Viral Medsos
Viral Kisah Mahasiswi Indonesia Kerja Paruh Waktu Jadi Petani di Jepang, Digaji Rp 1,3 Juta per Hari
Viral kisah seorang mahasiswi asal Indonesia kerja paruh waktu jadi petani di Jepang. Menerima gaji sekitar 10 ribu Yen atau Rp 1,3 juta per hari.
Editor: Rekarinta Vintoko
TRIBUNWOW.COM - Viral kisah seorang mahasiswi asal Indonesia kerja paruh waktu jadi petani di Jepang.
Dilansir Tribunnews.com, mahasiswi bernama asli Putrie Khairunnisa (24) itu menerima gaji sekitar 10 ribu Yen atau setara Rp 1,3 juta per hari dari hasil kerjanya.
Cerita mahasiswi asal Indonesia itu awalnya terungkap dari video akun TikTok @heyedle.
Baca juga: Viral Sosok Briptu Christy Oknum Polwan Buron, Terungkap Latar Belakang Keluarga
Saat dikonfirmasi, Putrie menyebut pengalamannya kerja sebagai petani di Jepang ia jalani pada 2019 lalu.
Kala itu, ia berkesempatan ikut program magang dari salah satu kampus negeri di Bogor, yang bekerja sama dengan perusahaan jamur di Jepang.
Di sela waktu luang magangnya, mahasiswi asal Bogor, Jawa Barat itu sempat bekerja menjadi petani padi selama 3 hari.
"Sebenarnya magangnya di perusahaan jamur bukan padi. Kalau padi itu aku nyoba part time aja dan itu 3 hari doang," kata Putrie ketika dihubungi, Jumat (4/2/2022).
Bekerja paruh waktu sebagai petani dalam sehari, Putrie bisa mendapatkan bayaran 10 ribu Yen atau sekitar Rp 1,3 juta dalam sehari.
Di mana satu hari kerja sama dengan 8 jam.
Ia juga mendapat perlakuan yang baik dari si pemilik lahan.
Putrie mengatakan alasannya part time jadi petani adalah karena ia tertarik dengan cara menanam padi di Jepang.
Baca juga: Viral Polwan Polresta Manado Dikabarkan Hilang sejak November 2021, Polda Sulut: Itu Desersi
Menurutnya, lahan untuk menanam padi di Jepang berbeda dengan di Indonesia.
Sebagai mahasiswi agribisnis, kegiatan ini tentu menambah wawasannya seputar pertanian.
"Aku tertarik buat tahu cara menanam padi di sana soalnya kalau salju enggak bisa tumbuh."
"Mereka menanam bukan di sawah tapi di greenhouse, pakai wadah beberapa lapis tanah dan bibit terus naruh di wadahnya juga pakai mesin. Jadi takarannya udah otomatis," cerita dia.