Ritual di Pantai Payangan Jember
Pengakuan Anak Korban Ritual Maut di Jember, Ceritakan Aktivitas Pengajian Tunggal Jati Nusantara
Anak sulung korban berinisial SAM (15) yang mengaku pernah diajak ikut ritual Tunggal Jati Nusantara
Penulis: Afzal Nur Iman
Editor: Elfan Fajar Nugroho
TRIBUNWOW.COM - Kesedihan masih menyelimuti keluarga Syaiful Bahri (40) dan Sri Wahyuni Komariyah (35), korban tewas dalam ritual maut di Pantai Payangan, Jember, Jawa Timur pada Minggu (13/2/2022).
Anak sulung korban berinisial SAM (15) yang mengaku pernah diajak ikut ritual Tunggal Jati Nusantara menceritakan kebiasaat orangtuanya saat mengikuti ritual di sana.
Dalam ceritanya, SAM menyebut bahwa kedua orangtuanya baru tiga bulan mengikuti kelompok pengajian Tunggal Jati Nusantara.
Baca juga: Wafat Bersama Suami dalam Ritual Maut di Jember, Sri Disebut Miliki Gelagat Aneh sebelum Tewas
Baca juga: Cerita Ibu yang Anak Gadisnya Jadi Korban Ritual Maut di Jember: Diajak Temannya agar Bisa Berubah
Orangtuanya, juga baru tiga kali mengikuti ritual yang berlangsung di pantai.
"Ritualnya ada ke Pantai Payangan, ada juga ke pegunungan," ujarnya, Senin (14/2/2022), dikutip dari Tribun Jatim.
SAM mengaku pernah diajak ke dalam pengajian itu bergantian dengan adiknya yang sudah cukup besar.
Biasanya, pengajian Tunggal Jati Nusantara diadakan di rumah Ketua Kelompok Tunggal Jati, Nurhasan yang berlokasi di Desa Dukuhmencek, Kecamatan Sukorambi, Jember.
"Kadang yang di Abah, dekat rumah," imbuh SAM sambil menyebut salah satu tetangganya.
Saat hari kejadian, SAM menyebut bahwa orangtuanya berangkat pukul 21.00 WIB ke rumah ketua pengajian sebelum berangkat bersama rombongan untuk ke Pantai Payangan.
"Kalau ritual di Pantai Payangan, ayah sudah ikut tiga kali. Yang kedua, sekitar 10 hari lalu," ujar SAM.
Dia juga mengatakan bahwa selama prosesi ritual, setiap anggota kelompok menggunakan pakaian berwarna hitam yang memiliki logo Tunggal Jati.
Baca juga: Sosok Pemimpin Kelompok Ritual Maut di Pantai Payangan, Bukan Ustaz atau Kiai, Justru MC Dangdut
Ritual itu, dilakukan di tepi pantai dengan saling bergandeng lengan.
Mereka biasanya menghadap laut dan membaca sejumlah bacaan seperti syahadat, surat Al-Fatihah, beberapa surat pendek, juga bacaan dalam bahasa Jawa.
"Jadi dari ombaknya kecil, sampai besar. Tubuh memang harus terkena ombak. Ritual berakhir dengan mandi di laut," imbuhnya.
Biasanya, ritual berakhir sekitar pukul 02.00 WIB dan orangtuanya kadang sampai di rumah pukul 03.00 WIB atau bahkan lebih larut.