Terkini Daerah
Ponpes Habib Bahar Kena Teror, Pakar Minta Pelaku Ditangkap meski Tak Dilaporkan: Ada Pidananya
Dirinya, menyatakan bahwa pelaku hal itu merupakan ekspresi batin yang kejam karena melibatkan makhluk hidup lain.
Penulis: Afzal Nur Iman
Editor: Atri Wahyu Mukti
TRIBUNWOW.COM - Pakar psikologi forensik Reza Indragiri Amriel menyatakan bahwa kiriman kepala anjing dan kambing yang ada di Pondok Pesantren Habib Bahar bin Smith dan Apartement milik Razman Arif Nasurion murni sebagai teror.
Dirinya menilai jika pelaku melakukan hal itu merupakan ekspresi batin yang kejam karena melibatkan makhluk hidup lain.
"Pertanyaannya, mengapa suasana batin semacam itu diekspresikan dengan terlebih dahulu membunuh binatang lalu mengirimnya ke pihak penerima?" tanya Reza dalam keterangannya, Sabtu (1/1/2021), dikutip dari Tribunnews.com.
Baca juga: Detik-detik Ponpes Bahar bin Smith Dilempari Kepala Anjing, Pelaku Tuliskan Kata-kata Ini
Baca juga: Ponpes Bahar bin Smith Dilempar 3 Kepala Anjing oleh 4 OTK, Pengacara Enggan Lapor Polisi
Dirinya tak banyak perpikir terkait apa maksud dari pelaku.
Dengan dilihat secara singkat, jelas hal itu adalah sebagai teror yang merupakan pesan maut kepada penerima.
"Apa lagi tafsiran yang bisa dibangun, kecuali bahwa tindakan sedemikian rupa adalah pesan maut," jelasnya.
"Penerima paket-paket itu dihadapkan pada risiko menjadi sasaran kekerasan yang bahkan bisa berujung pada kematian, jika bertindak-tanduk di luar keinginan si pengirimnya. Pihak pengirim boleh jadi dapat dikenai sanksi pidana berdasarkan pasal 335 KUHP," lanjutnya.
Reza juga menyoroti cara pelaku dalam memberikan ancaman kepada pelaku.
Mengirim kepala binatang tanpa alasan yang jelas kata dia adalah sebuah cara yang sangat tidak bisa dibenarkan.
Terlebih, penerima belum tentu terpengaruh dengan cara-cara seperti itu.
Baca juga: Fakta Viral Video Bahar bin Smith Adu Mulut dengan TNI hingga Bawa-bawa Nama KSAD Dudung Abdurachman
"Kaget, pasti. Sangat, bahkan. Tapi apakah kemudian si penerima merasa takut, belum tentu. Saya pribadi justru merasa pilu membayangkan binatang-binatang yang tak berdosa itu dimutilasi dengan begitu keji dan dijadikan sebagai simbol tentang kematian dalam keadaan hina-dina," ujarnya.
Cara yang dilakuka pelaku berbanding terbalik dibanding dengan banyak pihak yang menaruh perhatian lebih kepada hewan-hewan yang terlantar.
Cara pandang banyak orang yang menganggap bahwa setiap hewan adalah makhluk yang harus diselamatkan karena sesama makhluk tuhan nampaknya tidak dimiliki oleh pelaku.
Karena itu, apapun alasannya teror semacam itu tidak bisa dibenarkan.
"Di situs crowdfunding itu bisa kita temukan anggota masyarakat yang berbondong-bondong mencari dan memberikan donasi guna menyelamatkan binatang-binatang yang sakit, cacat, dianiaya, ditelantarkan, dan berbagai kondisi buruk lainnya," ujar Reza.