Dana Fiktif
Update Sumbangan Fiktif Rp 2 Triliun dari Anak Akidi Tio, Polisi Ungkap Pengakuan Kakak Heriyanti
Polisi ungkap pengakuan dari kakak Heriyanti anak Akidi Tio terkait sumbangan fiktif Rp 2 trilliun untuk Sumsel.
Penulis: Rilo Pambudi
Editor: Rekarinta Vintoko
"Dia tidak pernah mendengar, tidak pernah melihat, tidak pernah mengetahui bahwa orang tuanya memiliki uang sebesar Rp 2 triliun," terang Supriyadi.
Baca juga: 5 Anak Akidi Tio Kini Dicari Polisi, Disebut-sebut Jadi Pengusaha Sukses di Jakarta
Jumlah Saldo Jauh dari Cukup
Di sisi lain, sebelumnya Kepala Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK), Dian Ediana Rae membeberkan saldo rekening anak Akidi Tio, Heriyanti.
Dian menyebut saldo rekening Heriyanti jauh dari angka Rp 2 triliun (T).
Bahkan, saldo anak bungsu Akidi Tio itu masih sangat jauh untuk mencapai setengah dari uang sumbangan yang dijanjikan.
Hal itu diungkap dalam kanal YouTube tvOneNews, Selasa (3/8/2021).
Baca juga: Fakta Viral Sumbangan 2T dari Warteg di Jakarta, Beda dengan Akidi Tio, Pemilik Kini Dicari Warga
Baca juga: Laporkan Heriyanti Anak Akidi Tio karena Utang, dr Siti Mirza Justru Ingin Mencabutnya: Tidak Guna
Meski mengetahui jumlah saldo rekening Heriyanti, Dian enggan membeberkannya secara gamblang.
Ia hanya menyebut Heriyanti mustahil bisa membayar sumbangan Rp 2 triliun seperti yang dijanjikan.
"Saya kira saya tidak bicara angka pasti ya," ujar Dian.
"Tetapi saya kira pengamatan kita terkait seluruh rekening terkait nyatanya terlalu jauh memenuhi kewajiban dua triliun."
Dian membuat pengecualian, Heriyanti kemungkinan bisa membayar Rp 2 triliun jika ada rekening lain yang tak diketahui PPATK.
Namun, berdasarkan pengamatan PPATK, jumlah saldo semua rekening Heriyanti masih jauh dari Rp 2 triliun.
"Kecuali kalau tiba-tiba ada informasi lain bahwa ada rekening lain yang tidak terkait kemudian ini muncul dan memberikan uangnya, mungkin persoalannya lain," katanya.
"Tapi kalau hasil analisis kita di lapangan sudah jelas mengatakan bahwa ini tidak mungkin terpenuhi."
"Tidak cuma tidak mungkin terpenuhi, terlalu jauh dari setengahnya juga."