Breaking News:

Virus Corona

Budi Sadikin Pakai Data KPU untuk Vaksinasi, Saleh Daulay: Berarti Selama Ini Data di Kemenkes Salah

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengatakan memilih untuk menggunakan data dari KPU untuk pendataan program vaksinasi Covid-19.

Penulis: Elfan Fajar Nugroho
Editor: Claudia Noventa
Youtube/KompasTV
Anggota Komisi IX DPR RI Fraksi PAN, Saleh Daulay dalam acara Sapa Indonesia Malam, Senin (25/1/2021). 

TRIBUNWOW.COM - Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengatakan memilih untuk menggunakan data dari Komisi Pemilihan Umum (KPU) untuk pendataan program vaksinasi Covid-19.

Bahkan Budi Sadikin mengaku tidak percaya dengan data yang dimiliki oleh pemerintah ataupun Kementerian Kesehatan.

Kondisi tersebut lantas menjadi pertanyaan terkait ada apa dengan pendataan di Kemenkes itu sendiri.

Di antaranya disampaikan oleh Anggota Komisi IX DPR RI Fraksi PAN, Saleh Daulay dalam acara Sapa Indonesia Malam, Senin (25/1/2021).

Baca juga: Rencana Vaksin Mandiri, Menkes Budi Sadikin Ungkap Hal Tak Diinginkan: Banyak Kemungkinan Bocornya

Baca juga: Kasus Covid-19 Terus Naik, Menkes Budi Gunadi Sadikin Akui Cara Testing Salah: Tidak Ada Gunanya

Saleh Daulay menyimpulkan bahwa ada yang tidak beres terkait pendataan di Kementerian Kesehatan.

"Ini Menteri Kesehatan juga berbicara bahwa Beliau kurang begitu percaya dengan data yang dimiliki Kementerian Kesehatan dan pemerintah," ujar Saleh Daulay.

"Dan sekarang malah Beliau meminta akan menggunakan data dari KPU ketika menjalankan Pilkada, berarti kan selama ini pendataan yang ada banyak yang salah," sambungnya.

"Ini kan menjadi problem besar juga."

Saleh Daulay lantas mempertanyakan pendataan yang selama ini dipakai dalam kurun waktu selama 10 bulan terakhir.

Dirinya juga mempertanyakan jika memang ada kesalahan dalam pendataan di Kemenkes dan pemerintah, kenapa baru disadari setelah penanganan pandemi Covid-19 sudah berjalan hampir setahun itu.

"Jadi kalau misalnya pendataannya salah, selama ini 10 bulan terakhir kita berkutat pada hal-hal yang salah," kata Saleh Daulay.

"Kalau kita mau memperbaiki ke depan ya tentu itu baik, tetapi kenapa harus sampai 10 bulan menyadari ada yang salah di situ," ungkapnya.

Baca juga: Dituduh Jadi Sales Bayaran Vaksin Covid-19, dr Tirta Ngamuk: Pak Joko Widodo Susah Payah

Lebih lanjut, Saleh Daulay mengaku akan mendukung langkah dari Budi Sadikin jika sekiranya memang itu benar.

Meski begitu, ia tetap meminta supaya dilakukannya evaluasi.

"Dan jujur saja apa yang disampaikan Pak Budi, kadang-kadang kalau kita lihat sepintas itu ini benar. Jadi kalau benar ya kita dukung," kata Saleh Daulay.

"Ini harus dievaluasi juga yang 10 bulan terakhir," pungkasnya.

Sementara itu terkait langkah ke depan, Saleh Daulay meminta pemerintah, khususnya Kementerian Kesehatan untuk memperhatikan testing dan tracing yang belakangan juga disebut salah oleh Budi Sadikin.

"Banyak hal, terutama masalah testing dan tracing yang biayanya mahal," jelasnya.

"Kemudian ini ada penemuan GeNos dari UGM yang akurasi 90 persen. Kenapa kita tidak mempercepat memproduksi alat ini supaya kemampuan testing dan tracing semakin meningkat," pungkasnya.

Simak videonya mulai menit ke-3.38:

Budi Sadikin Akui Cara Testing Salah: Tidak Ada Gunanya

Menteri Kesehatan, Budi Gunadi Sadikin, memberikan pengakuan mengejutkan soal sistem pemeriksaan (testing) Covid-19 di Indonesia.

Dilansir TribunWow.com, Budi Sadikin mengakui bahwa testing Covid-19 yang dilakukan selama ini salah.

Hal itu diungkapkan Budi Sadikin dalam acara "Vaksin dan Kita" yang diselenggarakan oleh Komite Pemulihan dan Transformasi Ekonomi Daerah Jawa Barat, Jumat (22/1/2021).

 

Baca juga: Erick Thohir Akhirnya Ungkap Alasan Pemerintah Utamakan Vaksin Covid-19 dari China

Dalam kesempatan itu, Budi Sadikin menyebut testing yang dilakukan berasa sia-sia.

Pasalnya kasus Covid-19 masih banyak dan terus bertambah meski sebenarnya sudah cukup melampaui rekomendasi dari WHO untuk pengetesan setiap minggunya.

"Testing, tracing, dan treatment (3T) serta isolasi bagaikan menambal ban bocor," ujar Budi Sadikin.

"Kita itu tidak disiplin. Cara testing-nya salah," ujar Budi Sadikin, dikutip dari YouTube KompasTV.

Menurut Budi Sadikin, kesalahannya adalah terdapat pada objek pengetesan.

"Testingnya banyak tapi kok naik terus? Habis yang dites orang kayak saya, setiap kali mau ke Presiden dites, tadi malam, barusan saya di-swab," ungkap Budi Sadikin.

"Seminggu saya bisa lima kali diswab kalau masuk istana. Emang benar (testing) seperti itu?" lanjutnya.

"Testing kan enggak gitu seharusnya. Testing epidemologi bukan testing mandiri," jelasnya.

Baca juga: Orang yang Sudah Kena Covid-19 Tak Bisa Divaksin Sinovac, Ini Daftar Kriterianya

Pria lulusan Fisika Nuklir ITB itu menegaskan bahwa testing yang benar harusnya sesuai dengan rantai penyebaran Covid-19 dengan menyasar orang-orang yang suspek.

"Yang dites itu orang yang suspek, bukan orang yang mau pergi, mau ketemu presiden," kata dia.

"Syarat WHO terpenuhi itu satu per seribu per minggu, tapi tidak ada gunanya testingnya secara epidemiologi," pungkasnya. (TribunWow/Elfan Fajar Nugroho)

Tags:
Budi Gunadi SadikinKomisi Pemilihan Umum (KPU)Saleh DaulayVirus CoronaKemenkesVaksinasi
Berita Terkait
ANDA MUNGKIN MENYUKAI
AA

BERITA TERKINI

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved