Breaking News:

Terkini Internasional

Residivis di Korea Kembali Beraksi Lakukan Kejahatan Seksual, Peraturan Pemerintah Tuai Kritik

Mantan narapidana kejahatan seksual di Korea Sbunuh 2 wanita setelah merusak gelang kaki elektroniknya menyebabkan kritik publik terhadap teknologi.

YouTube/BBC News
Ilustrasi gelang kaki elektronik. Seorang mantan narapidana kejahatan seksual di Korea Selatan ditangkap karena diduga membunuh dua wanita setelah merusak gelang kaki elektroniknya pada Minggu, (29/8/2021). 

TRIBUNWOW-COM – Seorang pria mantan narapidana bermarga Kang (56) ditangkap karena diduga membunuh dua wanita.

Kang membunuh keduanya setelah ia merusak gelang kaki elektroniknya di Songpa, Seoul, Korea Selatan, pada Minggu, (29/8/2021).

Diketahui, pemerintah Korea Selatan mewajibkan mantan narapidana kejahatan seksual di negaranya untuk menggunakan gelang kaki ber-GPS guna memudahkan polisi mengawasi mereka setelah dibebaskan dari penjara. 

Baca juga: Dibaca RM BTS, Buku Lama ‘Dying Young’ Puncaki Penjualan di Korea Selatan setelah Cetak Ulang

Kang setelah melakukan interogasi di Pengadilan Distrik Timur, Songpa-gu, Seoul pada Selasa (31/8/2021).
Kang setelah melakukan interogasi di Pengadilan Distrik Timur, Songpa-gu, Seoul pada Selasa (31/8/2021). (YouTube/Yonhapnews Agency)

Dilansir dari Korea Times, Kang yang juga baru bebas dari penjara pada Mei lalu pasca-menjalani hukuman 15 tahun karena kejahatan seksual dan perampokan juga diwajibkan menggunakan teknologi itu.

Namun, Kang kembali ditangkap karena melakukan pembunuhan sehingga menimbulkan kritik masyarakat terkait efektivitas gelang kaki itu.

Dijelaskan bahwa pembunuhan wanita pertama oleh Kang dilakukan sebelum merusak gelang kaki elektroniknya dan pembunuhan kedua dilakukan sesudahnya.

Kang kemudian menyerahkan diri ke Kantor Polisi Songpa sekitar pukul 07.55 waktu setempat pada Minggu lalu dan langsung ditangkap.

Sebelumnya, dikutip dari News1, Kang mematahkan gelang kaki elektroniknya dan melarikan diri di sebuah jalan di Sincheon-dong, Songpa-gu, Seoul.

Baca juga: Perdana Tayang, Drama Korea Kim Seon Ho dan Shin Min Ah Hometown Cha-Cha-Cha Raih Rating Nomor 1

Ditemukan bahwa Kang, yang melakukan perjalanan ke Stasiun Seoul dengan mobil sewaan, meninggalkan mobil itu dan melarikan diri. 

Gelang kaki elektronik ditemukan telah dibuang di dekat Stasiun Mongchontoseong di Subway Jalur 8.

Interogasi dilakukan di Pengadilan Distrik Timur di Songpa-gu, Seoul dan selesai dalam waktu 50 menit pada Selasa, (31/8/2021).

“Sayang sekali saya tidak membunuh lebih banyak lagi,” kata Kang sambil meninggalkan ruang sidang.

Jika surat perintah penangkapan Kang telah dikeluarkan, polisi akan mengadakan komite musyawarah untuk memutuskan apakah akan mengungkapkan identitasnya atau tidak.

Korea Selatan memperkenalkan gelang kaki elektronik sejak tahun 2008.

Alat itu digunakan untuk jangka waktu yang telah ditentukan dan memungkinkan petugas memeriksa keberadaan mereka secara real-time selama masa percobaan.

Beberapa kejahatan yang dilakukan oleh mantan narapidana yang diwajibkan memakai gelang kaki elektronik telah memicu kritik masyarakat.

Menurut data Kementerian Kehakiman Korea, sepanjang tahun ini ada 13 insiden di mana mantan narapidana merusak gelang kaki elektroniknya.

Baca juga: Pesawat Militer dengan Pengungsi dari Afghanistan Tiba di Korea Selatan di Tengah Amandemen UU

Para ahli meminta pemerintah buat langkah baru karena merasa teknologi itu sudah tidak berfungsi lagi karena hanya bisa melacak posisi pelaku tanpa mengetahui aktivitas yang sedang dilakukannya saat itu sehingga dirasa kurang efektif.

“Di bawah sistem saat ini, kejahata baru diketahui polisi setelah hal itu terjadi. Untuk mencegah kejahatan lebih lanjut, polisi juga harus memiliki akses ke pergerakan mantan narapidana,” ungkap seorang profesor administrasi kepolisian di Universitas Dongguk, Lee Yoon Ho pada Senin, (30/8/2021).

Kementerian kehakiman meminta maaf dan berencana untuk membuat gelang kaki elektrnik dengan bahan yang lebih kuat untuk mencegah kerusakan serta memperketat hukuman bagi pelanggar.

“Kami meminta maaf kepada keluarga korban yang berduka serta kepada publik karena menimbulkan kekhawatiran. Kami akan melakukan yang terbaik untuk mencegah terulangnya kembali,” kata Yoon Woong-jang, kepala biro kebijakan pencegahan kejahatan, saat konferensi pers pada Senin, (30/8/2021). (TribunWow.com/Alma Dyani P)

Berita Terkini Internasional lain

Sumber: TribunWow.com
ANDA MUNGKIN MENYUKAI
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved