Breaking News:

Terkini Daerah

Kejanggalan Kasus Viral 3 Anak Dilecehkan Ayah Kandung yang Ditutup Polisi, Beberkan Hasil Visum

Belum lama ini viral cerita seorang ibu yang berjuang mendapat keadilan untuk ketiga anaknya yang menjadi korban pelecehan seksual di Luwu Timur.

Surya.co.id
Ilustrasi - Viral cerita seorang ibu yang berjuang mendapat keadilan untuk ketiga anaknya yang menjadi korban pelecehan seksual di Luwu Timur. 

TRIBUNWOW.COM - Belum lama ini viral cerita seorang ibu yang berjuang mendapat keadilan untuk ketiga anaknya yang menjadi korban pelecehan seksual di Luwu Timur.

Dilansir TribunWow.com, ibu tersebut adalah RS yang kemudian melaporkan mantan suaminya, SU pada 2019 lalu.

Sayangnya, proses penyelidikan kasus ini dihentikan dengan alasan yang dianggap tak wajar.

Cerita RS ini kemudian menuari sorotan Divisi Perempuan Anak dan Disabilitas LBH Makassar.

Ketua Divisi Perempuan Anak dan Disabilitas LBH Makassar, Rezky Pratiwi pun akhirnya menjadi pengacara RS.

Menurut Rezky, ada sejumlah kejanggalan dalam penghentian penyelidikan kasus pelecehan tiga anak oleh ayah kandungnya ini.

Baca juga: Fenomena yang Ditutupi, 216 Ribu Anak Jadi Korban Pelecehan Seksual di Gereja Prancis dalam 7 Dekade

Baca juga: Sempat Dituduh Lakukan Pelecehan Seksual, Donald Trump Gugat Balik Mantan Kontestan The Apprentice

Kejanggalan pertama yang dicurigai Rezky adalah saat para korban diperiksa polisi tanpa didampingi bantuan hukum.

"Dalam proses 63 hari kasus ini berjalan, tidak ada bantuan hukum di dalamnya, saat anak diperiksa dan diambil keterangannya, para anak tidak didampingi oleh ibu atau pendamping lainnya," terang Rezky, dikutip dari kanal YouTube Kompas TV, Jumat (8/10/2021).

"Kenapa pendampingan dalam keterangan ini penting karena harus dipastikan betul yang mengambil keterangan ini punya kapasitas untuk menggali keterangan anak."

"Karena berbeda mengambil keterangan anak dan dewasa, maka kami meragukan keterangan dari kejadian perkara ini utuh."

Kejanggalan lain yang dirasakan Resky adalah adanya dugaan maladministrasi yang dilakukan Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) Luwu Timur dan Polres Luwu Timur.

Pasalnya, dalam asasemennya, pihak P2TP2A menyebut ketiga korban tidak mengalami trauma terhadap pelaku pelecehan.

"Ada asesmen dari P2TP2A Luwu Timur yang kami anggap didalamnya ada maladministrasi sehingga tidak objektif dan tidak bisa digunakan sebagai dasar penghentian penyelidikan," tuturnya.

"Kalau disebutkan ketika bertemu dengan terlapor para anak tidak menunjukkan trauma, kalau dari psikolog kami di Makassar, trauma itu tidak selalu jadi respons atau ekspresi dari korban kekerasan seksual."

Hasil asasemen itu berbanding terbalik dengan hasil pemeriksaan LBH Makassar.

Menurut Resky, para korban membenarkan adanya pelecehan seksual yang dilakukan oleh sang ayah.

Bahkan, anak terakhir masih bisa memeragakan aksi pelaku saat melecehkan bocah di bawah umur tersebut.

Baca juga: Puluhan Staf WHO Lakukan Pelecehan Seksual di Kongo saat Krisis Ebola, Direktur Jenderal Minta Maaf

Baca juga: Wanita Lain Ngaku Jadi Korban Pelecehan Ayah Taqy Malik, Dibujuk Rayu saat Transaksi Jual Beli Rumah

Rezky menyebut pelecehan itu tak hanya dilakukan ayah korban, melainkan ada dua orang lain yang turut melakukannya.

Selain itu, Rezky juga meneybut kejanggalan hasil visum.

Berdasarkan hasil visum polisi disebit tak ada tanda kekerasan seksual pada tubuh korban.

Halaman
12
ANDA MUNGKIN MENYUKAI
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved