Breaking News:

Isu Kudeta Partai Demokrat

Sebut Alasan Tak Minta Persetujuan Jokowi soal KLB, Moeldoko: Saya Juga Khilaf Tak Beritahu Keluarga

Kepala Kantor Staf Presiden (KSP) Moeldoko pergi mendatangi kongres luar biasa (KLB) di Deliserdang, Sumut, tanpa sepengetahuan Presiden Joko Widodo.

Penulis: Noviana Primaresti
Editor: Maria Novena Cahyaning Tyas
Istimewa
Kepala Staf Kepresidenan (KSP) Moeldoko buka suara terkait kekisruhan dua kubu dalam badan partai Demokrat, Minggu (28/3/2021). 

TRIBUNWOW.COM - Kepala Kantor Staf Presiden (KSP) Moeldoko diketahui pergi mendatangi kongres luar biasa (KLB) di Deliserdang, Sumatera Utara, tanpa sepengetahuan Presiden RI Joko Widodo (Jokowi).

Bahkan, ia sama sekali tak memberitahu keluarganya dan mengaku hal itu merupakan kekhilafan sebagai manusia.

Moeldoko menekankan bahwa Jokowi tak ada sangkut pautnya dalam polemik partai Demokrat dan mengaku keputusan yang diambil berasal dari otoritas pribadinya.

Ketua Umum Partai Demokrat versi KLB Sumut, Moeldoko memberikan pidato perdana di arena Kongres Luar Biasa (KLB) di The Hill Hotel, Sibolangit, Kabupaten Deliserdang, Jumat (5/3/2021) malam.
Ketua Umum Partai Demokrat versi KLB Sumut, Moeldoko memberikan pidato perdana di arena Kongres Luar Biasa (KLB) di The Hill Hotel, Sibolangit, Kabupaten Deliserdang, Jumat (5/3/2021) malam. (TRIBUN MEDAN / M FADLI TARADIFA)

Baca juga: Kubu KLB Angkat Isu Hambalang, Demokrat Nilai Moeldoko dkk Frustasi: Sudah Malu

Baca juga: Heran Jokowi Tak Tahu Pergerakan Moeldoko dalam KLB Demokrat, Pengamat Politik: Tidak Bertanya?

Melalui penuturannya dalam video yang diterima TribunWow.com, Minggu (28/3/2021), Moeldoko buka suara mengenai KLB Deliserdang yang dihadirinya.

Ia mengaku menerima pinangan partai Demokrat versi KLB lantaran mencium adanya kekisruhan dalam badan partai.

Selain itu, Moeldoko juga berbicara mengenai keputusannya untuk menerima saat ditunjuk menjadi Ketua Umum (Ketum) Partai Demokrat versi KLB Deliserdang.

Menurut tokoh militer tersebut, ia menerima penobatan diri sebagai ketua umum atas pertimbangannya secara pribadi.

Ia tak memberitahu Jokowi masalah tersebut lantaran tak ingin membebani sang pemimpin negara.

"Terhadap persoalan yang saya yakini benar dan itu atas otoritas pribadi yang saya miliki, maka saya tidak mau membebani presiden," tutur Moeldoko.

Ia menuturkan tak memberitahu keluarganya karena lalai.

Meski begitu, Moeldoko mengambil risiko tersebut tanpa masukan dari keluarga sebagai bentuk bakti pada negara.

Oleh sebab itu, Moeldoko berpesan agar Jokowi tak dikait-kaitkan dengan penobatannya menjadi Ketum.

"Saya juga khilaf sebagai manusia biasa tidak memberitahu kepada istri dan keluarga saya atas keputusan yang saya ambil."

"Tetapi saya juga terbiasa mengambil risiko seperti ini, apalagi demi kepentingan bangsa dan negara."

"Untuk itu jangan bawa-bawa Presiden dalam persoalan ini," tandasnya.

Baca juga: Detik-detik Kubu AHY Tertawa saat Kubu Moeldoko Sebut Nazaruddin Siap Bersihkan Demokrat

Baca juga: Reaksi Politisi Demokrat Kubu Moeldoko saat Disebut Gerombolan Liar hingga KLB Gagal

Khawatirkan Nama Jokowi Dibawa-bawa

Semenara itu, pengamat komunikasi politik Ade Armando menilai Kepala Kantor Staf Presiden (KSP) Moeldoko sebaiknya mundur dan fokus di Partai Demokrat.

Dilansir TribunWow.com, hal itu ia sampaikan dalam tayangan di kanal YouTube Cokro TV, Senin (8/3/2021).

Diketahui Moeldoko baru saja terpilih menjadi Ketua Umum Partai Demokrat versi kongres luar biasa (KLB) yang diadakan di Deliserdang, Sumatera Utara, akhir pekan lalu.

Menurut Ade, pemilihan Moeldoko menjadi penting mengingat posisinya yang dekat dengan Istana.

"Sebenarnya kisruh perebutan kekuasaan dalam parpol memang kisah biasa. Tapi dalam pertarungan ini menjadi luar biasa karena ada nama Pak Moeldoko, Ketua KSP, yang terpilih menggantikan AHY (Agus Harimurti Yudhoyono)," papar Ade Armando.

Ia menyinggung nama Presiden Joko Widodo (Jokowi) juga diseret dalam upaya kudeta Demokrat.

Tidak hanya itu, ada beberapa tuduhan yang menyebut Jokowi adalah dalang di balik perpecahan Demokrat.

"Tak terhindarkan orang pun menyebut-nyebut nama Presiden Jokowi," kata Ade.

"Salah satu tuduhannya Jokowi adalah mastermind penggulingan kekuasaan. Buat saya tuduhan ini tak masuk akal, tapi bisa dipahami juga kalau isu ini akan terus bergulir," jelasnya.

Ade menyinggung sebelumnya kubu pendukung AHY telah mengirim surat kepada Jokowi untuk bertanya tentang keterlibatan Moeldoko dalam upaya kudeta.

Surat itu tidak dibalas Jokowi.

Mengingat dampaknya kepada kepala negara, Ade menyarankan Moeldoko menyerahkan jabatannya.

"Karena itu dalam pandangan saya, sebaiknya Moeldoko mundur saja dari posisi Ketua KSP," saran Ade.

"Sementara Moeldoko masih di lingkar dalam Istana, presiden pasti akan terus dibawa-bawa," lanjut pengamat politik ini.

Selain itu, Ade menilai Moeldoko tidak akan merasa banyak kehilangan jika mengundurkan diri dari KSP.

"Lagipula bagi Moeldoko sendiri tidak penting juga untuk terus bertahan di posisi Ketua KSP," ungkit Ade.

"Jadi mestinya no big deal, dia tidak akan kehilangan banyak," lanjutnya.

"Logis saja kalau dia lebih baik berkonsentrasi di Partai Demokrat karena dia harus memimpin upaya konsolidasi internal yang butuh perhatian, energi, dan waktu," tambah Ade Armando. (TribunWow.com/ Via,Brigitta)

Berita lain terkait Isu Kudeta Partai Demokrat

Tags:
Isu Kudeta Partai DemokratPartai DemokratKLB Partai DemokratMoeldokoPresiden Joko Widodo (Jokowi)KLB Deliserdang
Berita Terkait
ANDA MUNGKIN MENYUKAI
AA

BERITA TERKINI

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved