Breaking News:

Terkini Nasional

Jadi Korban Rasisme, Natalius Pigai Mengaku Telah Biasa: Kalau Dihitung Sudah Mencapai Jutaan

Mantan Komisioner Komnas HAM, Natalius Pigai jadi korban kasus dugaan rasisme oleh Ketua Relawan Pro Jokowi-Maruf Amin (Pro Jamin), Ambroncius Nababan

Youtube/Official iNews
Mantan Komisioner Komnas HAM, Natalius Pigai jadi korban kasus dugaan rasisme oleh Ketua Relawan Pro Jokowi-Maruf Amin (Pro Jamin), Ambroncius Nababan 

TRIBUNWOW.COM - Mantan Komisioner Komnas HAM, Natalius Pigai menjadi korban kasus dugaan rasisme oleh Ketua Relawan Pro Jokowi-Maruf Amin (Pro Jamin), Ambroncius Nababan.

Dilansir TribunWow.com, Natalius Pigai mengaku sudah biasa mendapat perlakukan rasisme.

Ia mengaku sudah sering mendapatkan perlakuan rasis, bukan hanya yang saat ini dilakukan oleh Ambroncius.

Hal itu diungkapkannya dalam acara iNews Room yang tayang di kanal YouTube Official iNews, Selasa (26/1/2021).

Mantan Komisioner Komnas HAM Natalius Pigai mendaftarkan diri sebagai calon pimpinan (capim) KPK pada Kamis (4/7/2019 di Kantor Setneg, Jakarta.
Mantan Komisioner Komnas HAM Natalius Pigai mendaftarkan diri sebagai calon pimpinan (capim) KPK pada Kamis (4/7/2019 di Kantor Setneg, Jakarta. (Tribunnews.com/Theresia Felisiani)

Baca juga: Diduga Lakukan Rasisme ke Natalius Pigai, Relawan Pro Jokowi-Maruf: Bukan Hina Masyarakat Papua

Baca juga: Bahas Kasus Natalius Pigai, Refly Harun Harap Tak Ada Lagi Relawan Mengatasnamakan Jokowi-Maruf Amin

"Yang pertama soal rasisme itu bukan hal baru bagi saya," ujar Natalius Pigai.

"Kalau hitung-hitung sudah mencapai jutaan. Jadi kalau satu orang buzzer misalnya dia rasis sama saya, di bawah itu masih ada ribuan," ungkapnya.

"Bahasanya sama, gorila, monyet, orang utan."

Natalius Pigai mengaku selalu menanggapi dengan santai setiap rasisme yang didapat.

Dirinya juga mengaku kurang mengerti kenapa banyak pihak yang tidak suka dengannnya hingga melakukan rasisme.

Terlebih menurutnya, apa yang dilakukan selama ini adalah positif, khususnya dalam memperjuangkan hak asasi manusia.

"Saya biasa saja, saya pemimpin. Saya memutuskan untuk membela orang-orang kecil yang membutuhkan pertolongan, orang lemah, orang yang tidak mendapatkan keadilan, orang yang mengalami ancaman islamophobia di seluruh Indonesia," ungkapnya.

"Saya menangani semua suku, Jawa, termasuk Batak."

Baca juga: Viral Rasisme pada Natalius Pigai, Refly Harun Kritik Jokowi: Belum Mampu Jadi Presiden Seutuhnya

Lebih lanjut, Natalius Pigai menduga perlakukan buruk kepada dirinya itu berkaitan dengan pekerjaan yang dijalani dalam membela HAM.

Dengan memutuskan membela orang-orang atau rakyat kecil, kaitannya dengan persoalan HAM maka secara langsung berhadapan dengan para pelaku pelanggaran HAM itu sendiri.

"Tentu kita akan melawan otoritas atau orang yang memegang otoritas karena pelaku pelanggaran HAM itu adalah aktor negara yang memiliki otoritas kekuasaan, uang, dan jabatan," jelas Natalius Pigai.

"Karena itu kita sudah tahu bahwa ancaman balik terhadap kita tidak hanya sekadar kekerasan verbal tapi juga pasti berpotensi kekerasan fisik," sambungnya.

Menurutnya, apa perlakukan buruk yang diterima bukan hanya sekadar ujaran rasisme melainkan juga kekerasan fisik.

"Saya pernah dipukul tiga tahun tidak sembuh-sembuh. Jadi yang begini aduh itu sudah biasa, karena itu konsekuensi dari pemimpin," terangnya.

"Pemimpin tidak boleh mengikuti riak satu persatu yang meneror kita."

Simak videonya mulai menit ke- 3.02

Refly Harun Soroti Latar Belakang Pigai: Wajar Prihatin soal HAM

Pakar hukum tata negara Refly Harun menyoroti kasus aktivis HAM asal Papua Natalius Pigai yang menjadi korban rasisme.

Dilansir TribunWow.com, hal itu ia sampaikan dalam tayangan di kanal YouTube Refly Harun, Minggu (24/1/2021).

Sebelumnya viral sebuah foto di media sosial yang menunjukkan Pigai disandingkan dengan foto gorila, disertai komentar terkait vaksin Covid-19.

Baca juga: Balasan Komnas HAM atas Komitmen Listyo Sigit Mengusut soal Pelanggaran HAM Tewasnya Laskar FPI

Foto itu sebelumnya diunggah kader Partai Hanura sekaligus Ketua Relawan Pro Jokowi-Amin (Projamin) Ambroncius Nababan.

Menanggapi kasus itu, Refly menyebut Pigai memang termasuk sosok yang sangat vokal terhadap kebijakan pemerintah, terutama terkait pelanggaran HAM yang terjadi bertahun-tahun di Papua.

"Orang seperti Natalius wajar saja kalau dia memiliki sebuah concern (prihatin) terhadap hak asasi manusia di Indonesia, karena dia adalah komisioner Komnas HAM. Sekarang tentu tidak lagi," singgung Refly Harun.

Ia menyebut Natalius tidak kunjung berhenti menyuarakan kasus-kasus pelanggaran HAM, terutama yang terjadi di Papua.

"Tetapi darahnya darah pemahaman terhadap hak asasi manusia," kata Refly.

"Terlebih dia berasal dari Papua yang so long time (sangat lama) mengalami persoalan dengan hak asasi manusia," jelas dia.

Baca juga: Viral Rasisme pada Natalius Pigai, Refly Harun Kritik Jokowi: Belum Mampu Jadi Presiden Seutuhnya

Sebagai contoh, Refly menyinggung kelompok kriminal bersenjata (KKB) di Papua yang kerap bentrok dengan TNI.

"Memang ada KKB di sana, tetapi kita harus pahami bahwa itu tidak semua orang Papua," ungkit pengamat politik ini.

"Hanya orang-orang tertentu saja," tambah Refly.

Refly menyebut kasus pelanggaran HAM yang terjadi di Papua sampai saat ini tidak kunjung diselesaikan pemerintah pusat, termasuk dalam era pemerintahan Presiden Joko Widodo (Jokowi).

"Selebihnya adalah justru cerita tentang pelanggaran hak asasi manusia, teman-teman kita dari Papua, yang sampai sekarang tentu belum bisa diselesaikan para penguasa," kata Refly.

"Tidak hanya oleh Presiden Jokowi, tetapi juga presiden-presiden sebelumnya," lanjut dia.

Selain itu, Refly menyebut masalah pelanggaran HAM kian bertambah dan tidak kunjung selesai.

"Belum ada yang berhasil menyelesaikan persoalan hak asasi manusia. Kecenderungannya adalah bertambah-tambah PR-nya," ungkap dia.

Lihat videonya mulai menit 12.00:

(TribunWow/Elfan/Brigitta)

Tags:
RasisNatalius PigaiAmbroncius Nababan
Berita Terkait
ANDA MUNGKIN MENYUKAI
AA

BERITA TERKINI

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved