Konflik di Afghanistan
Dilanda Kemiskinan dan Kelaparan, Keluarga di Afghanistan Terpaksa Jual Bayinya Seharga Rp 7 Juta
Keluarga di Afghanistan terpaksa melepaskan bayi perempuannya untuk ditukar dengan uang senilai Rp 7 juta karena mengalami kemiskinan dan kelaparan.
Penulis: Alma Dyani Putri
Editor: Elfan Fajar Nugroho
Lapangan pekerjaan semakin berkurang di negara tersebut, dengan penetapan berbagai aturan dan larangan oleh pemerintahan baru bentukan Taliban.
Wanita hanya boleh bekerja di sektor kesehatan dan pendidikan, sementara para pria juga kesulitan untuk mencari kerja.
Hal serupa juga dikeluhkan oleh keluarga yang terpaksa menjual anak perempuannya itu.
Satu-satunya pekerjaan sang suami hanya mengumpulkan sampah secara lokal.
Namun, pekerjaan itu pun sekarang tidak bisa lagi menghasilkan uang.
“Kami kelaparan. Saat ini kami tidak memiliki tepung, tidak ada minyak di rumah. Kami tidak punya apa-apa,” kata sang suami.
Pria yang membeli putrinya telah membayar setengah dari biaya yang dijanjikan.
Penyerahan bayi tersebut akan dilakukan setelah putri mereka lebih dewasa dan sudah bisa berjalan.
Saat itu, sisa uang pembayaran juga akan diserahkan kepada pihak keluarga.
“Putri saya tidak tahu seperti apa masa depannya,” tambah sang suami.
“Saya tidak tahu bagaimana perasaannya tentang itu, tetapi saya harus melakukannya.”

Di sisi lain, di tengah krisis ekonomi yang semakin memburuk, Taliban dilaporkan telah meluncurkan program baru yang menawarkan gandum sebagai imbalan atas tenaga kerja.
Dilansir dari Hindustan Times yang mengutip laporan dari surat kabar Dawn, juru bicara Taliban Zabihullah Mujahid mengatakan hal tersebut dalam konferensi pers.
Mujahid menyebutkan program pembayaran dengan gandum akan diluncurkan di kota-kota besar Afghanistan, dengan tujuan untuk mempekerjakan 40 ribu orang di Kabul.
Laporan tersebut menunjukkan bahwa para pekerja yang menganggur dan paling berisiko mengalami kelaparan, akan ditawari gandum daripada uang.