Breaking News:

Pesawat Sriwijaya Air Jatuh

Suasana Haru Tabur Bunga bagi Korban Sriwijaya Air, Keluarga Ikhlas: Bukan Kesedihan, tapi Keteguhan

Sejumlah keluarga korban jatuhnya pesawat Sriwijaya Air SJ 182 mengadakan upacara tabur bunga di sekitar perairan Kepulauan Seribu.

Penulis: Brigitta Winasis
Editor: Tiffany Marantika Dewi
Capture YouTube Kompas TV
Pihak keluarga korban Sriwijaya Air SJ 182 menabur bunga di perairan Kepulauan Seribu untuk memberikan penghormatan terakhir, Jumat (22/1/2021). 

"Walaupun judulnya perairan dangkal, tetap saja ada risiko penyelaman seperti decompression sickness atau kita sebutnya DCS," jelas Gandhi Singgih Nugroho.

Tim Penyelam Sriwijaya Air 182 menjalani terapi hiperbarik untuk mengatasi gejala dekompresi, Senin (18/1/2021).
Tim Penyelam Sriwijaya Air 182 menjalani terapi hiperbarik untuk mengatasi gejala dekompresi, Senin (18/1/2021). (Capture YouTube Kompas TV)

"Karena menggunakan tabung nitrogen, tetap ada risiko seperti itu," terangnya.

Ia menyebut ada dua tipe DCS dengan tingkat gejala yang berbeda.

Pada tipe yang lebih tinggi, penyelam yang mengalami DCS dapat kehilangan kesadaran.

"DCS itu dibagi dua. Tipe satu untuk yang lebih ringan. Gejalanya seperti kebas, kesemutan, pusing," papar Gandhi.

"Yang lebih beratnya itu tipe dua itu gejala-gejala seperti DCS tipe satu tapi ada tambahannya seperti sesak napas, bingung, apalagi sampai kehilangan kesadaran," lanjut dia.

Dalam terapi hiperbarik di ruangan khusus, tim penyelam akan dipasangi alat seperti masker oksigen.

Fungsinya untuk membilas nitrogen yang dihirup saat menyelam di dasar laut.

Baca juga: Video Bawah Laut Evakuasi Hari ke-7, Ada Potongan Sayap Berlogo Sriwijaya Air, Tepiannya Hangus

"Di luar kasus-kasus penyelaman DCS seperti yang saya bilang, fungsi ambulans yang ada di sini untuk nitrogen washout atau pembilasan," kata Gandhi.

"Di mana gas nitrogen yang dihisap penyelam itu kita buang dengan menggunakan ambulans chamber ini," lanjut dia.

Ruangan tersebut akan ditutup rapat dan membuat tim penyelam seolah-olah sedang berada di kedalaman laut.

Ruangan ini dikendalikan oleh alat khusus yang ada di luar.

Alat tersebut akan mengatur tekanan dan kedalaman laut di dalam ruangan.

"Untuk nitrogen washout atau pembilasan, kita seperti menyelam di kedalaman 18 meter. Makanya masuk di chamber ini seperti menyelam kering atau menyelam tanpa air," jelas Gandhi. (TribunWow.com/Brigitta)

Sumber: TribunWow.com
Tags:
Sriwijaya AirPesawatTabur bungaKepulauan SeribuBasarnas
Berita Terkait
ANDA MUNGKIN MENYUKAI
AA

BERITA TERKINI

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved