Breaking News:

Terkini Daerah

Alasan Pihak Kelurahan Tempat Pesantren HW Minta Aset dan Bangunan Yayasan Disita

Gedung bangunan pesantren milik yayasan yang dikelola HW dinilai lebih baik jika digunakan untuk kepentingan publik. 

Penulis: Afzal Nur Iman
Editor: Rekarinta Vintoko
TribunWow.com/Rushinta Mahayu
Ilustrasi korban rudapaksa. Pihak kelurahan tempat yayasan HW berdiri minta aset yayasan HW disita. 

TRIBUNWOW.COM - Ketua Lembaga Pemberdayaan Masyarakat (LPM) Kelurahan tempat pesantren HW (36) berdiri, Kecamatan Cibiru, Kota Bandung, Asep Wawan, berharap aset yayasan pelaku rudapaksa kepada santriwati itu disita.

Gedung bangunan pesantren milik yayasan yang dikelola HW dinilai lebih baik jika digunakan untuk kepentingan publik. 

"Saya harap, atas nama warga, segera bereskan kasus ini. Bangunan yayasan itu diperuntukkan ke masyarakat sekitar saja untuk hal positif, semisal rumah singgah atau rumah yatim," katanya saat berada di lokasi, Rabu (15/12/2021), dikutip dari Tribun Jabar.

Baca juga: Santriwati Korban HW Kembali Trauma, Takut Identitasnya Terungkap hingga Enggan Masuk Sekolah

Baca juga: Bukan Sekolah, Santriwati di Pesantren HW Ngaku Diminta Urus Bayi hingga Jadi Tukang Bangunan

Dirinya mengaku sudah mengajukan permohonan tersebut kepada pihak kepolisian. 

Pasalnya, aset tersebut adalah milik yayasan yang kini izinnya sudah dicabut. 

Bangunan itu pun hingga kini hanya terbengkalai tak terurus. 

"Kami juga sudah ajukan keinginan ini ke Polda dan pihak terkait karena asetnya itu kan milik yayasan dan yayasan itu sudah diboikot, jadi semoga saja diserahkan ke masyarakat untuk dimanfaatkan bangunannya," ucapnya.

Dirinya sebagai pihak keluarhan mengaku mengetahui awal mula berdirinya pondok pesantren tersebut. 

HW disebut meminta izin secara resmi kepada pihak kelurahan untuk dapat melakukan operasionalnya di sana. 

"Di bangunan yayasan pendidikan ini sempat diminta izin untuk dirikan pesantren. Lalu, kami di kewilayahan meminta mereka mengurus persyaratan izinnya dengan benar melibatkan MUI serta harus ada pemberitahuan," jelasnya. 

Baca juga: Rudapaksa 12 Santriwati di Bandung, Pakar Nilai HW Tak Pantas Disebut Guru: Dia Penculik

Menurut dia, sejak didirikan, para santri dan orang-orang di pesantren itu memang cenderung tertutup. 

Meski diakuinya bahwa di sana kegiatan santriwati tersebut terlihat biasa-biasa saja seperti pesantren pada umumnya. 

Hal itu yang menurutnya membuat masyarakat terkejut setelah mengetahui bahwa pondok itu hanya digunakan sebagai kedok untuk mengeksploitasi anak di bawah umur.

"Kalau ngaji seperti biasa ada kegiatan itu selepas Subuh," ujarnya.

Dirinya juga mengonfirmasi kesaksian para korban yang mengatakan bahwa diminta menjadi kuli bangunan untuk membangun gedung pondok pesantren. 

Banyak warga yang menyaksikan sendiri anak-anak perempuan di sana berjibaku dengan semen dan pasir saat proses pembangunan. 

"Lalu warga juga sempat melihat ketika pembangunan lantai dua, para santriwati ikut membantu. Mereka mengaduk semen pasir hingga mengangkat bahan-bahan material dan mengecat dinding," sambungnya. 

Namun, para warga sama sekali tidak mengetahui kegiatan apa pun yang dilakukan di dalam pesantren itu. 

Pasalnya, tidak ada warga sekitar yang ikut menjadi santriwati di sana. 

Dia sendiri menolak jika warga dikatakan lalai dalam mengawasi pondok pesantren. 

Menurut dia, pihaknya sudah melakukan langkah-langkah yang diperlukan dan sesuai koridor. 

"Kami tegaskan ini bukan kelalaian kami (pengurus) di kewilayahan. Tapi, yang kami sesalkan kenapa sekarang-sekarang ini kasusnya terpublikasi. Kami padahal sudah sesuai koridor setelah kasus itu terbongkar pada Mei," katanya.

Asep berharap kasus ini segera selesai dan pelaku bisa mendapat hukuman setimpal. 

Karena, apa yang dilakukan HW juga berdampak pada citra lingkungan di wilayahnya. 

Diduga Perkaya Diri

HW diketahui tinggal di rumah mewah dan mengalami peningkatan kekayaan sejak mengelola pondok pesantren.

Agus Supriatna, Ketua RT tempat HW tinggal menyebut bahwa rumah mewah yang ditempati HW bukanlah miliknya.

"Itu bukan tanah milik HW, yang punya nya tinggal di Jakarta," katanya saat ditemui di rumahnya.

Agus juga mengaku mengenal pemilik rumah tempat tinggal HW.

Pemilik memang menginginkan agar rumahnya dimanfaatkan untuk kegiatan keagamaan. 

Bahkan pemilik rumah sempat memintanmya mencarikan guru ngaji agar memanfaatkan rumah mewah itu untuk keperluan agama.

"Seperti tempat pengajian ibu-ibu, ngajar ngaji anak-anak. Kayak gitu lah. Tapi sama warga komplek sekitar keberatan karena takut jadi kumuh, apalagi yang ngajinya dari luar," ucap Agus.

Namun, rencana itu batal dan pada 2014 tiba-tiba HW datang menemuinya.

Saay itu HW mengaku sudah berkomunikasi dengan pemilik rumah dan akan menggunakan rumah itu untuk rumah anak yatim piatu.

"Katanya mau dijadikan rumah anak yatim piatu, ngajar ngaji juga. Katanya enggak banyak, paling 7 orang. Ngakunya sudah komunikasi sama pemilik rumah, saya sendiri tidak tahu bagaimana bisa kenal dengan si ibu pemilik rumah," ucap dia.

"Ya pada 2014 itulah akhirnya si HW menempati rumah itu sama anak-anak yatim, kebanyakan santriwati." ucap dia.

Dia juga menceritakan perubahan kekayaan HW saat sebelum dan sesudah mengelola yayasan yang ditinggalinya itu.

Saat pertama kali datang menemuinya, Herry Wirawan datang menggunakan sepeda motor.

"Dulu tuh dia datang ke saya dengan penampilan yang gimana ya, kelihatannya susah gitu lah. Pakai motor jadul," ucapnya.

Namun, beberapa tahun setelahnya HW sudah menggunakan mobil entah harta dari mana. 

Ia juga bisa membangun gedung sekolah ditempat lain yang dijadikan lokasi rudapaksa korban.

"Sekarang-sekarang mah sebelum ditangkap dia sudah tidak pakai motor lagi, pakai mobil. Saya enggak nyangka dia berbuat sekeji itu. Si ibu pemilik rumah belum kontak lagi sama saya, tapi yang pasti mereka marah lah," ucap Agus.

Pihak kejaksaan sendiri menyebut ada informasi yang mengatakan bahwa HW menggelapkan dana bantuan pemerintah untuk kepentingan pribadi dirinya. 

Dana bantuan itu, juga digunakan untuk melancarkan modusnya. (TribunWow.com/Afzal Nur Iman)

Baca Artikel Terkait Lainnya

Artikel ini diolah dari Tribun Jabar yang berjudul LPM Pasirbiru Harap Aset Madani Boarding School Diserahkan ke Masyarakat, Jadi Rumah Yatim dan Cerita Herry Wirawan si Guru Cabul Semula Pakai Motor, Tiba-tiba Punya Mobil dan Tempati Rumah Mewah

Tags:
Jawa BaratBandungHerry WirawanrudapaksaKasus Pencabulan
Berita Terkait
ANDA MUNGKIN MENYUKAI
AA

BERITA TERKINI

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved