Konflik Rusia Vs Ukraina
Sindir Media Barat soal Berita Rusia Bantai Warga Sipil, Eks Inspektur PBB Minta Ukraina Beri Bukti
Eks inspektur PBB buka suara soal insiden pembantaian warga sipil di Bucha yang menurut pemerintah Ukraina adalah ulah tentara Rusia.
Penulis: anung aulia malik
Editor: Rekarinta Vintoko
TRIBUNWOW.COM - Perhatian dunia internasional kini tengah tertuju kepada insiden pembantaian warga sipil yang ada di Kota Bucha, Ukraina.
Intelijen Ukraina menyebut, jasad warga yang bertebaran di jalanan adalah korban serangan pasukan militer Rusia.
Namun pemerintah Rusia telah menampik tudingan itu dengan menyertakan sejumlah bukti hingga kondisi jasad yang bersangkutan.

Baca juga: Bantah Bantai Warga Sipil Ukraina, Rusia Soroti Keanehan Mayat-mayat di Bucha: Belum Kaku
Baca juga: Kondisi RS Bersalin Korban Serangan Rusia, Bayi Mental ke Tembok hingga Ibu Hamil Teriak Ingin Mati
Dikutip TribunWow.com dari Tass.com, mantan inspektur senjata Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) Scott Ritter turut mengomentari soal insiden ini.
Ritter menyampaikan, Ukraina perlu memberikan bukti medis dan forensik untuk membuktikan apakah sejumlah jasad yang ditemukan di jalan itu betul korban serangan Rusia.
Ritter turut menyindir sejumlah media barat yang langsung mengklaim dan memberitakan para mayat yang ditemukan di Bucha adalah korban serangan Rusia tanpa melakukan verifikasi.
"Dasar forensik medis akan menjawab tiga pertanyaan: waktu kematian, mekanisme kematian, hingga tanda mayat telah dipindahkan atau tidak," ujar Ritter.
Ritter mengajak publik menunggu apakah Ukraina mampu memberikan bukti medis untuk mendukung tudingan mereka terhadap tentara Rusia.
Menurut Ritter, sebelum bukti medis diberikan, penyebaran informasi soal pembantaian warga sipil di Bucha adalah sebuah disinformasi.
Ritter menambahkan, pengamat yang objektif perlu menunggu bukti yang jelas sebelum menyalahkan Rusia.
Ia mengungkit bagaimana opini masyarakat di negara-negara barat terbentuk oleh informasi yang menyudutkan Rusia.
Menurut pihak Rusia, penembakan pada warga sipil dan kehancuran kota justru disebabkan tentara Ukraina sendiri.
Dilansir TribunWow.com dari TASS, Senin (4/4/2022), Rusia mengklaim tidak ada korban sipil yang dilaporkan di kota Bucha ketika kota itu dikendalikan oleh Angkatan Bersenjatanya.
Namun Duta Besar Rusia untuk Washington Anatoly Antonov menuding media AS mengabaikan penembakan yang dilakukan militer Ukraina di kota itu.
Ia pun terang-terangan membantah tudingan bahwa Rusia telah melakukan kejahatan perang pada warga sipil di Bucha.