Breaking News:

Konflik di Afghanistan

Sempat Dirumorkan Tewas, Sosok Pemimpin Tertinggi Taliban Haibatullah Akhundzada Muncul di Publik

Untuk pertama kalinya sejak memimpin Taliban pada 2016, Haibatullah Akhundzada yang dikenal tertutup muncul di publik, seusai sempat dirumorkan tewas.

Penulis: Alma Dyani Putri
Editor: Mohamad Yoenus
AFP
Pemimpin tertinggi Taliban Haibatullah Akhundzada. Untuk pertama kalinya sejak memimpin Taliban pada 2016, Haibatullah Akhundzada yang dikenal tertutup muncul di publik, seusai sempat dirumorkan tewas, Minggu (31/10/2021). 

TRIBUNWOW.COM - Pemimpin tertinggi Taliban Haibatullah Akhundzada dikabarkan muncul pertama kali di publik sejak mulai mengepalai kelompok itu 2016, pada Minggu (31/10/2021).

Hal itu dilaporkan oleh pejabat setempat yang mengatakan Haibatullah Akhundzada berbicara kepada para pendukungnya di kota selatan Kandahar, Afghanistan.

Akhundzada dikenal sebagai sosok yang tertutup, meskipun sudah menjadi pemimpin spiritual gerakan Islam sejak 2016, bahkan setelah pengambilalihan Afghanistan oleh Taliban.

Pejuang Taliban berdiri di atas kendaraan polisi yang rusak di sepanjang pinggir jalan di Kandahar, Afganistan, pada 13 Agustus 2021.
Pejuang Taliban berdiri di atas kendaraan polisi yang rusak di sepanjang pinggir jalan di Kandahar, Afganistan, pada 13 Agustus 2021. (AFP)

Baca juga: Taliban Terpaksa Bayar Pekerja Pakai Gandum di Tengah Krisis yang Makin Parah di Afghanistan

Baca juga: Kedapatan Dengarkan Musik, 3 Orang Tewas Ditembak di Acara Pernikahan oleh Penyerang Diduga Taliban

Dilansir dari AFP, sikap tertutupnya telah memicu spekulasi tentang peran Akhundzada dalam pemerintahan baru Taliban, yang dibentuk setelah kelompok itu menguasai ibu kota Kabul pada 15 Agustus.

Bahkan, rumor kematian Akhundzada juga sempat tersebar.

Berita kemunculan Akhundzada di depan publik beredar menurut rekaman audio yang dipublikasikan oleh akun media sosial Taliban.

Disebutkan bahwa pemimpin mereka mengunjungi Madrasah Darul Uloom Hakimah untuk "berbicara dengan tentara dan muridnya yang pemberani" pada Sabtu (30/10/2021).

"Semoga Tuhan membalas orang-orang tertindas Afghanistan yang memerangi orang-orang kafir dan penindas selama 20 tahun," kata Akhundzada, dalam rekaman itu.

"Niat saya di sini adalah untuk berdoa untuk Anda dan Anda berdoa untuk saya,” tambahnya.

Rekaman yang berdurasi 10 menit itu juga menunjukkan Akhundzada berdoa untuk para martir Taliban, pejuang yang terluka dan keberhasilan pejabat yang telibat dalam “ujian besar” untuk membangun kembali Imarah Islam Afghanistan.

"Mari kita berdoa agar kita keluar dari ujian besar ini dengan sukses. Semoga Allah membantu kita tetap kuat," katanya.

Tak ada foto mau pun video yang dirilis terkait kegiatan tersebut, tetapi disebutkan bahwa Akhundzada berada di bawah pengamanan yang ketat selama acara.

Haibatullah Akhundzada disebut sebagai “Amirul Mukminin”, panglima yang beriman, pangkat yang diberikan kepada mendiang pendiri Taliban Mullah Omar oleh para pendukungnya.

Akhundzada diperkirakan telah dipilih untuk melayani lebih sebagai tokoh spiritual dari pada komandan militer.

Namun, pernyataan publiknya yang luar biasa akan memicu spekulasi bahwa dia sekarang berencana untuk mengambil peran yang lebih sentral, dalam memimpin pemerintahan baru Afghanistan.

Haibatullah Akhundzada awalnya dikenal sebagai tokoh agama yang rendah hati.

Dia kemudian bangkit menjadi pemimpin Taliban dalam transisi kekuasaan yang cepat, seusai serangan pesawat tak berawak Amerika Serikat pada 2016 lalu, menewaskan pendahulunya Mullah Akhtar Mansour.

Seusai diangkat sebagai pemimpin, dia mendapatkan dukungan dari pemimpin Al-Qaeda Ayman al-Zawahiri, yang memberinya banyak pujian, hingga menyebutnya “emir orang beriman”.

Baca juga: Larangan Taliban Buat Harga Opium Melonjak, Pedagang di Afghanistan: Haram tapi Tak Ada Pilihan Lain

Baca juga: Ratusan Warga Padati Kantor Paspor Afghanistan seusai Diumumkan akan Segera Dibuka Lagi oleh Taliban

Pengesahan oleh pewaris Osama bin Laden itu, membantu menyegel kredensial jihadnya dengan sekutu lama Taliban.

Akhundzada ditugaskan untuk menyatukan gerakan Taliban yang sempat retak selama perebutan kekuasaan setelah pembunuhan Mullah Akhtar Mansour, dan kematian pendiri Taliban, Mullah Omar, yang telah disembunyikan selama bertahun-tahun.

Peran publiknya sebagian besar terbatas pada pemberian pesan selama hari libur Islam.

Dia juga diyakini menghabiskan lebih banyak waktunya di Kandahar.

Pesan terakhir yang disampaikan oleh Akhundzada adalah pada 7 September lalu, yang mengatakan kepada pemerintah Taliban yang baru diangkat di Kabul, untuk menegakkan hukum Syariah saat memerintah Afghanistan.

Pekan lalu, Gubernur Taliban di Kandahar, Mullah Yussef Wafa, bersama sekutu dekat Akhundzada mengatakan bahwa dia melakukan kontak rutin dengan pemimpin tertingginya yang misterius itu.

"Kami mengadakan pertemuan rutin dengannya tentang pengendalian situasi di Afghanistan dan bagaimana membuat pemerintahan yang baik," katanya dalam sebuah wawancara dengan AFP.

"Karena dia adalah guru kami, dan guru semua orang, kami mencoba belajar sesuatu darinya," tambahnya.

"Dia memberikan nasihat kepada setiap pemimpin Imarah Islam Afghanistan dan kami mengikuti aturannya, sarannya, dan jika kami memiliki pemerintahan yang progresif di masa depan, itu karena nasihatnya."

Di sisi lain, baru-baru ini Taliban mendesak AS dan negara-negara lain untuk mengakui pemerintahan mereka di Afghanistan pada Sabtu (30/10/2021).

Mereka mengatakan bahwa jika tak kunjung ada pengakuan, maka akan menimbulkan masalah yang tidak hanya menyangkut negara terkait saja tetapi juga seluruh dunia.

Tuntutan Taliban itu juga mencakup permintaan agar pembekuan dana Afghanistan dihentikan.

Hingga kini, tidak ada negara yang secara resmi mengakui pemerintahan Taliban sejak mereka mengambil alih Afghanistan pada pertengahan Agustus lalu.

Sementara, miliaran dolar aset dan dana negara di luar negeri juga telah dibekukan, hingga terpaksa menghadapi krisis ekonomi dan kemanusiaan yang parah.

Juru bicara Taliban Zabihullah Mujahid (kiri) memberi isyarat saat dia berbicara selama konferensi pers pertama di Kabul pada 17 Agustus 2021 setelah pengambilalihan Afghanistan yang menakjubkan oleh Taliban.
Juru bicara Taliban Zabihullah Mujahid (kiri) memberi isyarat saat dia berbicara selama konferensi pers pertama di Kabul pada 17 Agustus 2021 setelah pengambilalihan Afghanistan yang menakjubkan oleh Taliban. (Hoshang Hashimi / AFP)

“Pesan kami kepada Amerika adalah, jika terus tidak diakui, masalah di Afghanistan berlanjut, itu adalah masalah kawasan dan bisa berubah menjadi masalah bagi dunia," kata juru bicara Taliban Zabihullah Mujahid kepada wartawan dalam konferensi pers, dikutip dari Reuters, Minggu (31/10/2021).

Mujahid mengatakan alasan Taliban dan AS berperang terakhir kali juga karena keduanya tidak memiliki hubungan diplomatik.

"Isu-isu yang menyebabkan perang itu, bisa diselesaikan melalui negosiasi, bisa juga diselesaikan melalui kompromi politik," kata Mujahid.

Dia juga menambahkan bahwa pengakuan masyarakat internasional adalah hak rakyat Afghanistan.

AS diketahui menginvasi Afghanistan pada 2001 setelah serangan 11 September.

Saat itu, pemerintah Taliban menolak untuk menyerahkan pemimpin Al-Qaeda Osama bin Laden.

Meskipun tidak ada negara yang mengakui pemerintahan Taliban, para pejabat senior dari sejumlah negara telah bertemu dengan para pemimpin gerakan itu, baik di Kabul maupun di luar negeri, seperti Turkmenistan, China hingga Pakistan. (TribunWow.com/Alma Dyani P)

Berita terkait Konflik di Afghanistan lain

Tags:
TalibanHaibatullah AkhundzadaIslamKandahar
Rekomendasi untuk Anda
ANDA MUNGKIN MENYUKAI

BERITA TERKINI

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved