Virus Corona
Selain Berjuang untuk Pulih Pasca-Covid-19, Pasien Long Covid Juga Disebut Rentan Tak Dipercaya
Fenomena long Covid sedang diteliti para ahli dan telah banyak dibicarakan di dunia kesehatan
Penulis: Afzal Nur Iman
Editor: Lailatun Niqmah
TRIBUNWOW.COM - Fenomena long Covid sedang diteliti para ahli dan telah banyak dibicarakan di dunia kesehatan.
Tetapi sepertinya pasien yang mengalami long Covid-19 masih rentan untuk tidak diperaya atau mengalami stigma di masyarakat.
Hal itu juga dikatakan Nisreen A Alwan adalah profesor di bidang Kesehatan Masyarakat di Universitas Southampton dan Konsultan Kehormatan Kesehatan Masyarakat, di Rumah Sakit Universitas Southampton NHS dalam keteranganya di situs The BMJ International pada Kamis (25/8/2021).
Dia menjelaskan bahwa stigma pada pasien long Covid, selain akan merugikan bagi pasien sendiri, juga akan merugikan bagi pelayanan kesehatan, dan masyarakat secara umum.
"Banyak dari mereka telah menjadi kehilangan kepercayaan dan kesehatan mereka yang buruk tidak diketahui selama berbulan-bulan," ujarnya.
Baca juga: Mereka Kerap Dibayangi Stigma, Sekitar 100 Ribu Anak Muda di Inggris Alami Long Covid-19
"Stigma mendorong orang ke bawah tanah dan menjauh dari layanan kesehatan, berpengaruh pada tekanan psikologis dan penyakit mental, dan dengan demikian membahayakan hasil kesehatan fisik jangka panjang."
Tidak ada penelitian yang jelas soal stigma ini di masyarakat.
Tetapi banyak kesaksian dari para pasien yang muncul ke publik atau dilaporkan pada dokter yang menanganinya.
Dia menyebut bahwa secara umum mereka menghadapi diskriminasi institusional dan stigma yang diinternalisasi.
"Diskriminasi institusional didefinisikan sebagai kegagalan kolektif suatu sistem untuk memberikan layanan yang tepat dan profesional kepada sekelompok orang karena identitas atau kondisi kesehatan mereka," jelasnya.
Hal ini bukan hanya bisa terjadi karena disengaja oleh sekelompok orang, tetapi bisa juga berjalan tanpa disadari.
Misalnya karena mendiamkan diskriminasi yang dilakukan orang lain terhadap pasien, dan tidak adanya dorongan bagi pasien untuk mendapat pelayanan kesehatan.
"Di mana kekhawatiran dan gejala orang yang hidup dengan long Covid biasanya diabaikan oleh penyedia layanan," ujarnya.
Hal itu juga karena tidak adanya pedoman yang tidak cukup spesifik tentang long Covid.
Itu juga sering kali mengakibatkan kurangnya diagnosis.
Tanpa diagnosis, pasien akan sulit untuk mendapat cuti sakit yang memadai dan dukungan keuangan.
Baca juga: Jaga Kesehatan Otak saat Terinfeksi Covid-19, Coba Lakukan 5 Rutinitas Ini di Pagi Hari saat Isoman
Baca juga: Bisa karena Kabut Otak, Simak Tips Mengatasi Mudah Lupa seusai Isolasi Mandiri atau Sembuh Covid-19
Mereka juga berisiko akan mengalami pemecatan maupun hukuman karena apa yang mereka alami tidak diakui.
"Diskriminasi covid yang berkepanjangan diperparah oleh ketidakadilan struktural yang ada sebelum pandemi ini," kata Alwan.
"Ini termasuk perawatan kesehatan dan sosial, pasokan makanan, dan pekerja utilitas, banyak di antaranya memiliki kontrak tidak tetap dan tidak memenuhi syarat untuk mendapatkan dukungan untuk mengisolasi atau cuti sakit berbayar."
Dalam kasus seperti itu, antisipasi stigma dapat membuat mereka enggan untuk terlibat dengan layanan kesehatan dan mencari diagnosis.
Dia juga menjelaskan, itulah salah satu alasan mengapa Inggris terus menghadapi hambatan dalam tes HIV, empat dekade memasuki pandemi HIV.
Diskriminasi dan stigma yang terinternalisasi memiliki banyak efek jangka panjang yang tidak baik bagi masyarakat itu sendiri.
Sebagaimana dibuktikan dalam kondisi kesehatan lain, stigma membahayakan kualitas hidup orang.
Bagi pasien, tentu saja ini bisa memicu penyakit fisik yang lain dan memicu masalah kesehatan mental.
Sebelumnya, dilansir dari The Guardian pada Selasa (10/8/2021), diketahui bahwa terdapat lebih dari 100 ribu anak muda mengalami long Covid di Inggris.
Dari anak-anak muda ini, 72 ribu berusia 17-24 dan 34 ribu berusia di bawah 16 tahun.
Penelitian menunjukkan hanya 4 persen dari anak-anak yang terinfeksi Covid-19 berpotensi mengalami long Covid.
Tetapi tetap saja jumlah itu cukup banyak.
Gejala yang paling umum termasuk sakit kepala, kelelahan, sakit tenggorokan, dan kehilangan penciuman.
“Kita bisa memastikan bahwa anak-anak mendapatkan long Covid,” kata Dr Elaine Maxwell dari National Institute for Health Research.
“Tetapi masalah dengan long Covid adalah bahwa itu bukan satu definisi (suatu penyakit).”
Gejala umum Covid panjang yang terdaftar oleh Pusat Pelayanan Kesehatan Inggris (NHS) termasuk masalah sensorik, seperti kehilangan penciuman dan rasa, kabut otak, dan gejala jantung-pernapasan.
Tetapi anak-anak cenderung memiliki gejala yang sedikit berbeda.
Sebuah studi baru-baru ini terhadap 2 juta klaim asuransi dari organisasi AS Fair Health menemukan bahwa anak di bawah 18 tahun lebih cenderung melaporkan masalah usus dan “gangguan penyesuaian” (reaksi emosional atau perilaku terhadap peristiwa kehidupan yang penuh tekanan).
Karena perbedaan ini, gejala-gejala ini kadang-kadang diperlakukan dengan skeptis dan anak-anak yang mengalami long Covid kerap mendapat stigma.
“Kami masih pada tahap di mana beberapa orang mengatakan bahwa anak-anak tidak mengalami long Covid,” kata Maxwell.
Ketidakpercayaan ini dapat meluas ke guru, pekerja sosial, dan bahkan profesional medis, menambah stres dan ketidakpastian hidup sebagai remaja dengan long Covid.
Bahkan diketahui orang dengan sindrom serupa, seperti kelelahan kronis, sering dilaporkan dipecat oleh petugas kesehatan.
“Orang-orang diremehkan dan tidak dipercaya,” kata Sammie Mcfarland dari Long Covid Kids, yang memiliki 3.500 anggota.
Dia memiliki anggota mulai dari usia tujuh bulan hingga 18 tahun.
Mcfarland membentuk kelompok pendukung setelah putrinya yang berusia 15 tahun, Kitty, menderita long Covid pada musim semi 2020.
Pada janji medis musim gugur itu, Mcfarland, yang juga mengalami long Covid, menyebutkan kondisi Kitty kepada seorang perawat.
“Dia memberi tahu saya bahwa putri saya meniru gejala saya dan penyebabnya adalah karena isolasi, dan dia akan merasa lebih baik ketika dia melihat teman-temannya lagi,” kata Mcfarland.
Kami masih pada tahap di mana beberapa orang meyakini bahwa anak-anak tidak dapat mengalami long Covid. (Tribunwow.com/Afzal Nur Iman)
Baca Artikel Terkait Covid-19 Lainnya