Breaking News:

Virus Corona

Media Asing Sebut Indonesia Jadi Negara Terburuk di Dunia dalam Atasi Covid-19, Ini Kata Epidemiolog

Dalam laporannya, Indonesia berada di peringkat 53 dari 53 negara yang dianalisis oleh Bloomberg, terkait penanganan Covid-19.

Editor: Lailatun Niqmah
Instagram/@jokowi
Presiden RI Joko Widodo (Jokowi) meninjau vaksinasi massal di Tennis Indoor Senayan, Jakarta, 16 Juni 2021. Pandemi Covid-19 di Indonesia yang terus mengalami peningkatan membuat RI dinobatkan sebagai negara terburuk dalam penanganan Covid-19 oleh Bloomberg, Sabtu (31/7/2021). 

Namun, Bloomberg menemukan adanya kesenjangan akses vaksinasi antara negara kaya dan miskin di dunia.

Seperti yang dikhawatirkan oleh Kepala Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) Tedros Adhanom Ghebreyesus tentang "bencana kegagalan moral" untuk akses vaksinasi Covid-19 bagi setiap orang.

Peringkat ketahanan Covid-19 di 53 negara disusun oleh Bloomberg untuk menggambarkan wilayah yang memiliki penanganan Covid-19 paling efektif meski ada gangguan sosial dan ekonomi.

Baca juga: Tertibkan Prokes Covid-19, Oknum Anggota TNI Diduga Aniaya 2 Pelajar hingga Babak Belur

Tanggapan Ahli Epidemiolog

Epidemiolog dari Universitas Griffith Australia, Dicky Budiman, ikut menanggapi laporan dari media asing, Bloomberg yang menyebut Indonesia jadi negara terburuk dalam menangani Pandemi Covid-19.

Dicky mengatakan, sebelum Bloomberg mengeluarkan data tersebut, ia telah lebih dulu memprediksi hal serupa.

Dalam prediksinya, Indonesia akan menjadi negara terakhir yang keluar dari pandemi Covid-19, dibandingkan dengan negara-negara lain di dunia.

"Saya sudah sampaikan dari jauh hari, sayangnya prediksi ini tidak menjadi dasar strategi mitigasi."

"Dasar mengeluarkan estimasi ini untuk mencegah hal itu terjadi. Ternyata satu minggu analisa saya keluar, Blomberg juga mengeluarkan data," kata Dicky, dikutip dari tayangan Youtube tvOne, Sabtu (31/7/2021).

Dicky membeberkan, ada beberapa alasan obyektif mengapa Indonesia disebut sebagai negara terburuk dalam menangani Covid-19.

Ahli Epidemiologi Indonesia dan Peneliti Pandemi dari Griffith University, Dicky Budiman.
Ahli Epidemiologi Indonesia dan Peneliti Pandemi dari Griffith University, Dicky Budiman. (dok pribadi)

 

Namun, yang selalu disoroti Dicky dan menjadi dasar penanganan pandemi adalah kurangnya kapasitas Indonesia dalam melakukan testing, tracing, dan treatment atau 3T.

"Pertama yang selalu mendasar itu adalah di kapasitas kita untuk menemukan kasus infeksi, terutama 3T (testing, tracing, treatment)," ungkap Dicky.

Selain itu, Dicky menyebut, faktor negara kepulauan di Indonesia menjadi tantangan tersendiri dalam menangani Covid-19.

Pasalnya, dinamika kasus Covid-19 di setiap pulau di Indonesia bisa berbeda-beda.

Padahal, jika sejak awal dilakukan pencegahan yang sama, di setiap pulaunya, maka akan lebih mudah menanganinya.

Halaman
123
Sumber: Tribunnews.com
Tags:
EpidemiologVirus CoronaCovid-19Bloomberg
Berita Terkait
ANDA MUNGKIN MENYUKAI
AA

BERITA TERKINI

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved