Banjir Jakarta
Sebut Anies Baper ke Jokowi dan Ahok, Ade Armando: Tak Mau Lanjutkan Pendahulunya soal Banjir
Pakar komunikasi politik Ade Armando menilai penanganan banjir oleh Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan berbeda dengan dua pendahulunya.
Penulis: Brigitta Winasis
Editor: Claudia Noventa
TRIBUNWOW.COM - Pakar komunikasi politik, Ade Armando, menilai penanganan banjir oleh Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan berbeda dengan dua pendahulunya, Joko Widodo (Jokowi) dan Basuki Tjahaja Purnama (Ahok).
Dilansir TribunWow.com, hal itu ia sampaikan dalam tayangan di kanal YouTube Cokro TV, Sabtu (20/2/2021).
Diketahui banjir melanda sejumlah titik di ibu kota sejak Sabtu dini hari.

Baca juga: Sebut Tak Adil jika Cuma Anies yang Dikritik soal Banjir, Refly Harun: Gugatlah Ganjar, Ridwan Kamil
Kepemimpinan Anies sebagai gubernur pun menuai sorotan, mengingat banjir selalu menjadi bencana tahunan.
"Anies terus menyatakan bahwa banjir 2021 terkendali. Pada 9 Februari dia bilang hanya ada 116 RT yang terkena banjir," kata Ade Armando.
"Kini tatkala cuaca menjadi semakin tak bersahabat dan wilayah banjir semakin meluas, Anies tak lagi bicara angka," lanjutnya.
Ia menyinggung keberadaan Tim Gabungan untuk Percepatan Pembangunan (TGUPP) dan Anies yang digaji mahal.
Menurut Ade, sebetulnya Anies dan TGUPP tahu persis apa yang harus dilakukan untuk mencegah banjir.
Ia lalu membandingkan dengan era kepemimpinan eks gubernur Jokowi dan Ahok.
Ade menyebut Anies terkesan terbawa perasaan (baper) soal kebijakan pendahulunya tersebut dalam mengendalikan banjir di Jakarta.
"Di era Jokowi dan Ahok, pengendalian banjir nyata terlihat," kata Ade Armando.
"Tapi mungkin karena memang baperan, Anies tidak mau melanjutkan kebijakan yang sudah dimulai pendahulunya itu," lanjut pakar komunikasi politik ini.
Baca juga: Sulit Kerja Sama dengan Anies Atasi Banjir, Buat Menteri PUPR Basuki Geram? PDIP Ungkap Faktanya
Diketahui sebelumnya, Anies menilai banjir bukan bencana alam, hanya masalah manajemen volume air.
"Tapi nyatanya dia tidak pernah menerapkan manajemen arus air dengan terencana dan sistematis," ungkap Ade.
Ia membandingkan saat Ahok menjabat diterapkan upaya pembebasan lahan bantaran sungai dari pemukim liar.
Para pemukim liar ini dipindahkan ke rumah susun dengan sistem sewa.
Namun, Anies tidak lagi melanjutkan program pembersihan bantaran sungai tersebut.
"Ahok menerapkan normalisasi sungai. Yang dilakukan adalah melebarkan daerah aliran sungai (DAS) sehingga air bisa dengan cepat mengalir ke laut," papar Ade.
"Ini yang dilecehkan Anies," komentarnya.
Lihat videonya mulai menit ke-4.00:
Menteri PUPR Basuki Marah-marah ke Anies soal Banjir
Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto mengungkap fakta Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Basuki Hadimuljono sempat kesal karena sulit bekerja sama dengan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan.
Dilansir TribunWow.com, diketahui sejumlah titik di ibu kota tengah berupaya mengatasi banjir tahunan yang terjadi pada musim hujan.
Gebrakan Anies pun dipertanyakan, mengingat ia pernah membanggakan DKI Jakarta tidak lagi banjir dalam masa kepemimpinannya.
Baca juga: Anies Baswedan Klaim Jakarta Dapat Kiriman Banjir dari Depok: Bukan dari Kawasan Puncak Bogor
Hasto lalu mengungkap Menteri PUPR sempat marah-marah karena sulit menangani banjir bersama Anies.
Hal itu ia sampaikan dalam acara Gerakan Penghijauan dan Bersih-Bersih Daerah Aliran Sungai (DAS), Cinta Ciliwung Bersih, di Waduk Cincin, Jakarta Utara.
"Pak Basuki, Menteri PU pun sampai marah-marah karena betapa sulitnya bekerja sama dengan pemimpin DKI tersebut,” kata Hasto Kristiyanto, dikutip dari Kompas.tv, Minggu (21/2/2021).

Ia mengingatkan banjir dapat sangat merugikan warga.
Hasto mengaku kediamannya pun turut terdampak banjir sejak tiga tahun terakhir, yakni terletak di Villa Taman Kartini, Bekasi.
“Selain lumpur di mana-mana, barang rusak, yang paling membuat khawatir adalah ular sering terbawa. Selain itu kecoa ada di mana-mana. Tempat menjadi terasa kumuh dan tentu saja ancaman penyakit," ungkap Hasto.
"Jadi saya bisa merasakan betapa susahnya warga Jakarta yang sering terdampak banjir," lanjutnya.
Hasto menambahkan, wajar jika tindakan Anies menuai kritik dan sorotan dari banyak pihak.
"Kalau saya mengkritik Pak Anies, itu karena bagian tanggung jawab pemimpin guna mengantisipasi banjir," tegas Hasto.
Dikutip dari Wartakotalive.com, sebelumnya Anies menyebut curah hujan ekstrem pada Sabtu (20/2/2021) dini hari menyebabkan banjir di DKI Jakarta.
Baca juga: Jakarta Banjir Lagi, PDIP Tagih Janji Anies Baswedan Selama Jadi Gubernur: Tidak Lakukan Apa-apa
"Kapasitas sistem drainase Jakarta itu berkisar 50-100 milimeter, bila terjadi hujan di atas 100 milimeter per hari maka pasti terjadi genangan," kata Anies Baswedan saat memantau Pintu Air Manggarai, Sabtu.
Ia mengutip hasil pantauan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) terkait intensitas hujan di Jakarta dan daerah penunjang di sekitarnya.
"Di Pasar Minggu berdasarkan catatan BMKG itu curah hujan sampai 226 milimeter, di Sunter Hulu 197 milimeter, di Halim sampe 176 milimeter, di Lebak bulus 154 milimeter. Semua angka di atas 150 adalah kondisi ekstrem," papar Anies.
Tidak hanya itu, ia menyebut daerah-daerah di sekitar Jakarta turut mengirimkan genangan air.
"Air kiriman dari hulu (Bogor) dan kawasan tengah (Depok) sekarang dalam perjalanan nih ke Jakarta. Dalam perjalanannya itu tentu berdampak pada kawasan-kawasan yang ada di sekitarnya," terangnya. (TribunWow.com/Brigitta)