Breaking News:

Virus Corona

Kenali Badai Sitokin pada Pasien Covid-19, Bisa Sebabkan Masalah Serius seusai Isoman atau Sembuh

Badai sitokin bukanlah nama penyakit, tetapi badai sitokin disebutkan dapat menyebabkan masalah serius pada pasien Covid-19. 

Penulis: Afzal Nur Iman
Editor: Lailatun Niqmah
Kompas.com
Ilustrasi isolasi mandiri. Badai Sitokin mengintai pasien Covid-19 meski telah sembuh atau selesai isolasi mandiri, kenali penyebab dan gejalanya. 

TRIBUNWOW.COM -  Badai sitokin bukanlah nama penyakit, tetapi badai sitokin disebutkan dapat menyebabkan masalah serius pada pasien Covid-19

Bahkan, badai sitokin juga dikatakan masih mengintai pasien Covid-19 meski telah sembuh atau selesai menjalani isolasi mandiri

Badai sitokin (cytokine storm) terjadi ketika tubuh melepaskan terlalu banyak sitokin ke dalam darah dalam jangka waktu yang sangat cepat.

Kondisi ini membuat sel imun justru menyerang jaringan dan sel tubuh yang sehat, sehingga menyebabkan peradangan.

Baca juga: Bukan Karena Virus, Ini Penyebab Pasien Covid-19 Bisa Alami Insomnia Bahkan seusai Isolasi Mandiri

Baca juga: Lebih Baik Tidak Isolasi Mandiri di Rumah, Pasien dengan Obesitas Bisa Tingkatkan Keparahan Covid-19

"Sebenarnya ini adalah reaksi kekebalan tubuh kita secara berlebihan, penyebabnya infeksi, salah satunya infeksi Covid, tapi bisa juga infeksi yang lain seperti influenza," kata dokter spesialis penyakit dalam, dr. Jeffri Aloys Gunawan, Sp.PD, dalam tayangan Youtube KOMPASTV yang tayang pada Kamis, (10/7/2021).

Selain infeksi virus, yang bisa menyebabkan badai sitokin adalah kanker atau penyakit autoimun.

Badai sitokin akan menyebabkan peningkatan peradangan atau inflamasi. 

"Peradangan ini nantinya bisa menyebabkan gangguan fungsi dari organ-organ tubuh kita, jadi enggak cuma satu tapi bisa beberapa organ sehingga terjadi kegagalan organ," jelasnya. 

Gejala badai sitokin juga menyerupai gejala peradangan pada umumnya yaitu demam dan mengigil, kelelahan, pembengkakan, mual dan muntah, nyeri otot, sakit kepada, dan ruam. 

Selain itu, badai sitokin juga bisa menyebabkan batuk, sesak napas, napas cepat, kejang, kesulitan mengkoordinasikan gerakan, kebingungan hinga halusinasi. 

"Memang bisa beberapa gejala sekaligus, jadi bisa sesak dan demam sekaligus dan bisa juga gejala terkait kerusakan organnya," kata dr. Jeffri. 

"Jadi gejalanya bisa banyak karena tadi sifatnya tadi dia menyebabkan banyak organ."

Kondisi badai sitokin lebih mudah menyerang orang yang memiliki komorbid. 

Tetapi ada kemungkinan juga pasien tanpa komorbid mengalami badai sitokin. 

"Ada faktor genetik juga ternyata dari badai sitokin, jadi adanya suatu efek kelainan gen yang menyebabkan jika kita infeksi menjadi mudah mencetuskan respons yang bisa berlebihan, jadi keturunan juga," ujarnya. 

Dokter spesialis penyakit dalam, dr. Jeffri Aloys Gunawan, Sp.PD, dalam tayangan Youtube KOMPASTV yang tayang pada Kamis, (10/7/2021).
Dokter spesialis penyakit dalam, dr. Jeffri Aloys Gunawan, Sp.PD, dalam tayangan Youtube KOMPASTV yang tayang pada Kamis, (10/7/2021). (Youtube KOMPASTV)

Baca juga: Perlukah Konsumsi Vitamin D Dosis Tinggi bagi Pasien Covid-19 saat Isoman? Ini Penjelasannya

Halaman
12
Tags:
Virus CoronaCovid-19Isomanisolasi mandiriTips Kesehatan
Berita Terkait
ANDA MUNGKIN MENYUKAI
AA

BERITA TERKINI

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved