Konflik Rusia Vs Ukraina
Sindir Taktik Licik AS, Korea Utara Ikut Komentari Pembantaian di Bucha
Korut kini ikut-ikutan mengomentari tragedi pembantaian warga sipil Ukraina di Bucha.
Penulis: anung aulia malik
Editor: Rekarinta Vintoko
TRIBUNWOW.COM - Belum lama ini, tragedi pembantaian warga sipil di Kota Bucha, Ukraina menarik perhatian banyak pihak.
Mayoritas negara-negara di dunia khususnya negara-negara barat meyakini pernyataan Ukraina bahwa Rusia lah tersangka yang melakukan pembantaian warga sipil.
Namun tidak semua negara setuju dengan pernyataan Ukraina, satu di antaranya adalah Korea Utara (Korut).

Baca juga: Nilai AS Perparah Konflik Rusia-Ukraina, Korea Utara Sebut Joe Biden Kakek Tua yang Ceroboh
Baca juga: Pesimis Bisa Selamat, Tentara Ukraina di Mariupol Memohon Dievakuasi: Ini Mungkin Pesan Terakhir
Dikutip TribunWow.com dari Tass.com, Korut melihat ada taktik licik yang digunakan oleh negara-negara barat dan Amerika Serikat (AS) terkait pembantaian di Bucha.
Pernyataan ini disampaikan oleh Kedutaan Besar Korut di Moskow.
Korut menyebut, tragedi pembantaian di Bucha adalah skenario AS dan sekutunya untuk membuat citra Rusia semakin buruk di dunia internasional dan semakin terisolasi.
"Pembunuhan massal di Kota Bucha jelas menunjukkan AS dan sekutunya tidak terlalu khusus tentang metode licik yang mereka gunakan untuk meraih tujuan kotor mereka yakni mengotori citra Rusia dan mengisolasi Rusia dari dunia internasional," tulis Kedubes Korut di Moskow.
Di sisi lain, pemerintah Ukraina menyatakan hampir 85 persen dari mayat penduduk Kota Bucha, wilayah Kyiv yang tewas, memiliki luka tembak.
Penemuan ini diklaim yang menunjukkan pihak Rusia melakukan pembunuhan secara sadar.
Hal ini menambah panjang daftar kejahatan perang yang dituduhkan pada pasukan Presiden Rusia Vladimir Putin tersebut.
Dilansir TribunWow.com dari Ukrinform, Jumat (15/4/2022), Wali Kota Bucha Anatoliy Fedoruk memberikan keterangan.
Pihaknya mengumpullkan bukti tersebut dari jasad warga yang dikumpulkan dari kuburan massal dan yang tergeletak di berbagai lokasi.
Dari mayat-mayat tersebut, hampir seluruhnya memiliki bekas tembakan diduga dari tentara Rusia.
"Hampir 85 persen dari semua mayat yang kami keluarkan dari kuburan massal atau penguburan individu di kebun, taman, alun-alun, pekarangan memiliki lubang peluru. Artinya, pembunuhan berencana secara sadar terjadi di Bucha," kata Fedoruk.
Dia mengatakan bahwa pemindahan mayat dari kuburan massal di wilayah Gereja St. Andrew akan selesai mungkin pada tanggal 15 April.