Breaking News:

Terkini Daerah

Terus Diperas, Eks Calon Walkot Siantar Jadi Otak Pembunuhan Wartawan, Oknum TNI Jadi Eksekutor

Kasus pembunuhan wartawan media online di Pematangsiantar, Sumatera Utara, Marsal Harahap, akhirnya terungkap.

HO/Tribun Medan
Kapolda Sumut Irjen RZ Panca Simanjuntak saat memaparkan kasus tembak mati wartawan media online Mara Salem Harahap alias Marsal di Siantar, Kamis (14/6/2021) 

TRIBUNWOW.COM - Kasus pembunuhan wartawan media online di Pematangsiantar, Sumatera Utara, Marsal Harahap, akhirnya terungkap.

Dilansir TribunWow.com, ternyata otak pembunuhan terhadap wartawan tersebut adalah mantan calon wali kota Pematangsiantar, Sujito.

Saat dihadirkan dalam konferensi pers di Polres Siantar, Kamis (24/6/2021), Sujito mengaku membayar oknum TNI untuk menembak korban.

Namun, ia menyebut tak bermaksud menembak korban hingga tewas.

Mulanya Sujito hanya ingin membuat korban cacat setelah ditembak.

Kapolda Irjen Pol Panca Putra Simanjuntak dan Pangdam I Bukit Barisan Mayjen TNI Hasanuddin menunjukkan barang bukti kasus pembunuhan Mara Salem Harahap di Kantor Polres Siantar, Kamis (24/6/2021). Mara Salem Harahap alias Marsal dibunuh karena sering memberitakan KTV Ferrari sebagai tempat peredaran narkoba. Foto kanan: Sujito selaku otak pembunuhan Marsal.
Kapolda Irjen Pol Panca Putra Simanjuntak dan Pangdam I Bukit Barisan Mayjen TNI Hasanuddin menunjukkan barang bukti kasus pembunuhan Mara Salem Harahap di Kantor Polres Siantar, Kamis (24/6/2021). Mara Salem Harahap alias Marsal dibunuh karena sering memberitakan KTV Ferrari sebagai tempat peredaran narkoba. Foto kanan: Sujito selaku otak pembunuhan Marsal. (Kolase (HO / Tribun Medan) dan (TRIBUN MEDAN/ALIJA MAGRIBI))

Baca juga: Kronologi Penembakan Wartawan Media Online di Medan, Korban Sempat Minta Ekstasi ke Pelaku

Baca juga: Soal Kasus Oknum TNI Tembak Wartawan di Siantar, Polisi Temukan 2 Senjata Ini di Mobil Korban

Kepada polisi, Sujito mengaku kesal karena korban terus memerasnya.

"Saya sebenarnya mau beri shock teraphy. Cuma saya mengatakan, ini (korban) mau buat rusuh," kata Sujito, dikutip dari TribunMedan.com, Jumat (25/6/2021).

"Kalau enggak dibedil (ditembak), enggak bisa. Baru ada ketakutan dibuatnya."

Pernyataan serupa juga diungkapkan karyawan Sujito yang bekerja di diskotek Ferari Kafe Bar and Resto, Yudi.

Ia mengaku selama ini memang resah karena terus diancam korban.

Menurut Yudi, korban terus mengancam akan menyebarkan berita peredaran narkotika di diskotek itu jika Sujito tak memberi uang Rp 12 juta setiap bulannya.

Karena merasa resah, Yudi pun ikut merencanakan penembakan korban.

Oknum TNI Bayaran

Penembakan itu melibatkan seorang oknum TNI bernisial AS.

Kapolda Sumatera Utara, Irjen RZ Panca Putra Simanjuntak mengatakan polisi memeriksa 57 saksi demi menyelidiki kasus ini.

"Modus operandi yang dilakukan oleh pelaku dan motif adalah tumbuhnya rasa sakit hati oleh S (Sujito) selaku pemilik pemilik kafe dan resto terhadap korban yang selalu memberitakan peredaran narkotika di tempatnya," terang Panca.

Senada dengan Sujito, selama ini korban selalu meminta imbalan uang agar berita peredaran narkoba di diskotik tak diedarkan.

Selain uang, korban juga meminta Sujito memberi 2 butir ekstasi setiap bulannya.

"Korban meminta uang sejumlah Rp 12 juta/bulan dan perharinya meminta 2 butir ekstasi, bisa dibayangkan teman teman?," sambungnya.

Kesal terus diperas, Sujito lantas memanggil Yudi untuk merencanakan penembakan.

Halaman
123
ANDA MUNGKIN MENYUKAI
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved