Terkini Daerah
Modal Nekat Chat Kapolda Aceh, Siswi SMA Ini Menahan Tangis Curhat Minta Dikirimi Ban Bekas
Berani mengirim pesan pribadi ke Kapolda Aceh, Siswi SMA di Aceh tak menyangka pesannya bakal ditanggapi secara serius.
Penulis: anung aulia malik
Editor: Lailatun Niqmah
TRIBUNWOW.COM - Hanya bermodal keberanian dan nekat, Tia Rahmadhani, seorang siswi sekolah menengah atas (SMA) asal Aceh, memberanikan diri untuk mengirim pesan atau chat kepada Kapolda Aceh lewat media sosial (medsos).
Gadis asal Gampong Deah Pangwa, Kecamatan Trienggadeng, Kabupaten Pidie Jaya, Aceh, itu bahkan mengaku tak mengira jika pesannya ditanggapi serius oleh Kapolda Aceh.
Saat ditanyakan dorongan dan alasan menghubungi Kapolda Aceh, Tia nampak menahan diri untuk tidak menangis hingga suaranya bergetar dan matanya berkaca-kaca.

Baca juga: Pengamen Ditembak dan Dibacok OTK, Keluarga Korban Berniat Utang agar Bisa Lapor Polisi: Untuk Visum
Baca juga: Fakta Viral Ibu Kejar Penjambret HP Anak sampai Tersungkur ke Aspal, Nangis Tak Mampu Beli Gantinya
Cerita Tia diunggah dalam akun Instagram @divisihumaspolri, Senin (19/7/2021).
Tia yang bercita-cita menjadi jaksa atau polisi wanita itu menghubungi Kapolda Aceh untuk meminta dikirimi ban bekas, dan bambu guna keperluan budidaya tiram di desanya.
"Saya cuma kenal Pak Kapolda melalui media sosial dan media massa," kata Tia.
"Awalnya saya pesimis mana mungkin seorang Bapak Kapolda Aceh membalas DM saya seorang siswi biasa."
Tia tak menyangka dalam hitungan jam, pesan pribadinya langsung dibalas oleh akun Kapolda Aceh.
"Saya sangat terkejut dan sangat terharu," ujarnya.
Berawal dari pesan itu, dirinya menerima bantuan berupa 40 ban mobil bekas, jaring, tali, serta peralatan lainnya untuk budidaya tiram.
Menahan Tangis saat Cerita
Saat ditanyakan alasannya, Tia mengaku merasa kasihan dengan masyarakat di desanya yang mayoritas berprofesi sebagai pencari tiram.
"Tia sebenarnya membantu masyarakat itu, Tia merasa iba karena setiap dua bulan sekali masyarakat di sekitar rumah Tia harus naik pickup jam 3 pagi ke Banda Aceh," ujar dia.
Ketika menceritakan lebih spesifik soal kehidupan keluarganya, Tia mulai terlihat sedih.
"Tia kasihan dengan perekonomian masyarakat," kata Tia dengan mata yang mulai berkaca-kaca.