Virus Corona
Menkes Buka Suara terkait Obat Pil Antivirus Molnupiravir untuk Pasien Covid-19 Isolasi Mandiri
Dia mengatakan akan mengkaji segala obat baru baik itu Molnupiravir atau obat baru lainnya untuk Covid-19.
Penulis: Afzal Nur Iman
Editor: Elfan Fajar Nugroho
Selain efektif pihak Merck juga menyampaikan bahwa hasil uji klinis tersebut juga relatif aman dari efek samping berbahaya.
Seluruh pasien yang diberikan obat tersebut dikatakan tidak ada yang mengalami efek samping.
Keterangan Menkes soal Molnupiravir bisa disimak sejak menit ke-18:
Kata Pakar dari IDI
Ketua Satgas Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Tanggap Covid-19, Zubairi Djoerban menyebut menyambut baik hadirnya obat oral untuk Covid-19 ini.
"Covid-19 ini memang ada bermacam-macam upaya obat itu ya, jadi ada yang khusus untuk tatalaksana virusnya ada juga untuk mengurangi komplikasinya, dalam hal obat yang baru ini langsung bertujuan terhadap virusnya, dan ini istimewanya dalam bentuk pil," katanya dalam wawancara di kanal Youtube Kompas TV pada, Senin (4/10/2021).
Dia menyebut, sebelumnya Molnupiravir diketahui ditujukkan untuk virus RNA.
Namun sejumlah penelitian telah membuktikan bahwa Molnupiravir bermanfaat jika digunakan untuk virus lain termasuk Corona yang bisa menyebabkan Covid-19.
"Dan juga beberapa penyakit lain yang termasuk dalam kelompok Virus Corona, namun, yang sekarang ini terbuktinya kuat banget untuk penyakit Covid ya," katanya.
Menjelaskan terkait efek Molnupiravir, dia menjelaskan obat ini bisa berguna untuk menghambat replikasi virus ketika berada di dalam tubuh.
Dijelaskan juga bahwa obat ini berbeda penggunaan dengan obat terapi Covid-19 lain seperti Remdesivir yang sudah digunakan dalam tatalaksana Covid-19 untuk gejala berat.
"Untuk replikasi itu, jadi dibikin eror, dibikin ada kesalahan sehingga virusnya mati atau tidak bisa untuk replikasi," katanya.
Baca juga: Bagaimana Risiko Pembekuan Darah pada Pasien Covid-19 yang Isolasi Mandiri? Simak Penjelasannya
"Sedangkan kalau yang lain itu untuk terhadap protein yang mengalami yang mengalami puncak, jadi beda target dan kelihatannya lebih baik apalagi ini melalui pil," jelasnya.