Terkini Internasional
Sosok Pelaku Penembakan Massal di New York, Punya Kanal YouTube Berisi Curhat Penyakit Mental
Sosok pelaku penembakan massal di New York ternyata memiliki sebuah channel YouTube yang salah satu kontennya berisi keluhan.
Penulis: anung aulia malik
Editor: Rekarinta Vintoko
TRIBUNWOW.COM - Pihak kepolisian telah mengumumkan Frank R James sebagai terduga pelaku penembakan massal yang terjadi di kereta bawah tanah (subway) di Brooklyn, New York, Amerika Serikat (AS), pada Selasa (12/4/2022) pagi.
Meskipun sudah diumumkan sebagai terduga pelaku, pihak kepolisian menyatakan James belum dituduh terlibat dalam kasus penembakan massal tersebut.
Pihak kepolisian di New York menyatakan saat ini hanya ingin berbicara langsung dengan James.

Baca juga: Dalam Kondisi Berdarah-darah, Korban Penembakan Massal di New York Ucapkan Ini ke Seorang Warga
Baca juga: Tembak 10 Orang di Kereta Bawah Tanah New York, Frank James Jadi Buronan Senilai Rp 718 Juta
Dikutip TribunWow.com dari Thesun.co.uk, James sendiri ternyata memiliki sebuah kanal YouTube dengan 500 subscribers.
Konten milik James diketahui membahas banyak tema, mulai dari isu rasisme, politik, hingga kekerasan.
Pada suatu video, James membuat video yang ia tujukan ke Walikota New York, Eric Adams.
James menyampaikan kepada Eric bahwa rencana menghentikan penyalahgunaan senjata api pasti akan gagal.
James lalu menyoroti soal pernyataan Eric terkait isu kesehatan mental.
Sambil memaki-maki, James curhat bahwa dirinya merupakan ahli dalam isu kesehatan menta karena dirinya sendiri memiliki penyakit kejiwaan.
Sejak tahun 1980 lalu, James mengaku telah terdiagnosa menderita post-traumatic stress disorder (PTSD).
James juga mengaku sempat dipenjara dan memakai narkotika karena penyakit mentalnya tersebut.
Kemudian James curhat bahwa lembaga pelayanan kesehatan mental milik pemerintah kota justru makin memperburuk kondisi pasiennya.
Ia menyebut terjadi kekerasan verbal di dalam lembaga tersebut.
"Kekerasan yang mirip dialami oleh anak-anak di sekolah dasar," ujar James.
James melanjutkan, saking parahnya kekerasan yang terjadi di tempat itu, orang-orang di sana mungkin tak segan untuk membunuh.