Breaking News:

Virus Corona

Penurunan Kesadaran saat Isolasi Mandiri, Kenali Risiko Gejala Delirium pada Pasien Covid-19

Penurunan kesadaran atau delirium bisa menjadi tanda bahaya bagi pasien Covid-19 saat menjalani isolasi mandiri. 

Tayang:
Penulis: Afzal Nur Iman
Editor: Atri Wahyu Mukti
Youtube Direktorat Kesehatan Keluarga
Materi gejala tidak khas pada lansia yang disampaikan oleh Staf Divisi Geriatri, Departemen Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Anastasia Asylia Dinakrisma, dalam webinar di Youtube Direktorat Kesehatan Keluarga pada Sabtu (4/9/2021). Penurunan kesadaran bisa menjadi satu-satunya gejala Covid-19 pada lansia. 

TRIBUNWOW.COM - Penurunan kesadaran atau delirium bisa menjadi tanda bahaya bagi pasien Covid-19 saat menjalani isolasi mandiri

Terlebih jika terjadi pada orang tua, mereka harus segera di bawa ke rumah sakit jika mengalaminya. 

Satu penelitian melaporkan bahwa antara 20 persen dan 30 persen pasien Covid-19 yang dirawat di rumah sakit mengalami delirium.

Baca juga: Selain Terapi Penciuman, Coba 5 Herbal Ini untuk Mengatasi Anosmia saat Isolasi Mandiri Covid-19

Baca juga: Serak atau Nyeri Telan saat Isolasi Mandiri Covid-19? Coba 8 Bahan Alami Pelega Tenggorokan Berikut

Sementara penelitian lain menunjukkan sebanyak 70 persen pasien Covid-19 yang kritis mengalaminya.

Delirium adalah respons umum terhadap infeksi dan penyakit lainnya, terutama pada orang tua, dan tidak sama dengan masalah otak yang sedang berlangsung seperti demensia atau penyakit Alzheimer.

Hal ini dapat dipicu oleh hal-hal seperti dehidrasi, gangguan keseimbangan garam (elektrolit) dalam tubuh, kadar oksigen yang rendah dan beberapa obat seperti obat penghilang rasa sakit dan steroid.

Satu di antara penyebab delirium pada pasien Covid-19 bisa jadi kekurangan oksigen karena virus menyerang paru-paru.

Selain itu, delirium juga bisa disebabkan karena badai sitokin.

“Peradangan yang disebabkan oleh cara sistem kekebalan tubuh bereaksi berlebihan terhadap virus dapat memblokir darah ke otak pasien,” kata Spesialis Perawatan Neurokritikal, Pravin George, DO, dikutip dari situs Cleveland Clinic.

Namun, dia juga mengatakan jika ada kemungkinan virus benar-benar menyerang otak.

Baca juga: Setelah Isolasi Mandiri Covid-19, Ada 7 Gejala yang Diduga Bisa Bertahan Sangat Lama

“Virus mungkin menyerang neuron di dalam jaringan otak. Otak memiliki neuron yang mengandung reseptor ACE2 yang sangat mirip dengan reseptor yang ditemukan di paru-paru yang berfungsi sebagai pintu gerbang virus corona untuk menyerang sel di sana,” kata Dr. George.

Dia juga menjelaskan jika delirium dibagi ke dalam dua kategori. 

Delirium Hiperaktif

Di mana seseorang tiba-tiba berubah karakter dan mulai bertingkah aneh.

Mereka mungkin gelisah atau tertekan, atau bahkan agresif.

Delirium semacam ini jelas bagi mereka yang merawat mereka karena apa yang mereka katakan atau lakukan.

Delirium Hipoaktif,

Kategori ini nampaknya lebih umum dan lebih sulit dikenali.

Orang dengan delirium hipoaktif menjadi menarik diri dan kurang responsif atau terlibat dalam apa yang terjadi di sekitar mereka, dan terkadang mengantuk.

Mereka juga bisa menjadi mengompol, karena mereka tidak menyadari bahwa mereka membutuhkan toilet, dan tidak memiliki nafsu makan dan minum.

Terkadang seseorang dengan delirium dapat mengalami disorientasi waktu atau tempat, yang tidak selalu jelas kecuali jika ditanyakan secara langsung.

Kini telah banyak bukti jika virus penyebab Covid-19 bisa menyebabkan masalah pada otak.

Dan lebih banyak penelitian yang menghubungkan virus dengan kerusakan pada sistem saraf pusat tubuh dan masalah neurologis lainnya, termasuk delirium.

“Ketika kami pertama kali menemukan virus, fokusnya adalah bagaimana virus itu menyerang sistem pernapasan,” kata Dr. George.

"Seringkali ia melewati sistem pernapasan itu, tetapi yang terjadi adalah setelah ia menyerang sistem pernapasan, ia mulai masuk ke otak, masuk ke ginjal, dan menyebar ke seluruh tubuh."

Karena lebih banyak yang telah dipelajari tentang virus, CDC juga telah memperluas daftar gejala untuk memasukkan masalah yang disebabkan oleh infeksi yang mencerminkan efek luas yang dapat ditimbulkannya

Misalnya kehilangan rasa atau bau yang merupakan gejala neurologis, diare  yang merupakan gejala saluran pencernaan, dan sakit kepala yang bisa disebabkan banyak hal.

Cara lain virus mempengaruhi tubuh, kata Dr. George, adalah dengan membuat darah menjadi sangat kental yang dapat menyebabkan stroke.

Satu studi dari Inggris menemukan bahwa 57 dari 125 pasien mengalami stroke iskemik sementara 39 menunjukkan gejala keadaan mental yang berubah.

Dan stroke yang disebabkan oleh infeksi Covid-19 telah terdeteksi pada pasien yang lebih muda.

Itu menyebabkan kekhawatiran mengingat lonjakan terbaru kasus positif Covid-19 kebanyakan merupakan pasien di bawah usia 40 tahun.

“Ini tidak berarti bahwa pasien yang lebih muda akan mengalami gejala ini,” kata Dr. George.

“Tetapi itu masih harus ditanggapi dengan serius, terutama karena pasien yang lebih muda mewakili sebagian besar kasus baru.”

“Masih banyak yang tidak kita ketahui tentang virus ini,” lanjutnya.

“Dan ini adalah kondisi serius yang melemahkan yang dapat memiliki efek kesehatan jangka panjang bahkan jika seseorang 'sembuh' dari virus."

Menurut data ZOE Covid Study Symptom, kemungkinan mengalami delirium dengan Covid-19 bervariasi berdasarkan usia.

Dalam data aplikasi kami, hanya sekitar 6 persen anak-anak yang sakit Covid-19 mengalami delirium.

Sementara sekitar 15 persen orang dewasa berusia 16-65 tahun dan hampir 20 persen dari mereka yang berusia di atas 65 tahun melaporkannya.

Delirium adalah satu-satunya gejala penyakit untuk sekitar satu dari lima pasien lanjut usia yang dirawat di rumah sakit karena Covid-19.

Artinya pasien lansia mungkin hanya mengalami gejala delirium tanpa mengalami gejala umum Covid-19 seperti demam, batuk, dan sesak napas.

Jadi sangat penting untuk mengawasi tanda-tanda pada kerabat yang lebih tua atau terlebih jika berada dalam satu rumah.

Jika mengetahui mengalami delirium, harus mencari bantuan medis, terutama jika mereka lemah dan lanjut usia. (Tribunwow.com/Afzal Nur Iman)

Baca Artikel Terkait Isolasi Mandiri Lainnya

Tags:
Virus CoronaCovid-19GejalaDeliriumPasienisolasi mandiri
Rekomendasi untuk Anda
ANDA MUNGKIN MENYUKAI

BERITA TERKINI

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved