Breaking News:

Penanganan Covid

Anosmia, Delirium, dan Parosmia Jadi 3 Gejala Baru Covid-19

Penyakit Covid-19 yang disebabkan oleh Virus Corona baru, SARS-CoV-2, pertama kali teridentifikasi di Wuhan, China pada akhir 2019 lalu.

Editor: Claudia Noventa
sciencefocus.com
Ilustrasi Virus Corona 

TRIBUNWOW.COM - Penyakit Covid-19 yang disebabkan oleh Virus Corona baru, SARS-CoV-2, pertama kali teridentifikasi di Wuhan, China pada akhir 2019 lalu.

Sejak saat itu, para pakar dan ahli kesehatan masih terus melakukan penelitian untuk mengungkap hal-hal yang berkaitan dengan penyakit ini, salah satunya adalah gejala yang diderita pasien Covid-19.

Gejala umum yang muncul pada pasien Covid-19 antara lain demam, batuk, sakit kepala, sesak napas, dan kelelahan.

Seiring berjalannya waktu, para ahli berhasil mengidentifikasi gejala-gejala baru yang mengindikasikan adanya infeksi Virus Corona.

Baca juga: PSBB Serentak, Pelanggar Protokol Kesehatan di Zona Merah Covid-19 DKI Jakarta akan Ditindak Tegas

Baca juga: Tahapan dan Jadwal Lengkap Pelaksanaan Vaksinasi Covid-19, Ketersediaan Vaksin Jadi Pertimbangan

Berikut 3 gejala baru yang diderita oleh pasien Covid-19:

1. Anosmia

Mengutip Kompas.com, 5 Desember 2020, anosmia adalah istilah yang merujuk pada menghilangnya kemampuan indera penciuman.

Anosmia biasanya terjadi akibat cedera kepala, masalah dengan saluran hidung, atau infeksi virus yang parah pada saluran pernapasan bagian atas.

Melansir laman Harvard Medical School (HMS), anosmia merupakan gejala neurologis utama, dan merupakan salah satu indikator Covid-19 paling awal yang paling sering dilaporkan.

Para peneliti menemukan bahwa virus SARS-CoV-2 rupanya tidak menyerang neuron indera penciuman secara langsung, melainkan sel-sel pendukungnya.

“Penemuan kami menunjukkan bahwa Novel Coronavirus mengubah indera penciuman pada pasien tidak dengan langsung menginfeksi neuron tetapi dengan mempengaruhi fungsi sel pendukung,” kata Sandeep Robert Datta , profesor neurobiologi di Blavatnik Institute di HMS.

Menurutnya, anosmia pada kasus infeksi SARS-CoV-2 tidak akan merusak sirkuit penciuman secara permanen dan menyebabkan anosmia terus menerus.

Sehingga ketika sudah pulih, besar kemungkinan untuk indra penciuman pasien kembali.

Sementara itu, beberapa penelitian mengisyaratkan bahwa anosmia pada Covid-19 berbeda dengan anosmia yang disebabkan oleh infeksi virus lain, termasuk oleh Virus Corona lain.

Pada pasien Covid-19 biasanya pemulihan indra penciuman terjadi dalam waktu beberapa minggu.

Masa pemulihan ini jauh lebih cepat daripada waktu yang dibutuhkan untuk pulih dari anosmia yang disebabkan oleh infeksi virus lain yang diketahui secara langsung merusak neuron sensorik penciuman.

Baca juga: Vicky Prasetyo Terjangkit Covid-19: Swab Test PCR karena Kemarin Kalina Ocktaranny Positif Corona

2. Delirium

Mengutip Kompas.com, 11 Desember 2020, para peneliti dari Universitas Oberta de Catalunya (UOC), Barcelona, Spanyol, merilis sebuah studi pada awal November 2020.

Studi tersebut menyatakan bahwa delirium menjadi salah satu gejala yang muncul pada penderita Covid-19, terutama pada kelompok lanjut usia (lansia).

Delirium adalah perubahan tiba-tiba yang terjadi pada fungsi mental seseorang.

Halaman
12
Sumber: Kompas.com
ANDA MUNGKIN MENYUKAI
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved