilansir TribunWow.com dari Tribun MedanTV, Rabu (13/4/2022), video tersebut dibagikan oleh pemimpin Chechnya Ramzan Kadyrov melalui akun Telegram pribadinya.
Awalnya, terlihat keributan dan debu-debu beterbangan seolah pertempuran baru berakhir.
Pasukan terlihat berada di sebuah bangunan yang bercat putih biru.
Tak lama, seorang prajurit menunjukkan adanya jalan masuk ke ruang bawah tanah yang ditemukan.
Para pasukan berseragam tentara Rusia itu pun masuk menyusuri lorong gelap.
Debu tebal mengiringi langkah mereka makin dalam menuju sebuah ruang sempit.
Tampaknya, ruangan itu digunakan sebagai tempat tinggal, terlihat dari bekas-bekas alat makan, botol dan beberapa barang sehari-hari lainnya.
Bahkan, tentara Rusia menemukan amunisi senjata laras panjang ketika menyisir ruangan tersebut.
Amunisi tersebut ditempeli stiker bergambar tentara yang diperkirakan adalah lambang Azov
Tampaknya ruangan itu digunakan sebagai tempat tinggal dan tempat penyimpananan pasukan Azov.
Sebelumnya, seorang militan dari resimen nasionalis Ukraina Azov, Aleksey Smykov, dikabarkan menyerah ke Rusia.
Pemuda itu sengaja mengungkapkan strategi tak manusiawi yang digunakan pasukannya.
Ia menyebutkan bahwa pasukan Azov sengaja menggunakan masyarakat sipil sebagai tameng.
Dikutip TribunWow.com, Sabtu (26/3/2022), pengakuan ini dibeberkan Smykov kepada RIA Novosti saat diwawancarai.
Tentara yang ikut bertempur di kota pelabuhan Mariupol itu mengecam strategi yang dipakai pasukannuya sendiri.
"Mari kita lihat dari sudut pandang ini, bagi saya pribadi, taktik seperti itu tidak dapat dipahami, karena ketika seseorang memposisikan dirinya sebagai seorang pejuang, bercita-cita tinggi, seperti pejuang Viking, dan hal-hal seperti itu. Kemudian, katakanlah, dia melakukan hal-hal seperti yang disebut," ucap Smykov.
"Bagi saya pribadi, ini tidak dapat dipahami. Artinya, jika anda menyebut diri anda seorang pejuang, maka berjuanglah sampai titik akhir."
"Ini tindakan keji, menurut saya," ujarnya.
Baca juga: Zelensky Pede Ukraina Bisa Akhiri Perang Lawan Rusia jika Kondisi Ini Terjadi
Baca juga: Invasi Rusia ke Ukraina Hari ke-56, Jatuhnya Kota Donbas Pertama dan Ultimatum Baru di Mariupol
Smykov menekankan sebagai tentara, seharusnya rekan-rekannya bertarung secara berani.
Bukan malah mengorbankan rakyat sipil sebagai perisai perang.
"Artinya, jika anda ingin melawan Chechnya, bertarunglah, jika anda ingin melawan Rusia inilah kesempatannya, bertarunglah, dengan pemerintah," ucap Smykov.
"Tapi saya tidak mengerti politik, saya tidak pernah menjadi pendukung ketika orang yang tidak bersalah, katakanlah, digunakan sebagai tameng."
Smykov mengatakan dia tidak tahu siapa yang memulai ditrapkannya dengan taktik ini.
"Saya tidak bisa mengatakan, saya sudah tidak lagi di Mariupol pada saat semua ini sudah mulai terjadi,” kata anggota Resimen Nasional itu.
Pengakuan tersebut didukung oleh kesaksian Kolonel Jenderal Sergei Rudskoy, Wakil Kepala Staf Umum Pertama Angkatan Bersenjata Rusia, dalam sebuah pengarahan di Moskow pada hari Jumat.
"Hanya di Mariupol, mereka termasuk lebih dari 7 ribu militan yang berperang dengan kedok warga sipil, menggunakan mereka sebagai perisai manusia," kata Rudskoy.
"Pejuang batalyon Azov mengusir perempuan dan anak-anak dari ruang bawah tanah, mengancam mereka dengan senjata, mengarahkan mereka ke unit DPR yang maju untuk menghalangi kemajuan polisi rakyat. Ini sudah menjadi praktik umum bagi mereka," pungkasnya. (TribunWow.com/Anung/Via)