Breaking News:

Terkini Internasional

Akui Uji Coba Rudal Hipersonik China, Jenderal Top AS Sandingkan dengan Peluncuran Satelit Sputnik

Untuk pertama kalinya perwira tinggi militer AS mengkonfirmasi uji coba rudal hipersonik China dan menyebutnya sebagai perkembangan yang signifikan.

Penulis: Alma Dyani Putri
Editor: Elfan Fajar Nugroho
AFP/Mandel Ngan
Kepala Staf Gabungan Amerika Serikat, Mark Milley. Untuk pertama kalinya perwira tinggi militer AS mengkonfirmasi uji coba rudal hipersonik China dan menyebutnya sebagai perkembangan yang signifikan pada Rabu (27/10/2021). 

TRIBUNWOW.COM – Perwira Tinggi Militer Amerika Serikat (AS) untuk pertama kalinya mengkonfirmasi pengujian rudal hipersonik oleh China sebagai perkembangan yang signifikan.

Hal itu diungkapkan oleh Jenderal Mark Milley selaku Kepala Staf Gabungan AS pada Rabu (27/10/2021).

Mark Milley juga mengatakan bahwa uji coba rudal berkemampuan nuklir milik China akan sangat sulit untuk dilawan.

China telah membantah laporan bahwa mereka baru-baru ini menguji rudal hipersonik pada Agustus lalu yang mengejutkan intelijen AS.
China telah membantah laporan bahwa mereka baru-baru ini menguji rudal hipersonik pada Agustus lalu yang mengejutkan intelijen AS. (YouTube/CNA)

Baca juga: Kembali Tertinggal dari China hingga India, Misi Peluncuran Roket Luar Angkasa Korea Selatan Gagal

Baca juga: Korea Utara Klaim Sukses Uji Coba Rudal Jelajah Baru, Kim Jong Un Tak Terlihat Hadir

“Apa yang kami lihat adalah peristiwa yang sangat signifikan dari uji coba sistem senjata hipersonik.  Dan itu sangat mengkhawatirkan,” kata Milley kepada Bloomberg TV, dikutip dari AFP.

Jenderal tertinggi Pentagon itu bahkan menyandingkan upaya China tersebut, dengan peluncuran menakjubkan satelit pertama di dunia oleh Uni Soviet, yakni Sputnik, pada 1957 lalu.

“Saya tidak tahu apakah ini betul mirip dengan momen Sputnik atau tidak, tapi saya pikir itu sangat dekat dengan itu,” ujar Milley.

“Ini adalah peristiwa teknologi yang sangat signifikan dan itu menjadi perhatian kita semua.”

Pentagon sebelumnya menolak untuk mengkonfirmasi kabar uji coba rudal hipersonik oleh China tersebut.

Awalnya, surat kabar Financial Times menerbitkan laporan terkait peristiwa itu pada 16 Oktober.

Dalam laporannya, disebutkan bahwa AS terkejut atas peluncuran uji coba rudal oleh China Agustus lalu.

Secara teoritis, rudal itu dikatakan dapat menghindari sistem pertahanan AS dan kecepatan pengembangan sistem China, mengejutkan pejabat keamanan nasional negara tersebut.

Menurut Financial Times, rudal China mengelilingi Bumi pada ketinggian rendah dengan kecepatan lebih dari lima kali kecepatan suara, meskipun meleset dari target sejauh lebih dari 30 kilometer.

Namun, China telah membantah laporan itu, dengan mengatakan bahwa negaranya hanya melakukan tes rutin kendaraan luar angkasa, bukan rudal.

Saat ini, beberapa negara sudah pernah menguji rudal hipersonik, termasuk AS, Rusia, China hingga Korea Utara.

Sementara negara-negara lain juga sedang mengembangkan teknologi tersebut.

Hipersonik, sebagaimana dikutip dari AFP, adalah penemuan baru dalam teknologi rudal, karena bisa terbang lebih rendah dan lebih sulit terdeteksi jika dibandingkan dengan rudal balistik.

Rudal balistik Pukukksong-2 ini bisa diluncurkan dari kapal selam.
ILUSTRASI rudal balistik. Rudal balistik milik Korea Utara Pukukksong-2 ini bisa diluncurkan dari kapal selam. (Korean Central Television/Russia Today)

Selain itu, hipersonik juga dapat mencapai target lebih cepat sehingga akan lebih berbahaya, terutama jika dipasangi hulu ledak nuklir.

Sebelumnya, China meluncurkan rudal jarak menengah hipersonik miliknya, DF-17, pada 2019.

Mereka mengatakan rudal tersebut dapat menempuh jarak sekitar 2 ribu kilometer dan bisa membawa hulu ledak nuklir.

Baca juga: Korea Selatan Kembangkan Rudal Setara Nuklir, Perkuat Pertahanan Hadapi Korea Utara

Baca juga: Iran Bantu Hamas Kembangkan Rudal Mematikan untuk Lawan Israel, Telah Berkembang selama 5 Tahun

Tetapi, rudal tersebut berbeda dengan yang dilaporkan oleh Financial Times baru-baru ini, karena memiliki jangkauan yang lebih jauh.

Rudal terbaru China itu diduga dapat diluncurkan ke orbit sebelum kembali ke atmosfer untuk mencapai targetnya.

“Kemampuan militer China jauh lebih besar dari itu,” kata Mark Milley, dikutip dari CNN, Kamis (28/10/2021).

"Mereka berkembang pesat di luar angkasa, di dunia maya dan kemudian di domain tradisional darat, laut, dan udara,” tambahnya.

"China sangat signifikan di cakrawala kami.”

Bantahan China atas peluncuran rudal hipersonik Agustus lalu, dinyatakan oleh juru bicara Kementerian Luar Negeri Zhao Lijian.

"Tes ini adalah eksperimen pesawat ruang angkasa rutin untuk memverifikasi teknologi pesawat ruang angkasa yang dapat digunakan kembali,” katanya.

“Ini dapat memberikan cara yang nyaman dan murah bagi manusia untuk menggunakan ruang angkasa secara damai. Banyak perusahaan di dunia telah melakukan eksperimen serupa.”

Menteri Pertahanan AS Lloyd Austin telah berulang kali menekankan bahwa China adalah tantangan bagi Pentagon, ketika Beijing berlomba untuk memodernisasi militernya.

Bahkan, pekan lalu, Direktur CIA Bill Burns mengatakan China adalah ancaman teknologi terbesar bagi AS.

"Saya pikir dalam hal kapasitas yang luas, di berbagai teknologi yang muncul, saya pikir China mungkin saat ini (ancaman terbesar)," kata Burns saat berbicara di Universitas Stanford.

Sekretaris Pers Pentagon John Kirby menolak berkomentar lebih lanjut tentang uji coba rudal hipersonik China pada Rabu lalu.

"Saya tidak berpikir ada gunanya bagi kita untuk mengkarakterisasi ini dan memberi label padanya, kemajuan kemampuan ini," kata Kirby saat jumpa pers di Pentagon.

Dia mengatakan uji coba rudal hipersonik adalah salah satu "kekhawatiran" yang berkaitan dengan China di kawasan Indo-Pasifik.

“Ada serangkaian masalah sehubungan dengan China dari perspektif keamanan yang sangat mengkhawatirkan kami tentang ke mana arahnya di Indo-Pasifik,” kata Kirby.

"Secara keseluruhan, semua hal itu menjadi perhatian dan digunakan untuk menginformasikan konsep operasional yang ingin kami terapkan." (TribunWow.com/Alma Dyani P)

Berita terkait Amerika Serikat lain

Tags:
ChinaAmerika SerikatSatelit SputnikJenderal Mark MilleyRudal
Berita Terkait
ANDA MUNGKIN MENYUKAI
AA

BERITA TERKINI

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved