Ustaz Maaher Meninggal Dunia
Komnas HAM Desak Usut Kematian Ustaz Maaher, Rocky Gerung: Mereka Hasil Tukar Tambah Politik
Akademisi Rocky Gerung menanggapi desakan Komnas HAM untuk mengusut meninggalnya Ustaz Maaher At-Thuwailibi.
Penulis: Brigitta Winasis
Editor: Tiffany Marantika Dewi
TRIBUNWOW.COM - Akademisi Rocky Gerung menanggapi desakan Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) untuk mengusut meninggalnya Ustaz Maaher At-Thuwailibi.
Dilansir TribunWow.com, hal itu ia sampaikan melalui kanal YouTube Rocky Gerung Official, Rabu (10/2/2021).
Diketahui tersangka kasus ujaran kebencian Soni Eranata alias Ustaz Maaher At-Thuwailibi meninggal dunia di Rumah Tahanan (Rutan) Bareskrim Polri akibat sakit yang sudah lama dideritanya.

Baca juga: 5 Fakta Ustaz Maaher Meninggal: Sakit saat Ditahan, Pesan Yusuf Mansur, hingga Alasan Polisi Bungkam
Komnas HAM kemudian mendesak penyebab kematian Ustaz Maaher diusut, meskipun pihak keluarga sudah mengonfirmasi sang pendakwah tutup usia karena penyakit dalam.
Menanggapi hal itu, Rocky Gerung menilai kasus ini menarik.
"Ini tema yang menarik. Menariknya bukan karena tema itu seksi, tetapi berbahaya," komentar Rocky Gerung.
Ia menganalisis ada dua alasan Komnas HAM terkesan hati-hati menangani topik kematian Ustaz Maaher.
"Saya bayangkan bahwa Komnas HAM bertindak hati-hati dan terlihat ketakutan karena dua hal," ungkapnya.
Rocky memperkirakan para tokoh di dalam Komnas HAM sedang ketakutan karena ditekan kekuasaan.
"Satu, individunya ditekan habis-habisan oleh kekuasaan," kata Rocky.
"Artinya tekanan itu melampaui daya tahan subjektif dari masing-masing tokoh Komnas HAM. Ini tokohnya dulu ya, bukan sebagai lembaga," lanjut dia.
Baca juga: Terkait Ali Jaber, Yusuf Mansur Pilih Makamkan Ustaz Maaher di Darul Quran: Aslinya Buat Keluarga
"Jadi tekanan itu sangat kuat, maka Komnas HAM akan kirim sinyal, 'Saya enggak akan datang'," tambah pengamat politik ini.
Ia tidak menampik ada kemungkinan tekanan itu dalam bentuk kekerasan fisik.
"Kita bayangkan itu sebagai tekanan kekuasaan terhadap individu-individu. Mungkin tekanan fisik, kekerasan, atau political bribery (suap politik)," ungkit Rocky.
Alasan kedua yang ia kemukakan adalah Komnas HAM menjadi perantara kekuasaan yang tiap komisionernya ditunjuk demi politik.