Terkini Daerah
Pilih Gadis Lugu untuk Dijadikan Santriwati, Guru Cabul di Bandung Buat Korban Terbiasa Diancam
Terungkap cara tersangka mendoktrinasi para santriwati selama bertahun-tahun sehingga aksi jahatnya bisa lama tak terungkap.
Penulis: anung aulia malik
Editor: Lailatun Niqmah
TRIBUNWOW.COM - HW (36), seorang guru pesantren di Bandung, Jawa Barat, kini jadi sorotan publik seusai melakukan aksi rudapaksa terhadap 21 santriwati.
Dilakukan sejak tahun 2016 hingga 2021, pelaku sudah mempunyai sembilan orang anak hasil hubungannya dengan para korban.
Diketahui, ada banyak tipu daya yang dilakukan oleh tersangka hingga akhirnya aksi jahatnya tertutupi selama bertahun-tahun.
Baca juga: Saling Bantu, Para Santriwati Korban Rudapaksa Ikut Menemani jika Ada Korban Mau Melahirkan
Baca juga: Atalia Sebut Viralnya Identitas Guru Pelaku Rudapaksa Santriwati Bisa Ganggu Pemulihan Psikis Korban
Dikutip dari Kompas.com, ternyata ada cara khusus yang dipakai oleh tersangka agar korban tak berani membongkar aksi jahat tersangka.
Hal ini diungkapkan oleh Ketua Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P22TP2A) Kabupaten Garut, Diah Kurniasari Gunawan, kepada wartawan, Jumat (10/12/2021).
Saat melakukan pendampingan kepada korban, Diah menemukan sejumlah fakta terkait apa yang dilakukan tersangka kepada para santriwati.
Pertama, para santriwati yang dipilih oleh tersangka adalah gadis yang benar-benar lugu.
Kondisi para santriwati yang lugu memudahkan tersangka untuk memengaruhi korban.
Diah bercerita, tersangka bertahun-tahun melakukan ancaman terhadap para santriwatinya.
Saking seringnya ditekan oleh tersangka, para santriwati merasa terbiasa dengan ancaman dari tersangka.
“Orangtua tidak diberi kebebasan menengok anak-anak, anak-anak juga tidak bebas pulang, paling kalau mau Lebaran, hanya 3 hari, itu pun diancam dilarang melapor pada orangtuanya,” ujar Diah.
Diah mengetahui persis bagaimana kehidupan para korban karena dirinya terjun langsung melakukan pendampingan.
Ia bercerita, para korban kompak saling membantu satu sama lain.
Mereka membagi tugas mulai dari memasak, mencuci hingga menjaga anak hasil rudapaksa tersangka.
Mirisnya, para korban bergantian mengantar jika ada santriwati yang hendak melahirkan.