Terkini Internasional
Tak Mau Tembak Demonstran, Ini Kisah Polisi Myanmar yang Pilih Mengungsi ke India: Tak Berbuat Jahat
Para polisi Myanmar mengungkapkah momen mereka membangkang dari atasan mereka, dan mengungsi ke India. Ini kisahnya.
Editor: Rekarinta Vintoko
TRIBUNWOW.COM - Para polisi Myanmar mengungkapkah momen mereka membangkang dari atasan mereka, dan mengungsi ke India.
Kepada Sky News, penegak hukum yang mencari suaka itu mengatakan mereka diperintahkan menembak dan menyiksa demonstran.
"Saya tak bisa menembak bangsa saya sendiri, atau menyiksa orang yang jelas tak berbuat kejahatan," kata salah satunya.

Baca juga: Pasukan Keamanan Myanmar Bunuh 12 Orang Tak Bersenjata dalam Aksi Protes, Termasuk Anak 13 Tahun
Polisi yang berusia 26 tahun mengatakan, pengunjuk rasa itu tidak bersalah.
Sebab mereka hanya menyuarakan aspirasi secara damai.
Memutuskan membangkang dari perintah junta militer, sejumlah polisi itu memutuskan mengungsi ke India.
Salah satu penegak hukum yang bersembunyi menerangkan, dia kini mengkhawatirkan keluarga yang ditinggalkannya.
Baca juga: Aksi Biarawati Menangis dan Berlutut di Depan Militer Myanmar, Siap Mati demi Lindungi Demonstran
Dia mengaku mempunyai istri dan putra yang masih berusia dua tahun.
"Saya khawatir terhadap mereka," kata dia.
Apalagi, junta militer sudah mengancam bakal menahan setiap anggota keluarga dari polisi yang mengungsi.
Anggota lain, yang kabur bersama keluarganya menerangkan, mereka tidak ingin hidup dalam kekuasaan junta.
"Kami tidak bisa hidup damai bersama mereka. Saya siap mengorbankan nyawa bagi demokrasi jika dibutuhkan," tegasnya.
Dilansir Sabtu (13/3/2021), keterangan mereka mengungkapkan detil seperti apa perintah yang diberikan kepada pihak berwajib.
Baca juga: Viral di Twitter, Ini Sosok Mahasiswi yang Ditembak di Kepala oleh Militer Myanmar, Dijuluki Angel
Sebelumnya, PBB sudah mengecam dan menuding Tatmadaw, nama kantor junta militer Myanmar, menggunakan kekuatan mematikan ke demonstran.
Total, sudah ada 75 orang tewas dalam aksi protes menentang kudeta yang dilakukan militer pada 1 Februari lalu.