Breaking News:

Terkini Nasional

Soal Mural, Jokowi Cenderung Santai tapi Istana Minta Warga Hormati Presiden Layaknya Orangtua

Istana dan Presiden Jokowi memiliki pendapat berbeda soal heboh mural yang berisi kritikan terhadap pemerintah.

Penulis: anung aulia malik
Editor: Rekarinta Vintoko
Kolase Capture YouTube Sekretariat Presiden dan Istimewa via Tribunnews.com
Foto kiri: Kepala Staf Kepresidenan (KSP) Moeldoko buka suara terkait kekisruhan dua kubu dalam badan partai Demokrat, Minggu (28/3/2021). Foto kanan: Presiden Joko Widodo (Jokowi) menginstruksikan penurunan harga PCR dan percepatan hasil tes 1x24 jam, Minggu (15/8/2021). Terbaru, Jokowi dan Istana memiliki tanggapan berbeda soal mural yang mengkritisi RI 1. 

TRIBUNWOW.COM - Belum lama ini masyarakat sempat dibuat heboh dengan adanya sejumlah mural yang mengkritisi Presiden RI Joko Widodo (Jokowi) dan pemerintah Indonesia, berakhir dihapus oleh aparat berwenang.

Satu di antaranya adalah mural gambar seorang pria menyerupai Presiden Jokowi dan di bagian matanya ditutupi tulisan 404: Not Found, mural tersebut diketahui digambar di Batuceper, Kota Tangerang, Banten.

Menanggapi persoalan mural ini, Presiden Jokowi cenderung memberikan jawaban yang santai dibandingkan pihak Istana.

Mural Presiden Jokowi bertuliskan 404:Not Found di Batuceper, Kota Tangerang, Banten.
Mural Presiden Jokowi bertuliskan 404:Not Found di Batuceper, Kota Tangerang, Banten. (Tribunnews.com/Istimewa)

Jokowi Ingin Polisi Kalem

Dikutip TribunWow.com dari TribunJakarta.com, menanggapi mural, Jokowi telah berpesan langsung kepada Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo.

Jokowi berpesan agar pihak kepolisian tidak terlalu agresif menanggapi kritikan dari masyarakat khususnya dalam bentuk kesenian seperti mural.

"Bapak Presiden tidak berkenan bila kita (Polri, red) responsif terhadap hal-hal seperti itu. Demikian juga Bapak Kapolri selalu mengingatkan kita dan jajaran, terutama dalam penerapan UU ITE," kata Kepala Badan Reserse Kriminal (Kabareskrim) Polri Komjen Pol Agus Andrianto kepada wartawan, Kamis (19/8/2021).

Baca juga: Haris Azhar Bandingkan Mural dengan Cat Pesawat Kepresidenan, Faldo Maldini: Jangan Dibenarkan Dong

Baca juga: Ngotot Bantah Pernyataan Said Didu soal Mural Kritik Presiden, Ali Ngabalin: Anda Menyesatkan Rakyat

Menindaklanjuti perintah RI 1, Polri telah meminta kepada para polisi di daerah agar tak terlalu agresif ketika menanggapi kritikan termasuk mural satire.

Komjen Agus juga menyampaikan kepada masyarakat agar melapor jika ada polisi yang dinilai membungkam kritik.

"Arahan Kapolri, Kabareskrim, Dirtipidsiber kepada jajaran selalu kami ingatkan, termasuk ini kan juga menjadi sarana itu. Komplain saja kalau masih dilakukan," kata Komjen Agus kepada wartawan, Kamis (19/8/2021).

Komjen Agus menambahkan, yang menjadi masalah adalah konten pemecah belah bangsa yang sarat akan fitnah.

Moeldoko Minta Masyarakat Hormati

Sementara itu Kepala Staf Kepresidenan, Moeldoko ingin agar publik menyampaikan kritikan dengan cara yang benar.

"Bukan hanya selalu bicara antikritik. Cobalah lihat cara-cara mengkritiknya itu, berikutnya kadang-kadang kita mudah sekali untuk menjustifikasi, menyamakan antara kritik dengan fitnah," kata Moeldoko dalam tayangan video di kanal YouTube Kompas TV, Kamis (19/8/2021).

Moeldoko meminta masyarakat agar menghormati sosok presiden ibaratnya orangtua sehingga jangan sembarangan dalam memberikan kritik.

"Janganlah seperti itu, karena apapun Presiden adalah orang tua kita yang sangat perlu untuk kita hormati. Jangan sembarangan dalam menyampaikan sesuatu dalam bentuk kalimat atau dalam bentuk gambar," pungkasnya.

Baca juga: Fakta Viral Mural Jokowi, Ternyata Ini Asal Usul Kata 404: Not Found dan Artinya Menurut Roy Suryo

Sudjiwo Tedjo: Mural Ini Supaya Tidak Stroke Orangnya

Di sisi lain, Budayawan Sudjiwo Tedjo turut buka suara soal heboh dihapusnya sejumlah mural berisi kritik terhadap Presiden Joko Widodo (Jokowi).

Sudjiwo menganggap mural sebagai bagian dari seni.

Meski dihapus, kata dia, isi kritikan terhadap Jokowi justru semakin melekat di pikiran masyarakat.

Hal itu diungkap Sudjiwo dalam kanal YouTube tvOneNews, Kamis (19/8/2021).

"Mural ini supaya tidak stroke orangnya, mural ini untuk menghilangkan sumbatan-sumbatan itu," ucap Sudjiwo.

"Supaya masyarakat kita secara sosial tidak stroke."

Ia kemudian menyinggung sejumlah isi kritikan dalam mural yang viral di media sosial.

Menuut Sudjiwo, mural menjadi satu di antara sejumlah cara masyarakat menyampaikan keluh kesahnya.

"Kalau misalkan 'Mari kita sehat di negara yang sakit' itu ditahan-tahan, enggak diungkapkan, lama-lama bisa stroke secara sosial," katanya.

"Stroke-nya itu pemberontakan, itu lebih bahaya."

"Ini orang ketawa-ketawa kok nonton kalau jujur."

Selain menjadi media kritik, kata Sudjiwo, mural juga bisa menjadi media hiburan masyarakat.

Karena itu, menurutnya mural juga bisa menghilangkan kejenuhan masyarakat.

"Tapi terhibur, perjalanan dari pabrik ke rumahnya menjadi perjalanan psikologis," katanya.

"Manusia modern itu stres karena dari rumah ke tempat kerja perjalanannya fisik aja enggak ada hiburan di kiri kanan."

Sudjiwo melanjutkan, meski mural sudah dihapus, ingatan masyarakat soal kritik terhadap Jokowi tak akan hilang.

"Mural itu seperti kerinduan yang enggak bisa dihapus."

"Mural bisa dihapus, tapi 'Tuhan aku lapar' semakin nempel di orang," tukasnya. (TribunWow.com/Anung/Tami)

Artikel ini diolah dari TribunJakarta.com dengan judul Jokowi Minta Polisi Tidak Terlalu Responsif Terhadap Mural Kritik dan TribunnewsBogor.com dengan judul Tanggapi Polemik Mural Jokowi, Moeldoko Minta Agar Tak Sembarangan Berikan Kritik

Berita lain terkait Mural

Sumber: TribunWow.com
Tags:
MuralJokowiTangerangBantenListyo Sigit PrabowoMoeldoko
Berita Terkait
ANDA MUNGKIN MENYUKAI
AA

BERITA TERKINI

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved